Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 79


__ADS_3

SETAHUN KEMUDIAN....


Seperti biasa, setiap pagi Sastra sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, kini Prawira Grup berkembang semakin pesat dan berjaya berkat dedikasi dan kerja kerasnya selama ini.


Semenjak Bunga pergi, Sastra lebih banyak menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan untuk mengobati rasa rindunya yang semakin hari kian menumpuk dan menyiksa.


Sastra menghadap cermin dan memasang dasi serta memakai jasnya, lalu dia duduk di sisi tempat tidur dan tangannya mengambil dua buah bingkai foto.


"Papa berangkat dulu jagoan." Dikecupnya foto hitam putih itu.


"Sayang, semoga Tuhan segera mempertemukan kita lagi, aku sangat merindukanmu." Dan dikecupnya juga foto wanita cantik yang tidak lain adalah foto Bunga.


"Kalian adalah penyemangatku." Diusapnya kedua foto itu dengan penuh cinta.


Dia meletakkan kembali kedua foto itu dan melangkahkan kakinya keluar kamar dengan penuh semangat.


Tampak Arya Prawira yang sedang membaca surat kabar telah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama.


"Pagi Pa," sapa Sastra, ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan papanya.


"Selamat pagi Nak." Pak Arya melipat surat kabar yang di bacanya dan menaruhnya ke atas meja.


Kemudian datanglah Bik Isah dari arah dapur membawa sarapan dan menatanya di atas meja. Mereka sarapan bersama sambil bercengkrama dan menyesap kopi pagi mereka.

__ADS_1


"Pa, pembangunan rumah sakit di Kalimantan sebentar lagi akan segera terealisasi. Nadine sudah mengatur acara pembukaan proyek dan dua hari lagi aku akan langsung pergi ke sana untuk peletakan batu pertama," ucap Sastra.


"Papa sangat bangga padamu Sas, Papa serahkan semua urusan perusahaan padamu, sampaikan salam untuk Nadine. Hanya saja kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu, Papa perhatikan akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk."


"Papa jangan khawatir, aku baik-baik saja." Sastra menyelesaikan sarapannya dengan cepat dan langsung berpamitan. "Aku berangkat dulu Pa."


"Hati-hati Nak."


Di halaman rumah tampak Tommy sudah menunggu dan Pak Pendi sudah siap di belakang kemudi.


"Selamat pagi Pak Sastra." Tommy membungkuk memberi hormat.


"Pagi Tom." Kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Pak Pendi langsung melajukan kendaraan yang dikemudikannya.


"Tom, apa saja jadwalku hari ini?"


"Bagaimana tentang pencarian yang kuminta, apakah sudah ada perkembangan?"


"Maaf, mereka masih belum menemukan petunjuk apapun."


"Apakah ada tanda-tanda dia menarik uang dari rekeningnya? Jika dia menarik uang, maka kita bisa mengetahui posisinya dengan mudah," tanyanya kembali pada Tommy.


"Belum ada Pak, sejak dari setahun yang lalu tidak ada aktivitas dari rekening tersebut, dan pihak Bank pasti akan segera memberi tahu kita jika ada penarikan uang ataupun pengecekkan saldo."

__ADS_1


"Perluas pencarian, dan bila perlu tambah orang yang ditugaskan untuk mencarinya! Apakah ada kemungkinan dia pergi keluar negeri?"


"Anda tenang saja, kami sudah memikirkan semua kemungkinan itu sejak lama, kami sudah berkoordinasi dengan pihak imigrasi, sehingga jika ada yang mengajukan pembuatan paspor atas nama Bunga Aulia Pramudia mereka akan segera menginformasikan kepada kita." Tommy dengan sabar menjawab setiap pertanyaan dari atasannya itu.


Sastra mengangguk dan kembali fokus pada ipadnya.


*****


Sementara di suatu tempat dipinggiran kota Banjarmasin terlihat seorang wanita berkacamata dengan rambut yang digulung keatas sedang menggiling adonan puff pastry dengan cekatan.


Itu adalah Bunga, setelah pindah ke Kalimantan ibunya membeli rumah di pedesaan dekat sepupunya, tiga bulan terakhir ini mereka juga menyewa ruko di pinggiran kota dan membuka toko kue yang dinamai Flower's Cake & Bakery.


"Mbak Lia, barusan Dokter Nadine menelepon dan menambah pesanan muffin coklat plus croissant untuk acara dua hari kedepan," ucap gadis yang bernama Nisya salah satu penjaga toko kuenya.


"Oke Nis, kamu tuliskan dalam daftar pesanan dan jangan sampai lupa," serunya.


"Siap Mbak."


"Lia, seminggu kedepan Ibu akan pulang dulu ke rumah karena sudah waktunya memanen kebun kopi, kamu tidak apa-apa Ibu tinggal di sini sendirian?" ujar Bu Marni sementara tangannya melepas apron yang dipakainya.


"Ibu pulang saja dulu, jangan khawatir, aku ini bukan anak kecil." Gadis itu terkekeh.


"Kamu ini, tapi bagi Ibu kamu selalu menjadi putri kecilku. Dan jangan lupa nanti sore kamu ada jadwal konseling dengan Dokter Nadine, nanti ibu antar!"

__ADS_1


"Aku pergi sendiri saja Bu, aku harus membiasakan diri," sahutnya.


"Baiklah Lia, semangat sayang." Bu Marni mengelus rambut Bunga lalu beranjak masuk ke lantai dua ruko.


__ADS_2