
"Oh iya Lia. Jika ada waktu senggang aku akan mampir ke tokomu, ada hal penting yang ingin kuceritakan, ini tentang Sastra," ucap Nadine serius disela-sela langkahnya mengantar Bunga ke depan pintu.
Bunga mengerutkan keningnya, sejenak dia termenung kemudian mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu.
Sementara di luar klinik tampak Rama yang baru saja datang tergopoh-gopoh bahkan masih memakai jas putihnya, dia ingat hari ini jadwal Bunga menemui Nadine dan Rama datang bermaksud untuk mengantarnya pulang.
Namun, saat masuk dia melihat Sastra duduk di ruang tunggu sedang membolak-balikan surat kabar. Rama sudah menebak pasti Sastra juga sedang menunggu gadis itu.
"Bang ngapain Lo disini?" Rama berdiri tepat di hadapan Sastra
"Bukan urusan Lo!" Sastra menjawab datar dan kembali fokus pada koran yang dibacanya.
"Gue kasih tau ya Bang, jangan mimpi Lia bakal mau balikan lagi setelah apa yang udah Lo perbuat di masa lalu. Dia benci sama Lo! Lagipula gue dan kak Nadine yang selalu ada disaat dia terpuruk, bukan Lo Bang!" Rama berkata dengan berapi-api.
Sastra melipat dan menaruh koran yang dibacanya lalu berdiri sama tinggi dengan Rama.
__ADS_1
"Kenapa lo gak percaya diri gitu Ram? sampai-sampai harus memprovokasi
gue. Kalau yakin dia juga suka sama Lo, seharusnya percaya diri dan gak ketakutan dengan kemunculan gue. Tentang dia mau balikan lagi atau enggak sama gue, itu bukan urusan Lo! Lo sama sekali gak tahu perjalanan cinta gue sama dia! Atau jangan-jangan Lo ngerasa kalau di hatinya masih ada gue?" Sastra tersenyum sinis.
"Hahaha...." Rama tertawa sarkas.
"Lo terlalu percaya diri Bang! Kita lihat saja nanti!" Rama yakin bisa mempengaruhi Bunga agar tidak kembali pada Sastra, atau bila perlu dia akan melakukan cara apapun. Jika saja Nadine tahu Rama berbuat di luar kendali, maka dipastikan dia akan menghajar adiknya itu karena telah menyalah gunakan ilmu psikologinya untuk mencapai keinginan pribadi dengan cara yang salah.
Saat keduanya sedang bersitegang lalu muncullah Bunga berjalan menuju pintu keluar, keduanya secepat kilat menghampiri.
"Tadi kamu datang kesini bersamaku, bukankah sebaiknya aku juga yang mengantarmu pulang?" Sastra berusaha tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh Rama.
Bunga dilanda kebingungan. Di satu sisi ia merasa lebih nyaman dengan Sastra, tetapi di sisi lain dia juga merasa tidak enak hati pada Rama yang selalu berusaha meluangkan waktu untuknya setiap kali jadwal kontrol ke tempat Nadine.
"Aku mau pulang naik taksi, kalian lanjutkan saja urusan masing-masing," sahut Bunga merasa canggung pada keduanya.
__ADS_1
"Tidak boleh!" seru kedua lelaki itu serempak.
Bunga semakin bingung, kemudian ponsel Rama berdering. Rama mendapat telepon dari rumah sakit bahwa ada pasiennya yang mengamuk tak terkendali, dia diminta untuk segera datang karena keadaannya darurat.
"Sepertinya kamu sibuk?" Sastra menyeringai sementara Rama berdecak kesal karena dia harus mengalah untuk hari ini.
"Lia, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Ada hal darurat dan aku harus segera kembali ke rumah sakit, jika kamu tidak nyaman pulang bersamanya biar kupesankan taksi." Rama berucap sambil melirik ke tempat Sastra tengah berdiri.
"Aku bisa pesan sendiri, Kakak pergilah." Bunga berusaha tersenyum pada keduanya agar suasana mencair.
Sastra hanya menggedikkan bahunya dan mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Rama cepat pergi.
Dengan langkah berat Rama langsung tancap gas menuju rumah sakit walaupun dongkol setengah mati.
"Sial!" Dia mengumpat dan memukul setir mobilnya kesal.
__ADS_1