
Sastra menutup pintu dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia mengecek ponselnya dan ada pesan dari Nadine.
Sas, aku taruh obat untuk luka dan memar di depan pintu. Dan aku lupa belum memberitahumu, obat penenang Bunga ada di tasnya, untuk berjaga-jaga jika nanti dia kembali mengalami gangguan paniknya
Sastra membuka pintu mengambil bungkusan obat yang ditaruh Nadine dan membawanya ke dalam. Kemudian menarik kursi ke dekat tempat tidur dan duduk di sana.
Ditatapnya lekat wajah cantik yang sangat dirindukannya, dirapikannya anak rambut yang menutupi pelipis Bunga. Ia beralih melihat pergelangan tangan Bunga yang sedikit membiru bekas cekalannya tadi yang terlalu kencang sehingga meninggalkan bekas.
"Maaf, maafkan aku sayang. Aku sama sekali tak bermaksud menyakitimu, aku terlalu cemburu saat mendengar bahwa kamu sedang bersama sepupuku hingga membuatku hilang kendali, aku memang brengsek!"
Diraihnya tangan Bunga diusapnya dan dikecupnya bagian memar itu, Sastra menangis dalam diam menyesali perbuatannya tadi.
Ia mengambil obat yang diberikan Nadine dan mengoleskannya di pergelangan tangan Bunga yang membiru.
Sastra duduk dikursi hingga tertidur dengan posisi kepalanya di sisi ranjang dan tangannya masih menggenggam tangan Bunga.
*****
__ADS_1
Tetesan embun pagi membasahi dedaunan nan hijau, mentari menyinari dengan kehangatannya yang mampu mencairkan hati yang membeku, cahayanya yang menyilaukan mengintip melalui celah-celah gorden di kamar itu.
Bunga mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya lalu dengan perlahan bangun dan duduk di ranjang. Diperhatikan sekelilingnya dan tempat ini bukan dikamarnya, ia menoleh dan melihat Sastra duduk tertidur disampingnya dengan posisi tangan yang masih menggenggamnya.
Bunga terkesiap, tetapi kemudian diperhatikannya wajah tampan yang juga dirindukannya. Tangannya terulur hendak menyentuh rambut Sastra, namun pria itu seperti terusik dan Bunga langsung menarik tangannya kembali.
Sastra terbangun dan melihat Bunga yang sudah terduduk.
"Bunga."
"Aku mau pulang."
"Tunggulah, Nadine sebentar lagi akan kesini untuk memeriksa kondisimu, setelah itu akan kuantar pulang."
"Aku bisa pulang sendiri." Bunga hendak beranjak menuju pintu.
Sastra menahannya dan memeluknya dari belakang dengan eratnya.
__ADS_1
"Sayang maafkan aku, semalam aku terlalu cemburu membuatku kehilangan kendali, aku sangat menyesal. Kumohon jangan pergi lagi dariku, biarkan aku bertanggung jawab atas semua yang dulu kulakukan padamu, aku sangat merindukanmu hingga membuatku hampir gila rasanya." Sastra mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan dirinya di keharuman rambut Bunga.
Bunga ingin sekali berbalik dan balas memeluk Sastra, ia pun sama merindunya. Bunga memang sering gelisah dan panik saat lelaki lain mendekatinya, tetapi saat Sastra memeluknya justru rasa nyaman dan aman terasa menyelimuti dirinya, hanya saja goresan luka lama itu masih menyisakan sakit membuatnya urung untuk berbalik.
"Kamu tidak perlu bertanggung jawab apapun lagi terhadapku. Bayiku telah pergi, kamu sudah terbebas dari semua tanggung jawabmu," jawab Bunga ketus.
"Jangan berkata begitu, aku sangat menyesal. Tolong berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, hidupku hampa tanpa dirimu," desahnya dengan suara berat.
"Kita sudah berakhir Sas, semuanya telah selesai, jadi tolong lepaskan aku."
Sastra melepaskan pelukannya dan membalikkan Bunga sehingga posisi mereka berhadapan.
"Tidak bisakah kamu memberikanku kesempatan kedua? aku tak bisa hidup tanpamu. Tataplah aku jangan memalingkan wajahmu, apa kamu tidak bisa melihat kesungguhanku."
Bunga mendongak memberanikan diri menatap mata Sastra, mata elang yang dirindukannya, mata yang dulu selalu penuh semangat dan gairah kehidupan kini tampak kesepian dan penuh kesedihan. Bunga mencoba sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menangis.
"Tapi sekarang aku cacat Sas, aku tidak seperti dulu lagi." Akhirnya bola mata itu menggenang dan menjatuhkan sumber airnya.
__ADS_1