Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 62


__ADS_3

Bunga terduduk di lantai dengan tangisan yang memilukan menggema memenuhi seluruh kamar, tangannya memeluk perutnya sendiri seakan refleks melindungi jabang bayi yang ada di rahimnya.


"Sas, bisakah kamu pikirkan lagi baik-baik, bayi ini hadir karena perbuatan kita? bukankah seharusnya kita bertanggung jawab terhadapnya. Hiks... hiks... hiks," ucapnya tersendat-sendat di tengah tangisannya.


"Aku akan selalu bertanggung jawab terhadap dirimu dan aku juga ingin tetap bersamamu, tetapi tidak dengan pernikahan dan juga anak itu, tidak akan pernah!"


"Sastra Prawiraaaa...."


Bunga berteriak histeris. "Aku tidak menyangka ternyata kamu manusia keji! Dia darah dagingmu Sas, bahkan binatang pun menyayangi anaknya! Aku telah salah menilaimu, kukira kamu mencintaiku dan menginginkan hal yang sama denganku menyatukan hubungan kita dalam ikatan yang suci, tapi ternyata semua kebersamaan kita selama ini sama sekali tidak ada artinya bagimu!" Bunga berucap penuh emosi dengan dada tersengal.


"Bukannya aku tidak mencintaimu, aku sangat mencintaimu Bunga, tapi anak dan pernikahan adalah dua hal yang tidak pernah kuinginkan!" Sastra menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Mencintaiku? kamu yakin itu cinta? ha... ha... ha...." Bunga tertawa getir dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Cinta macam apa yang seperti itu Sas? jawab aku! Apakah begini yang kamu sebut mencintaiku!" Bunga mencengkram dadanya yang semakin terasa sesak.


"Kamu boleh minta apapun padaku dan aku akan memberikannya, tetapi tidak dengan dua hal itu!" Suara Sastra naik beberapa oktaf.


"Meminta apapun? aku menyerahkan diriku padamu karena aku sangat mencintaimu, tetapi ternyata bagimu selama ini secara tidak langsung kamu hanya menganggapku sebagai pel*cur yang setelah kau tiduri kau berikan imbalan? aku bahkan tidak pernah meminta apapun yang selama ini kamu berikan padaku!" Bunga pun menjawab dengan nada yang tak kalah tinggi.


Sastra membentak Bunga dan memukul tembok dengan frustasi karena perasaan campur aduk berkecamuk di hatinya yang membuat dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Sebaiknya kamu turuti kata-kataku, gugurkan bayi itu!" Sastra melemparkan black card platinum ke hadapan Bunga. "Pakai kartu itu dan cari dokter terbaik untuk melakukannya!"

__ADS_1


Bunga menatap kartu itu dengan nanar merasa dirinya benar-benar terhina. "Sampai kapanpun Aku tidak akan pernah membuang bayi ini!"


Bunga bangkit mengambil kartu itu dan mematahkannya lalu melemparkannya tepat diwajah Sastra. "Kita sudahi hubungan kita sampai disini, aku benci padamu... aku benci! aku tidak sudi bersama denganmu lagi."


Dengan tubuh yang masih lunglai Bunga berjalan menuju lemari, dia hanya mengambil baju-baju yang dulu dibawanya dari rumah dan memasukkannya serampangan ke dalam koper. Dengan masih memakai baju tidur Bunga mengambil jaket dan dan tasnya memakainya lalu menarik kopernya keluar kamar.


"Mau pergi kemana kamu Bunga Aulia! Jangan pernah kamu berani melangkahkan kakimu keluar dari sini tanpa seizin dariku, lagipula jika kamu berani melahirkan anak itu aku tidak akan pernah menerimanya!"


"Apa hakmu melarangku brengsek! kita sudah selesai. Kamu tidak usah khawatir, mulai detik ini dia hanya anakku, bayiku milliku, tidak akan pernah ada sangkut pautnya lagi denganmu. Kuharap kita jangan pernah bertemu lagi, aku sudah muak denganmu! Bunga keluar dari apartemen dan membanting pintu dengan kencang.


"Arghhhhhh...." Sastra berteriak dan membanting semua barang yang ada di kamar membuat semuanya berserakan di lantai.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Bunga masuk ke dalam lift dengan air mata yang makin deras mengalir di wajahnya yang semakin memucat.


__ADS_2