
Mereka sampai di Bandara Ngurah Rai Bali setelah menempuh dua jam perjalanan, setibanya di bandara mereka langsung di jemput menuju hotel.
Sastra mengambil kunci kamar yang sudah dipesan sebelumnya dan letak kamarnya bersebelahan dengan kamar Bunga. Sebuah kamar president suite yang sangat mewah. Bunga sempat menolak karena dia ingin kamar yang dipesan itu jenisnya sama dengan karyawan yang lain, tetapi Sastra beralasan karena Bunga adalah asistennya jadi letak kamarnya harus berdekatan dengannya untuk mempermudah pekerjaannya.
Sedangkan untuk Fajar letak kamarnya berada berdekatan dengan para kepala cabang di lantai yang berbeda. Fajar hanya mesem-mesem saat menerima kuncinya karena dia tahu kalau bosnya itu cuma lagi modus sama pacarnya.
"Karena ini masih pukul sepuluh kita bisa beristirahat dulu sekarang, berkumpul lagi saat jam makan siang dan setelahnya kita akan langsung meninjau lokasi pembangunan."
"Baik pak." Fajar dan Bunga menjawab serempak dan mereka segera menuju kamarnya masing-masing.
Sesampainya di depan pintu kamar hotelnya, Bunga membuka kunci dan Sastra ikut masuk kedalam lalu menutup pintunya. Saat sudah di dalam Bunga terpana karena kamarnya sungguh indah dan mewah, kamar besar dengan balkon menghadap langsung ke laut dan ada kolam renang pribadi yang terhalang pintu kaca yang letaknya tepat di sisi luar ranjang.
"Wah... kamarnya bagus sekali," Bunga melihat ke seluruh penjuru kamar. "Tapi apa ini tidak terlalu mencolok? aku tahu kamar yang dipesan untuk karyawan lainnya bukan jenis yang seperti ini. Dasar pilih kasih!"
__ADS_1
"Kamu adalah asistenku, jadi kamu harus selalu berada di dekatku lagipula aku tidak bisa tidur jika bukan di ranjang president suite, apa sebaiknya kita tinggal di satu kamar saja? untuk mempermudah komunikasi antara bos dan asistennya?"
"Dasar modus! Pak Sastra yang terhormat, sebaiknya segera masuk ke kamar Anda. Tidak baik seorang karyawan berlama-lama berada satu kamar dengan bosnya!" seru Bunga ketus.
Bunga menaruh kopernya dan membuka pintu balkon yang langsung menghadap ke laut, Sastra mengikuti dari belakang dan memeluk gadisnya.
"Masih ada dua jam lagi sebelum makan siang. Aku ingin beristirahat disini bersamamu karena salah satu tugas asisten adalah memastikan semua kebutuhan bosnya terpenuhi," bisiknya di telinga Bunga dengan sengaja.
"Apa sekarang kamu sedang menyalahkan gunakan kuasamu lagi?" protes Bunga sambil menyikut perut berotot Sastra.
Sastra menggiring Bunga menuju ranjang, ia menariknya untuk berbaring yang kemudian disusul olehnya, Sastra menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Bunga dan memeluk kekasihnya itu.
"Usap-usap punggungku asisten," perintahnya dengan suara serak.
__ADS_1
"Cih dasar bayi besar, sebenarnya aku ini asistenmu atau pengasuhmu?" Bunga mengusap lembut punggung pria yang memeluknya itu membuat Sastra tersenyum puas.
Setelah beberapa saat bukannya tertidur tapi Sastra malah mengendus-endus leher Bunga, mengigit gigit kecil dan menghisap dengan lembut disana. Sastra tahu betul kelemahan gadisnya membuat Bunga mengigit bibirnya diperlakukan seperti itu.
"Sastra sayang! Tolong hentikaaaan...." Lalu Bunga menjauhkan kepala Sastra dari lehernya dan ia mengatur napasnya yang sedikit tak beraturan akibat desiran tadi.
"Bukannya tadi kamu ingin tidur hah? kenapa sekarang malah berubah jadi drakula padahal ini masih siang hari!" Bunga melotot pada Sastra.
"Jadi kalau malam hari aku boleh berubah seperti drakula dan menghisapmu?" godanya tak tahu malu.
"Mulutmu mulai lagi deh, memangnya kamu itu vacum cleaner maen hisap-hisap aja! Lagipula sebagai asistenmu bukankah setelah ini aku harus menemanimu pergi, lalu bagaimana aku bisa bekerja bertemu dengan orang-orang kalau leherku penuh dengan jejak cap bibirmu seperti macan tutul!" serunya kesal.
"Kalau aku tidak boleh membubuhkan capku di lehermu, lalu di bagian manakah aku harus melakukannya sayang? apakah disini boleh? aku jamin jika di sini jejak itu takkan terlihat orang lain dan tetap aman tersembunyi." Sastra menunjuk dada Bunga dengan tatapan mesum.
__ADS_1
"Ih dasar bos mesum!" Bunga memukuli kekasihnya itu dengan bantal tanpa ampun.