Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 66


__ADS_3

Sastra berlarian keluar tanpa memperdulikan orang yang berlalu lalang keluar masuk restoran, ia bahkan tak sengaja menabrak beberapa pengunjung yang baru saja datang ke tempat itu.


Ia menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya lalu menghubungi ponsel Bunga namun ternyata nomornya tidak aktif, Sastra langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Bunga.


*****


Tuhan...


Apa yang sudah kulakukan? Aku telah menyakiti orang yang kucintai dan juga menyakiti anakku sendiri.


*Aku terlalu larut dalam kekecewaanku dimasa lalu yang membuat diriku merasa paling tersakiti dan terbuang, tetapi karena hal itu tanpa kusadari aku malah melukai seseorang yang sangat berarti bagiku.


Lalu apa bedanya aku dengan papaku, kami sama-sama menyakiti dan melukai orang yang kami cintai.


Bunga, sayangku, masih pantaskah aku untuk dimaafkan*?


*****


Sastra melajukan mobilnya seperti orang kesetanan, bahkan lampu merah pun diterobosnya tanpa mengindahkan rambu-rambu lalu lintas.


Lelaki berlesung pipi itu berharap semoga saja Bunga ada rumah ibunya, Sastra ingin segera meminta maaf walaupun mungkin gadis itu tidak akan memaafkannya mengingat bagaimana dirinya telah membuatnya merasa terhina.


Sastra telah sampai di pekarangan rumah Bunga, ia langsung turun berlari dan mengetuk pintu dengan nafas tersengal.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Lho Nak Sastra... ayo masuk." Bu Marni membuka pintu dan mempersilahkan Sastra masuk. "Tumben datang kesini sendiri, biasanya kesini kalau antar Bunga pulang saja."


"Eh iya, saya sekalian lewat jadi mampir untuk menyapa, Tante bagaimana kabarnya?" Sastra masuk dan matanya menjelajah mencari-cari keberadaan Bunga.


"Kabar Tante baik, bahkan sangat baik, terimakasih sudah membantu Bunga untuk bisa bekerja di perusahaanmu."


"Sama-sama Tante, tapi ngomong-ngomong Bunganya ada?" Sastra mengusap tengkuknya gusar.


"Bunga? dia tidak pulang lagi akhir pekan ini, mungkin di kantornya lembur lagi, apa Bunga tidak mengabarimu?"


"Kebetulan dari tadi pagi ponsel saya rusak, jadi kemungkinan Bunga tidak bisa menghubungi saya. Hanya saja kemarin dia mengirim pesan pada saya akan pulang ke rumah tapi sepertinya tidak jadi, mungkin memang lembur lagi," jawabnya kikuk.


"Tidak usah Tante saya tidak lama, maaf saya harus pamit sekarang karena masih ada urusan yang lain." Sastra bangkit dari duduknya.


"Sayang sekali, lain kali mampir lagi kesini ya


Nak Sastra, Tante masih ingin mengobrol denganmu."


"Baik Tante, kalau begitu saya permisi."


Sastra meninggalkan rumah Bunga dengan tergesa-gesa, dirinya sangat khawatir karena ternyata Bunga tidak pulang kerumah orang tuanya. Lalu pergi kemanakah gadis itu? Ini bahkan sudah hampir pukul delapan malam padahal tadi Bunga pergi pagi-pagi sekali.

__ADS_1


"Bunga, sebenarnya kamu pergi kemana?"


Sastra kembali menghubungi ponsel Bunga tetapi masih saja tidak aktif. Lalu ia menghubungi orang-orangnya untuk mencari info di setiap hotel, mungkin saja Bunga menginap di salah satu hotel di ibukota atau di hotel-hotel dekat kantor cabang.


"Cepat cari dan laporkan padaku dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang!"


Kemudian Sastra melajukan mobilnya dan matanya menelusuri setiap sisi jalanan yang dilewatinya sambil memutar otaknya kemanakah kira-kira Bunga pergi.


Ia kemudian teringat pada Nana pacarnya Rasya yang juga temannya Bunga, Bunga sering sekali bercerita bahwa dia sering pergi bermain dengan temannya itu. Sastra mencari-cari kontak Rasya lalu menghubunginya.


"Halo selamat malam Pak," terdengar suara Rasya menyahut.


"Rasya, bisa tolong beritahukan pada saya alamat pacarmu, saya sedang ada keperluan dengan dia."


"Ada keperluan? maaf keperluan apa ya Pak?" Rasya merasa aneh karena bosnya tiba-tiba mencari pacarnya.


"Begini Sya, saya bermaksud menjemput Bunga karena dia tadi bilang mau main ke rumahnya Nana, tapi ponselnya tidak aktif jadi saya tidak bisa menanyakan dimana alamatnya." Sastra mencari alasan.


Rasya sedikit termenung lalu dia ingat Minggu lalu Nana dengan hebohnya memberitahu bahwa Bunga pacaran dengan bosnya itu.


"Iya... iya boleh Pak boleh, atau bila perlu saya antar kesana, kebetulan saya lagi diluar, posisi Bapak di mana?"


"Saya dekat halte bus Swalayan Mitra," jawab Sastra.

__ADS_1


"Baik Pak, tunggu sebentar saya langsung kesitu, kebetulan ini sudah dekat."


__ADS_2