Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 123


__ADS_3

Selesai sarapan mereka bergegas ke toko untuk menemui Bu Marni.


"Duuuh... pagi-pagi penganten baru udah nongol aja. Kirain masih bobo-bobo manja bikin dedek gitu," celetuk Nisya sambil cengengesan saat mereka berdua tiba.


"Anak kecil tahu apa soal bikin dedek!" Bunga menjitak Nisya.


"Auwww, aku tahu lah mbak, anak kecil ini juga udah bisa bikin anak kali." Nisya mengusap kepalanya yang dijitak Bunga.


"Anak gadis mulutnya gak boleh lemes-lemes!Ibuku dimana Nis?"


"Kayaknya di atas mbak," sahut Nisya sambil meringis dan tangannya mengusap-usap bekas jitakan Bunga.


"Ya udah aku ke atas dulu, kerja yang bener, jangan tebar pesona mulu!"


"Iya iya baik Nyonya besar."


Sastra dan Bunga masuk naik ke lantai dua ruko. Bu Marni menyambut kedatangan anak dan menantunya begitu melihat keduanya tiba.

__ADS_1


"Ayo duduk, ada apa pagi-pagi sudah kesini?" tanya Bu Marni.


Bunga dan Sastra menceritakan maksud mereka. Bu Marni sebenarnya belum siap jika harus berpisah jauh dari Bunga apalagi mengingat kondisi Bunga membuatnya sedikit khawatir, tetapi jika itu merupakan pilihan anaknya maka dia akan selalu mendukungnya.


"Kapan rencana kalian akan berangkat?"


"Secepatnya Bu, sekitar dua hari lagi," jawab Bunga.


Bu Marni menghela napasnya panjang. "Pergilah Nak, sebagai seorang istri sudah kewajibanmu untuk selalu mendampingi suamimu. Ibu akan selalu mendo'akan dari sini, semoga kehidupan pernikahan kalian dipenuhi keberkahan dan kebahagiaan." Bu Marni tersenyum pada keduanya.


"Terimakasih Bu." Bunga memeluk ibunya.


"Titip anak Ibu ya Nak Sastra," ucap Bu Marni.


"Pasti Bu, jangan khawatir. Saya akan selalu menjaga Bunga dengan segenap jiwa dan raga saya. Bu, saya ingin memberikan ini sebagai hadiah pernikahan, saya harap ibu mau menerimanya."


Sastra menyerahkan sebuah map, Bu Marni menerimanya dan membukanya. Ternyata isinya sertifikat sebuah rumah.

__ADS_1


"Nak, Ibu rasa ini terlalu berlebihan. Ibu sudah mempunyai rumah di desa, lagipula Deri dan Devi tinggal di asrama, jadi tinggal di ruko juga sudah cukup nyaman buat Ibu."


"Bu, Bunga mohon diterima ya. Sastra sudah membicarakan ini sebelum datang kemari, kami ingin Ibu tinggal di hunian yang nyaman dan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit saja dari sini," pinta Bunga.


"Tapi, jika menerimanya Ibu merasa seperti menjual anak ibu sendiri." Mata Bu Marni menyendu.


"Bu, jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu, karena bagi saya Bunga lebih berharga dari apapun di dunia ini, jadi saya mohon terimalah," ucap Sastra penuh permohonan.


Akhirnya Bu Marni mau menerimanya setelah diyakinkan panjang kali lebar oleh mereka berdua.


Bunga masuk ke kamarnya di ruko itu lalu disusul oleh Sastra, Bunga membereskan beberapa barangnya yang akan dibawa. Sastra duduk di ranjang single bed yang ada di kamar itu. Sebuah tempat tidur yang hanya bisa memuat satu orang saja.


"Sayang jangan terlalu banyak membawa barang, semua kebutuhanmu di Jakarta sudah kusiapkan."


"Iya, iya suamiku, aku hanya akan membawa barang-barang yang penting saja." Bunga membuka kopernya dan mulai memasukkan barang-barangnya.


"Apa ini tempat tidurmu?" Sastra bertanya sambil menekan-nekan kasur itu.

__ADS_1


"Iya, kenapa?" sahutnya sambil melanjutkan berbenah.


"Sepertinya akan lebih menantang jika kita melakukannya di ranjang sempit ini." Sastra melempar tatapan mesum pada Bunga.


__ADS_2