
Beberapa bulan kemudian....
Kehamilan Bunga kini sudah memasuki bulan ke sembilan. Perutnya makin membuncit, tetapi di mata Sastra istrinya itu malah terlihat semakin seksi membuatnya makin berhasrat pada Bunga setiap kali berdekatan dan bersentuhan kulit.
Menurut perkiraan dokter Bunga akan melahirkan dalam waktu dekat. Dari hasil pemeriksaan semuanya tampak baik, kondisi ibu dan bayinya sehat, posisi bayi juga bagus, sehingga kemungkinan melahirkan secara normal cukup besar.
Dari hasil USG jenis kelamin si jabang bayi adalah laki-laki, semua keluarga besar Pak Arya dan Bu Marni menyambut dengan suka cita kabar tersebut terutama Sastra sebagai ayah si bayi.
Pagi ini seperti biasa jika hari libur Bunga sering pergi ke taman kota ditemani Sastra, ia akan berjalan-jalan ringan di sana sebagai salah satu usaha agar proses persalinannya nanti berjalan dengan lancar dan Sastra selalu siap sedia menemani berusaha untuk menjadi suami siaga.
"Sas, aku pengen makan bubur ayam." Jari telunjuknya menunjuk ke arah gerobak bubur yang ada di taman itu.
'Kita makan bubur di restoran langgananku saja ya, sepertinya di sini kurang higienis," sahut Sastra.
"Tapi aku pengennya makan bubur yang itu," Bunga mulai merengek dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau nanti kamu sakit perut sayang?" Sastra mencoba membujuk.
"Ini dedeknya lho yang pengen makan di situ, bukan aku!"
Padahal itu hanya alasan saja. Bunga merengut sebal, matanya mulai berkaca-kaca. Sastra yang melihatnya sudah pasti melemah, karena air mata Bunga adalah kelemahan terbesarnya.
"Baiklah baiklah, kita makan bubur yang kamu mau, ayo." Sastra menarik tangan Bunga dan menuju gerobak bubur yang diinginkan istrinya itu.
"Aku kan udah bilang ini dedeknya yang mau, beneran bukan aku," Bunga masih bersungut-sungut sambil melangkahkan kakinya.
"Iya iya sayang," sahut Sastra dengan nada penuh sayang membuat Bunga tersenyum puas.
"Makannya pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebutnya darimu." Sastra menyodorkan segelas air teh tawar hangat.
"Kamu mau?" tanya Bunga dengan mulut penuh sedang mengunyah.
__ADS_1
"Nggak sayang, liat kamu makan aja aku udah kenyang."
Bunga hanya mengangguk dan kembali menyuapkan makanannya penuh semangat.
*****
Mereka pulang dari taman kota sekitar jam sepuluh pagi, Bunga bermaksud untuk membersihkan diri karena tubuhnya berkeringat. Namun, saat menuju ke kamar mandi tiba-tiba ia merasakan seperti ada cairan yang keluar merembes membasahi kedua pahanya.
Secara refleks pandangannya menunduk, dilihatnya ada cairan bening menggenang di bawah kakinya. apakah ini pertanda bahwa dia akan melahirkan? Bukankah seharusnya diiringi dengan rasa mulas seperti yang dikatakan orang-orang? Tapi sekarang ia tidak merasakan mulas sama sekali? Bunga berusaha tetap tenang dan tidak panik kemudian berjalan keluar kamar dengan hati-hati karena cairan itu kembali merembes.
"Sas, Sastra...." Bunga memanggil Sastra dari lantai dua dekat tangga.
"Kenapa sayang?" Sastra yang tengah menyesap kopinya di ruang keluarga langsung menaruh cangkirnya kemudian menaiki tangga dan menghampiri istrinya.
"Ini... ini... ada cairan yang tiba-tiba merembes keluar, sepertinya aku akan melahirkan," ucap Bunga dengan raut wajah cemas dan kedua tangannya memegangi perut buncitnya.
__ADS_1
"Apa! Me-melahirkan?" Saking terkejutnya Sastra hampir saja oleng disisi tangga, tatapannya beralih ke betis Bunga dan dilihatnya ada sedikit cairan bening yang mengalir.
"Jangan buang waktu lagi, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang." Sastra langsung menyuruh Pak Pendi untuk menyiapkan mobil dan meluncur menuju rumah sakit saat itu juga.