
"Kita mau nonton film apa nih?" tanya Nana.
"Gimana kalau nonton film komedi? aku kangen banget pengen ketawa sepuasnya." Bunga memberi usulan.
"Iya aku setuju, aku juga udah lama nih ga nonton film komedi. Lumayan lah buat olahraga muka," sahut Deni yang menaik turunkan alisnya.
"Sip setuju, yuk beli tiketnya." Nana menggandeng kedua temannya.
"Hari ini aku yang bayar tiketnya." Bunga langsung membeli tiket untuk tiga orang.
"Ughhh makasih anak cantik, lagi banyak duit nih kayakknya?" cicit Nana gembira.
"Udah deh, masuk yuk," ajak Bunga menarik kedua temannya untuk segera memasuki studio karena film akan segera dimulai.
*****
Selesai menonton film, Bunga mengajak kedua sahabatnya untuk makan di restoran Jepang.
"Hei kamu ngapain ngajak kita makan disini, waduuuh bisa jebol kantong kita nih." Nana berbisik pada Bunga, sedangkan Deni masih berdiri di depan pintu restoran dan enggan untuk masuk karena dia tahu bahwa harga makanan di sini cukup mahal.
__ADS_1
"Udah tenang aja, hari ini aku yang traktir. Kalian boleh makan sepuasnya mumpung aku lagi baik hati nih, mau nggak?" tawar Bunga yang tersenyum geli karena melihat kedua temannya panik diajak ke tempat semacam itu.
"Nggak_enggak akan nolak pastinya, ya mau banget lah sekali-kali perbaikan gizi. Kapan lagi dapet rejeki nomplok kayak gini."
Nana kegirangan dan menarik Deni yang masih melongo di depan pintu untuk masuk kedalam. "Kamu ngapain kayak orang linglung pelanga pelongo disitu, ayo cepetan masuk, kita makan disini mumpung ada yang traktir."
"Yang bener? Ya Tuhan hari ini hidupku penuh berkah." Deni langsung bersemangat lalu masuk kedalam.
Mereka bertiga duduk dan langsung memesan makanan, Nana duduk bersebelahan dengan Bunga sementara Deni sibuk memesan menu ini dan itu.
"Kamu sekarang banyak duit, penampilan kamu juga beda banget. Jangan-jangan kamu jadi simpanan om-om ya?" Nana menatap Bunga penuh curiga.
"Ini semua yang kamu pakai barang mahal semua kan? memangnya gaji kamu gede banget ya sampe kebeli barang branded terus isi dompet makin tebel." Nana masih saja penasaran.
"Mmm... sebenarnya semua ini pacarku yang membelikannya."
"Hah... pacar! Sejak kapan nona polos punya pacar?" Saking terkejutnya Nana bersuara dengan lantang membuat Bunga membekap mulut temannya itu.
"Dih jangan kenceng-kenceng, memangnya kenapa kalau aku punya pacar, aneh?" gerutu Bunga.
__ADS_1
"Kamu nggak pernah cerita sih, aku kan jadi kaget. Sebenarnya kamu pacaran sama siapa sih, tajir bener kayaknya?" Nana semakin penasaran.
"Mmm... itu, pacarku... pacarku Sastra, Sastra Prawira," jawab Bunga pelan.
"Sastra Prawira! M-maksudnya Sastra bosnya Rasya? Beneran Sastra yang itu?" Nana terperangah tak percaya.
Bunga mengangguk dan malah cengengesan pada Nana.
"Ya Tuhan, sudah pasti tajir bener dah kalau Sastra yang itu. Aku nggak nyangka gebetanmu cetar membahana, kamu udah berapa lama sih pacaran sama dia? udah pernah dicium dong cie cie." Nana sengaja menggoda.
"Ih apaan sih! Udah ah mending kamu pesan makanan aja biar nggak tambah ngawur." Bunga mengambil daftar menu.
Hhhhh padahal bukan cuma dicium, lebih dari itu malah, kalau Nana tahu pasti kaget setengah mati dia.
Sepuluh menit kemudian para pelayan menyiapkan pesanan mereka ke atas meja. Bunga memesan shahu-shabu, sushi ,dan juga daging panggang. Saat kuah shabu-shabu mendidih dan aromanya menyeruak di hidung Bunga, ia langsung merasakan perutnya bergolak dan mual yang tak tertahankan.
Bunga beranjak dari kursinya dan berlari ke toilet karena tidak tahan dengan aroma kuah itu. Dia langsung muntah-muntah di toilet hingga air matanya keluar dan kepalanya pening terasa berputar.
Sejak bersama Sastra, Bunga paling suka makan shabu-shabu kuah tomyam, tetapi hari ini bahkan dia tidak bernafsu sama sekali terhadap makanan itu.
__ADS_1