
Sore ini mereka sedang mengerjakan aktivitasnya masing-masing di apartemen. Yang satu sedang melipat pakaian dan yang satunya lagi tengah berkutat di dapur.
Tadi siang akhirnya keduanya berhasil lolos dari restoran setelah kucing kucingan supaya tidak terciduk oleh Bu Lili, mereka lebih mirip seperti pasangan kawin lari yang tidak di restui dan sedang berusaha melarikan diri.
Sastra dihukum melipat pakaian oleh Bunga karena memporak porandakan isi lemari gadis itu. Ia melipat semua pakaian dengan telaten dan rapi, bahkan lebih rapi dari para SPG yang bekerja di departement store.
Ketika sedang menata pakaian kedalam lemari Sastra tertawa sendiri. ia tidak pernah membayangkan seorang Sastra Prawira rela melipat pakaian dan merapikannya hanya demi seorang gadis.
Dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya karena walaupun tinggal sendiri para pembantu dari rumah utama akan datang berkala ke apartemen untuk mengurusi hal-hal semacam itu.
Bersama Bunga banyak hal baru yang dia alami, seperti halnya rasa asing yang saat ini sedang tumbuh di hatinya adalah hal baru baginya dan Sastra sangat menikmati prosesnya.
Setiap akhir pekan jika Bunga tidak pulang ke rumah orang tuanya maka mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Entah itu berbelanja, mencoba memasak menu baru, berjalan-jalan di kota atau menikmati indahnya matahari terbenam.
Sampai saat ini hubungan pacaran mereka masih tidak melewati batas walaupun beberapa kali hal itu hampir terjadi. Ini adalah rekor bagi Sastra karena setelah berpacaran dengan Bunga dia mampu mengontrol hasratnya.
Walaupun sebenarnya jika Sastra berniat melampiaskan nafsunya adalah hal mudah. Karena para wanita yang pernah tidur dengannya dulu masih banyak yang sering menghubunginya, tetapi Sastra sudah tidak pernah menggubrisnya.
*****
Wangi yang begitu harum lezat menggoda tercium menguar hingga ke dalam kamar sehingga membuyarkan lamunannya, Sastra keluar dari kamar dan melihat Bunga sedang berkutat di dapur membuat sesuatu.
__ADS_1
Sastra menghampiri dan seperti biasa memeluk gadisnya dari belakang dengan mesra. Sungguh kasihan jika para jomblo melihat posisi mereka yang begitu romantis sekarang ini.
"Sedang membuat apa?" Sastra menopangkan dagunya di bahu Bunga.
"Aku membuat muffin dengan panduan buku resep yang kubeli. Ini adalah pertama kalinya aku membuatnya, jadi jika rasanya tidak sesuai harapan jangan menertawakanku ya," ucapnya sambil tetap fokus mengawasi kue yang dipanggangnya di dalam oven.
"Apapun yang kamu buat bagiku adalah yang terlezat," rayu Sastra terang-terangan.
"Benarkah? Dasar gombal!" Bunga tertawa kecil.
"Akhir-akhir ini kamu sering membuat kue, apa kamu sangat menyukainya?" tanyanya.
"Aku suka sekali. Sangat menyenangkan saat membuatnya, sepertinya aku mulai mempunyai hobi sekarang. Dulu aku bahkan tak pernah melakukan hal-hal yang benar-benar kusukai selain bekerja dan mencari uang." Tiba-tiba wajah cantiknya tertunduk sendu.
Sastra membalikkan tubuh Bunga dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Mulai saat ini lakukanlah hal yang kamu suka, jangan menahan diri lagi. Bagilah bebanmu denganku, dan mintalah bantuanku jika kamu membutuhkannya." Terima nada ketulusan dari kata-katanya.
Bunga tersenyum dan mendongak menatap Sastra. Matanya berkaca-kaca lalu tangannya bergerak dia menyentuh pipi kekasihnya itu. "Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku, aku sangat bersyukur."
Sastra tersenyum lalu merengkuh Bunga kedalam pelukannya, terdengar isakan dan air bening itu mulai membasahi bajunya. Sastra mengusap lembut punggung Bunga kemudian sedikit melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
Dia mengecup keningnya dengan penuh sayang dan mengusap air mata yang berderai itu.
"Kenapa menangis?" tanya Sastra.
"Ini air mata bahagia," jawabnya.
"Dasar gadis cengeng." Sastra menggodanya dan itu berhasil, Bunga terkekeh lalu terdengar bunyi dari oven menandakan kue nya sudah matang.
"Eh, kue nya sudah matang." Bunga mengurai pelukannya lalu membuka oven dengan riang. "Tunggulah di meja aku akan menyajikannya dengan kopi."
"Okay, thank you baby." Sastra mengacak rambut Bunga dan beranjak ke meja makan.
Bunga meletakan sepiring muffin dan dua gelas kopi di meja makan, lalu ponselnya berdering tertera nama ibunya di layar.
"Halo Bu...."
Sejenak Bunga terdiam. Namun, setelah ibunya selesai berbicara diseberang telepon, ponselnya terjatuh ke lantai terlepas begitu saja dari genggamannya, wajahnya langsung berubah pucat dengan air mata yang mulai berderai membuat Sastra yang melihatnya begitu terkejut.
"Bunga ada apa?" Sastra menatapnya dengan cemas.
Dengan bibir yang bergetar Bunga berusaha menjawab. "Bapak Sas... Bapak." Lalu tangisnya meraung pecah seketika.
__ADS_1