Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 71


__ADS_3

Sejak meninggalkan ruang operasi Nana beserta Rasya menunggu di lobi dan tertidur di bangku lobi rumah sakit, mereka berdua terbangun sekitar pukul lima subuh dan Nana baru ingat bahwa dia belum mengabari ibunya Bunga saking paniknya dengan kejadian tadi malam.


Nana dengan cepat menghubungi Bu Marni, menyampaikan bahwa Bunga sakit dan harus dirawat inap. Dia tidak berani menceritakan kejadian sebenarnya, biarlah nanti bu Marni mengetahui sendiri saat sudah tiba di sini.


Sebagai seorang ibu tentu saja Bu Marni terkejut karena Bunga tiba-tiba sakit sampai harus di rawat inap, dia langsung berangkat ke rumah sakit dan berpesan kepada si kembar untuk menjaga rumah karena ini hari minggu.


*****


Pagi ini Sastra baru saja terbangun dan keluar dari ruangan Bunga, ia bermaksud menuju toilet untuk sekedar mencuci muka. Di luar ruangan ICU sudah tampak Nana dan Rasya yang baru saja tiba.


"Rasya, titip Bunga dulu sebentar, saya mau ke toilet dan ada barang yang harus saya ambil di mobil." Sastra menepuk bahu Rasya.


"Baik Pak, jangan khawatir." Rasya tetap memberi hormat karena bagaimanapun Sastra adalah atasannya, tapi lain halnya dengan Nana yang menatap Sastra dengan tatapan membunuh.


Sastra berlalu menuju toilet. Dari kejauhan Nana melihat Bu Marni yang sudah datang, Nana menhampiri dan menuntunnya ke ruangan tempat Bunga di rawat.

__ADS_1


Bu Marni sangat terkejut melihat putrinya dari kaca luar ruangan ICU, apa gerangan yang terjadi pada Bunga hingga harus dirawat di ruangan intensif, apakah sakitnya sangat parah?


"Nana, Bunga... Bunga sebenarnya sakit apa? kenapa sampai harus dirawat di ruangan intensif seperti ini?" Suara Bu Marni terdengar penuh kekhawatiran.


"Tante nanti bisa bertanya langsung pada dokter, agar mengetahui lebih jelas tentang kondisi Bunga. Sekarang sebaiknya Tante masuk ke dalam untuk melihat langsung keadaan Bunga." Nana menggenggam tangan Bu Marni.


Bu Marni bergegas masuk, sekujur tubuhnya gemetar mendapati sang putri yang terbaring lemah dengan peralatan medis dimana-mana.


"Bunga, kamu sebenarnya kenapa Nak?" Bu Marni mengusap lembut pipi putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Dokter, sebenarnya anak saya sakit apa dok?" tanya bu Marni dengan suara tersendat menahan tangisnya.


"Anda ibu dari pasien?" Dokter balik bertanya.


"Iya, saya ibu kandungnya."

__ADS_1


Dokter menatap bu Marni penuh tanda tanya. "Apakah suaminya belum memberitahukan tentang kondisi putri anda?"


"Su-suami?" sahutnya kebingungan.


"Iya Nyonya, semalam putri anda dibawa kesini oleh suaminya karena pasien mencoba bunuh diri dan menyebabkan kandungannya keguguran."


Bagai disambar petir di siang bolong saat bu Marni mendengar kata-kata itu terlontar dari mulut sang Dokter. Bunuh diri? Keguguran? Tubuh bu Marni langsung lemas dengan air mata yang berurai membasahi wajahnya yang tidak muda lagi.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi pada putri saya Dokter!" Bu Marni menangis tersedu-sedu.


"Saya juga tidak tahu masalah apa yang dialami pasien sehingga mengambil tindakan yang sangat berbahaya seperti itu, Nyonya mungkin bisa bertanya langsung kepada suaminya." Terdengar bunyi Pintu terbuka dan Sastra muncul dari balik pintu.


"Nah itu suaminya sudah datang," ucap dokter pada bu Marni. "Kalau begitu saya permisi dulu Nyonya." Dokter memberi hormat dan beranjak pergi.


Bu Marni menoleh ke arah pintu dan pandangannya beradu dengan Sastra yang langsung mematung karena kaget dengan keberadaan ibunya Bunga di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2