Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 65


__ADS_3

"Bunga aku berangkat dulu ya, mau kubelikan apa saat nanti aku pulang? kamu belum makan apapun sejak tadi." Nana berbicara sembari sibuk mengikat tali sepatunya di depan pintu.


"Mmmm... belikan aku nasi goreng dekat swalayan, sudah lama aku tidak mencicipinya."


"Sip beres cantik, kalau kamu ingin mandi atau tidur, jangan lupa kunci pintunya oke?" Nana berpesan sebelum pergi.


"Iya bawel, cepat sana berangkat." Bunga tetap berusaha menyunggingkan senyumannya agar Nana tidak khawatir.


"Daaaah... aku berangkat." Nana menstarter motornya dan segera berlalu pergi dari tempat kostnya.


Setelah Nana berangkat Bunga menutup pintu dan wajahnya kembali menyendu. Tubuhnya merosot di balik pintu, ia memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya diantaranya, air bening itu kembali membanjiri wajah cantiknya membuat bulu mata indahnya kini selalu basah karena air mata.


Di ruangan itu hanya terdengar isakan dan tangisan memilukan yang menyayat hati, seolah jutaan tetes air mata yang tumpah tidak akan mampu menyembuhkan luka di di hatinya saat ini.


Beberapa saat kemudian Bunga bangkit dan menuju kamar mandi lalu membasuh dirinya, ia tiba-tiba merasa jijik terhadap tubuhnya sendiri karena pernah membiarkan tubunya ini dicumbu oleh pria yang telah menghancurkan hatinya hingga menjadi serpihan.


Dia bahkan menggosok seluruh kulit tubuhnya dengan kuat dan kasar hingga memerah, berharap rasa jijik itu berkurang dan menghilang.

__ADS_1


Bunga berusaha tegar meskipun ternyata sulit. Sastra adalah sandarannya yang memberinya kekuatan, ia telah menyerahkan dan mempercayakan dirinya pada lelaki itu, tetapi kini sandaran hidupnya itu telah melukainya begitu dalam membuatnya rapuh dan terpuruk.


Setelah mandi Bunga memakai dress warna putih yang cantik, menyisir rambutnya dan memakai sedikit make up. Ditatapnya pantulan dirinya di cermin dan dia tersenyum, matanya sembab tapi tidak mengurangi kecantikannya.


Bunga duduk di sofa lalu membuka bungkusan yang bertuliskan apotek, ia melihat benda di dalamnya dengan senyum yang merekah, ditatapnya dengan bahagia botol bulat kecil itu.


****


Ibu maafkan aku yang lemah ini, aku rapuh karena sumber kekuatanku telah melukaiku.


*S*epertinya aku takkan mampu menerima penghakiman orang-orang di sekitarku tentang diriku dan anakku nantinya.


Anakku sayangku cintaku, mama sudah menemukan tempat untuk kita pergi nak, tempat di mana tidak akan ada yang mencemooh kita nantinya. Kita akan selalu bersama, sekarang kita temui kakekmu dan berkumpul dengannya di sana.


Bapak, tolong sambut aku yang penuh dosa ini, rengkuh aku dan anakku dalam pelukanmu, terimalah kedatanganku pak dan maafkan aku yang tidak bisa menjaga ibu dan adik-adikku lagi.


*****

__ADS_1


Bunga mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang lalu dibukanya botol kecil itu.


Ternyata yang dibelinya adalah obat tidur, entah apa yang ada di benaknya saat ini. Ia membuka toplesnya dan mengambil obat tidur itu entah berapa butir jumlahnya dan menenggaknya.


Bunga merebahkan tubuhnya di sofa dan menyelimuti dirinya dengan senyuman tersungging di bibirnya lalu memejamkan matanya.


*****


Sastra tengah menunggu pesanan makanannya di restoran itu, selagi menunggu matanya menjelajah melihat ke sekitar restoran yang sangat ramai.


Di sana ada beberapa pasangan yang sedang makan. Tampak istrinya yang sedang hamil, si suami mengelus perut istrinya yang membuncit dengan wajah yang bahagia sambil menyuapi sang istri.


Lalu dilihatnya lagi ada pasangan lain yang berada di situ tengah mengejar-ngejar anaknya yang masih balita, ada juga pasangan yang baru datang dengan si ayah yang menggendong bayinya dan bercanda tawa dengan riangnya.


Melihat pemandangan itu seketika akal sehatnya kembali menguasai pikiranya. Jantungnya berdegup kencang, dadanya bergemuruh dan sesak seperti dihantam degan godam, hatinya nyeri bagaikan diremas dengan kuat disertai keringat dingin membanjiri pelipisnya, ia terkesiap dan Bunga kembali memenuhi seluruh isi kepalanya.


Bunga, sayangku... bayiku... anakku? Apa yang sudah kulakukan, Tuhan apa yang sudah kulakukan....

__ADS_1


Sastra menaruh uang di atas meja tanpa menunggu pesanannya, dengan tergesa-gesa keluar dari restoran dan menuju tempat parkir seperti orang gila.


__ADS_2