Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 122


__ADS_3

Pagi ini Bunga terbangun lebih dulu. Saat matanya terbuka ia disuguhi pemandangan indah makhluk ciptaan Tuhan tepat dihadapannya.


Bibirnya tersenyum, lalu tangannya mengusap kening lelaki yang telah menjadi suaminya itu. Sastra masih memejamkan matanya, terdengar dengkuran halus menandakan dia terlelap dalam tidurnya.


Bunga tidak menyangka kini mereka telah menikah. Ketika dua bulan lalu tanpa sengaja bertemu lagi dengan Sastra, Bunga pikir akan terus membencinya. Akan tetapi hatinya memberontak, ternyata rasa cintanya lebih besar daripada kebenciannya.


Semuanya terasa aneh pada awalnya. Sastra pernah menyakitinya, tetapi ketika lelaki itu mendekapnya saat kejadian di Villa, dirinya merasa sangat aman, nyaman dan tidak ingin jauh darinya. Itulah arti cinta yang sesungguhnya, sekeras apapun kamu ingin menolak pada akhirnya ia akan kembali pulang ke hati yang seharusnya.


Bunga turun dan beranjak ke kamar mandi, sejak semalam dia belum sempat membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Bunga keluar dari kamar dan membuka pintu dengan pelan agar tidak membangunkan suaminya.


Bunga ke dapur dan mencari-cari bahan makanan untuk dimasak sebagai sarapan. Ia membuka kulkas dan menemukan sekotak oatmeal, susu cair juga buah-buahan.


Bunga memutuskan untuk membuat sarapan dengan bahan-bahan yang ada, saat tangannya tengah sibuk mengaduk oatmeal tiba-tiba ada yang merangkulnya dari belakang.


"Good morning sweetheart." Disusul kecupan di pipi Bunga.


"Morning too honey." Bunga balas mencium pipi Sastra yang menopangkan dagu di pundaknya.

__ADS_1


"Kamu wangi sekali." Sastra mengendus-endus leher Bunga, "Sedang membuat apa?"


"Aku membuat sarapan untuk kita, sepuluh menitan lagi akan siap. Mandilah dulu."


"Mandikan aku!" Bisiknya di telinga Bunga.


"Kamu itu bukan balita. Mandi saja sendiri!" Bunga menyikut perut Sastra membuat laki-laki itu terkekeh.


"Oh iya sayang, ada hal penting yang ingin


kubicarakan denganmu. Kemarin-kemarin aku belum sempat membahasnya karena sibuk mengurus persiapan pernikahan kita."


"Begini. Sudah hampir dua bulan ini aku bolak-balik Jakarta Banjarmasin. Aku memang ada pekerjaan mengenai rumah sakit di sini, tetapi posisiku sebagai CEO Prawira Grup membuatku tidak bisa terus menerus tinggal di sini karena kehadiranku di kantor pusat sangat dibutuhkan. Aku mempunyai tanggung jawab besar terhadap jalannya perusahaan karena papaku sebagai chairman hanya terjun langsung saat ada hal yang sangat mendesak saja." Kalimat Sastra terjeda sejenak.


"Kalau kamu tidak keberatan aku ingin mengajakmu pindah ke Jakarta, aku ingin selalu bersamamu dan tidak ingin berjauhan lagi darimu. Namun, jika kamu lebih suka di sini kamu tidak perlu ikut pindah, hanya saja aku tidak bisa selalu menemanimu, akan kuusahakan pulang dua kali dalam seminggu," sambungnya.


Bunga termenung, baru saja ia kembali bersama lelaki yang sangat dicintainya dan harus berpisah lagi? Hatinya merasa tidak rela jika harus berjauhan dengan Sastra.

__ADS_1


"Aku akan Ikut kemanapun kamu pergi, sudah tugasku sebagai seorang istri untuk selalu mendampingi suamiku bukan?" Bunga mengulas senyumnya dan menggenggam tangan Sastra.


"Terima kasih sayang, karena sudah mengerti aku. Tapi kita belum membicarakannya dengan ibumu, apakah beliau akan mengizinkan?"


"Setelah sarapan kita ke toko. Tenang saja, ibu pasti mengizinkan. Hanya saja aku khawatir tentang masalah toko. Biasanya aku membuat kue berdua dengan ibu, tapi jika ibu mengerjakannya sendiri pasti akan kewalahan karena pesanan semakin kesini makin membludak, karena selama ini karyawanku tidak pernah kubiarkan untuk membuat kue dengan tangan mereka," jelas Bunga.


"Untuk urusan di toko kamu jangan khawatir, aku akan mempekerjakan koki profesional dan beberapa asistennya di bidang itu untuk membantu ibumu. Kamu tinggal meminta mereka untuk menyesuaikannya dengan resep buatanmu."


"Kalau seperti itu aku tidak akan khawatir lagi, tapi sebelum kita berangkat ke Jakarta aku ingin menemui Kak Rama dulu. Aku ingin berpamitan, bagaimanapun juga dia telah banyak membantuku selama ini," pinta Bunga.


"Kamu yakin sudah siap bertemu dengannya? jika tidak lebih baik jangan." Sastra tampak cemas.


"Aku yakin, lagipula mulai saat ini aku tidak akan membiarkan diriku dikalahkan oleh yang namanya trauma atau apapun itu. Aku ingin sepenuhnya sembuh dan menjadi perempuan yang kuat agar layak berada di sisimu."


Sastra terharu dengan kata-kata yang dilontarkan istrinya, ia meraih wajah Bunga dan mengecupinya penuh sayang. "Aku yakin kamu akan menjadi istri dan ibu yang kuat untuk anak-anak kita nanti."


"Tentu saja. Sebagai istri dari Sastra Prawira aku harus tangguh bukan? karena dibalik jabatan tinggimu ada tanggung jawab besar yang kamu pikul, sebagai seorang istri aku juga harus bisa menjadi sumber kekuatanmu bukan kelemahanmu." Bunga mengulas senyumnya.

__ADS_1


"So proud of you baby."


__ADS_2