
Sastra mencium wanita yang berada dipangkuannya dengan lembut dan penuh cinta, menumpahkan segala rasa rindunya yang terpendam dan menyesakkan dada. Bibirnya merambat ke dagu kemudian ke leher lalu mengecup dan menghirup aromanya.
Sastra berhenti mencumbu leher itu dan mengernyitkan keningnya. Ini bukan aroma favoritnya? Bukan aroma feromon yang memabukkan yang biasa menguar dari tubuh gadisnya. Lalu ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Sastra menjauhkan wajahnya dari leher itu. Pandangannya masih berbayang, wanita dihadapannya ini kadang terlihat seperti Bunga tetapi aromanya berbeda.
Ia kembali memokuskan penglihatannya dan dengan perlahan berusaha meraih kesadarannya meskipun sulit.
Secara refleks Sastra mendorong tubuh Caroline hingga terjerembab. Membuat wanita itu memekik kencang dan terkejut karena Sastra mendorongnya secara tiba-tiba.
"Pergi kamu! Kamu bukan Bungaku, kamu... kamu Caroline!" Sastra berteriak dan membanting gelas winenya ke lantai hingga menjadi serpihan.
Sastra mencoba bangkit dari duduknya namun tubuhnya limbung membuatnya malah terjatuh dan tersungkur, Caroline kembali menghampirinya dan berharap semoga Sastra kembali tidak menyadari siapa dirinya.
Beruntung Tommy muncul di saat yang tepat ketika Caroline mencoba memapah dan membujuk Sastra yang tengah mabuk agar mau diantar ke kamar olehnya. Tommy langsung menghambur dengan cepat mendekati Sastra dan Caroline.
__ADS_1
"Nona Caroline, maaf sepertinya Pak Sastra sudah mabuk. Saya akan membawanya dan mengantarkannya ke kamar." Tommy berseru dengan nada tegas dan mengintimidasi, kemudian ia mengambil alih Sastra dan Caroline dengan berat hati membiarkan Tommy membawanya.
Wanita itu berdecak kesal dan mengacak rambutnya, dia mengumpat kenapa Tommy harus datang disaat seperti ini.
"Shit... sekertaris brengsek!"
*****
Tommy langsung memapah bosnya itu, dia berpesan pada resepsionis untuk merahasiakan nomor kamar bosnya pada pihak manapun yang menanyakannya tanpa kecuali.
*****
Keesokan harinya Sastra terbangun dengan kepala yang berdenyut akibat mabuk semalam, dia mengalami hangover karena minum terlalu banyak. Lalu kepingan-kepingan ingatannya tadi malam berlalu lalang di kepalanya, Sastra ingat bahwa semalam dia mencium Caroline yang dikiranya adalah Bunga.
"Sial...!" Sastra merutuki dirinya sendiri yang malah mabuk dan sampai salah mengira orang.
__ADS_1
Sastra meraih ponselnya menghubungi Andrew dan meminta agar Andrew segera menarik adiknya pulang dari New Zealand, ia tidak menginginkan lawyer yang tidak profesional dan meminta Andrew untuk menggantinya dengan pengacara yang lain.
Andrew menyuruh Caroline pulang dan tentu saja adiknya itu tidak terima karena tiba-tiba posisinya digantikan oleh orang lain, hanya saja Andrew mengancam akan membekukan semua aset dan kartunya jika Caroline tidak menurut dan pulang sekarang juga.
*****
Hari ini Bunga tampak sedang bersiap-siap menyambut kepulangan Sastra. Gadis itu sangat antusias, karena hari ini Sastra akan pulang dari New Zealand dan sudah dipastikan nanti malam dia akan tiba di apartemen.
Bunga memesan makan malam favorit Sastra dari restoran langganannya, ia tidak memungkinkan untuk memasak karena masih sering merasa mual jika mencium aroma-aroma makanan tertentu.
Bunga mengganti seprai dan menyalakan lilin aroma terapi membuat aroma dikamarnya begitu wangi dan menenangkan.
Bahkan tadi pagi dia juga melakukan perawatan tubuh karena ingin tampak cantik dan segar saat Sastra tiba nanti.
*****
__ADS_1
Tebarkan komen dan bintang kejoranya ya sayang-sayangnya Author, terimakasih kepada para my beloved readers yang tetap setia mengikuti cerita ini, thank you very much 😘😘💕💕