
Pak Pendi sudah tiba di lobi rumah sakit, Sastra langsung menghampiri dan mengambil alih kemudi.
"Pak Pendi silahkan pulang saja, saya akan menyetir sendiri."
"Baik Pak, sebaiknya hati-hati mengemudi, jalanan licin selepas hujan deras tadi," ucap Pak Pendi.
"Terima kasih Pak." Sastra langsung membawa mobilnya meninggalkan rumah sakit dengan cepat, ia memacu mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi dan tidak memperdulikan kondisi jalanan basah yang bisa saja membawa bahaya.
Sampailah ia di pekarangan rumah Bunga. Rumah itu tampak sepi, lampu di dalam rumahnya tidak menyala, hanya lampu teras saja yang dihidupkan. Sastra mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam.
Sebenarnya mereka sedang kemana? Mengapa rumah ini seperti tak berpenghuni, tidak mungkin kan kalau mereka sedang jalan-jalan dengan keadaan Bunga yang belum pulih benar? Lagipula saat ini gerimis dan malam sudah hampir datang, orang yang baru sembuh mana boleh pergi dalam cuaca yang seperti ini.
Dia berusaha menepis semua gundah di hatinya dan memutuskan untuk bertanya pada orang-orang sekitar, Sastra mengedarkan pandangannya dan tak jauh dari sana terlihat sebuah warung kopi. Sastra bergegas mendatangi warung itu dan bertanya pada pemilik warung.
"Pak, maaf saya mau tanya, Bapak tahu kemanakah keluarga almarhum Pak Wahyu? Saya baru saja dari rumahnya tapi sepertinya orangnya tidak ada."
"Oh, maksudnya Bu Marni dan anak-anaknya ya Den?" sahut si bapak pemilik warung.
__ADS_1
"Iya benar Pak."
"Mereka sudah pindah lima hari yang lalu, dan rumah itu sudah di jual kepada Pak Dedi bosnya almarhum Pak Wahyu dulu," tuturnya.
"Pi-pindah? Pindah kemana pak?" Sastra bertanya dengan tidak sabaran.
"Saya juga kurang tahu Den, saat berpamitan Bu Marni tidak bercerita hendak pindah kemana, tapi sepertinya akan pindah ke tempat yang jauh karena rumah itu dijual beserta isinya, mereka sekeluarga cuma membawa koper pakaian saja."
"Ah, begitu ternyata, kalau begitu saya pamit Pak, dan terima kasih atas informasinya, mari Pak." Sastra bangkit dari duduknya.
"Sama-sama Den," jawab si penjual.
Sastra mencoba tetap tenang padahal hatinya sangat gusar, lalu ia teringat kepada Nana. Temannya Bunga itu pasti tahu kemana Bunga pindah. Ia langsung melajukan mobilnya menuju tempat kostnya Nana.
*****
Nana sedang menonton televisi sambil menyantap nasi gorengnya, lalu ia mendengar deru suara mobil yang berhenti tepat di depan tempat kostnya.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Iya sebentar." Nana menaruh piringnya di meja dan melangkah ke arah pintu, saat pintu terbuka dia sangat kaget melihat sosok di depannya.
"Pak Sastra, mau apa anda kemari?" Nana nampak tidak suka dengan kehadiran Sastra.
"Maaf mengganggu Na, ada hal penting yang ingin saya tanyakan, bisa kita bicara sebentar?" ucapnya serius.
"Anda mau bertanya tentang apa?" Nana hanya berbasa-basi padahal dia tahu benar pasti Sastra akan bertanya perihal Bunga, sangat terlihat jelas dari raut wajah pria itu yang tampak gelisah.
"Kamu tahu Bunga sekeluarga pindah kemana? dan bagaimana kondisi kesehatan Bunga sekarang?"
"Saya tidak tahu, lagipula jika saya tahu saya tidak akan memberi tahu anda kemana Bunga pindah, saya tidak akan membiarkan anda menyakiti Bunga lagi," jawabnya ketus.
"Nana saya mohon, saya harus tahu kemana mereka pindah dan kenapa begitu mendadak, saya sangat mencemaskan Bunga." Sastra memohon dengan putus asa.
"Tapi saya benar-benar tidak tahu, Tante Marni hanya bilang akan pindah jauh keluar pulau demi kesembuhan Bunga. Tante Marni ingin mental Bunga bisa sembuh dengan baik dan Bunga sendiri yang meminta ingin pergi jauh dari sini untuk menjauh dari Anda. Karena setiap kali melihat Anda Bunga selalu kembali histeris, Anda adalah trauma bagi Bunga jadi sebaiknya lepaskan dia jangan membuat Bunga makin tersiksa. Sebaiknya anda segera pergi dari sini, saya mau beristirahat. Selamat malam." Nana menutup pintunya meninggalkan Sastra yang masih termenung sendirian.
__ADS_1
Penuturan Nana membuat Sastra merasa tertampar bertubi-tubi, kenyataan bahwa kehadirannya telah benar-benar ditolak dan keberadaan dirinya hanya makin memburuk kondisi psikis Bunga membuat dadanya sangat sesak dan hatinya nyeri tak terperi.
Sebegitu besarkah kebencianmu terhadapku sayang? Bahkan kau lebih memilih untuk pergi menjauh dariku dan meninggalkanku, apakah ini hukuman darimu?