
Sastra adalah kekuatannya tapi juga yang melemahkannya. Sastra adalah kebahagiannya tapi juga deritanya. Sastra adalah pria yang dicintainya sekaligus dibencinya.
Jika suatu saat bertemu dengannya lagi Bunga bertekad bahwa ia akan terus membencinya, tetapi saat kemarin ia melihat lelaki itu berdiri di hadapannya rasa cintanya yang masih begitu besar kembali menyeruak ke permukaan, hanya saja cinta di hatinya masih diselimuti luka yang baru saja mengering.
Benteng pertahanan yang dia bangun runtuh sudah saat ia menatap, menelisik, menyelam ke dalam mata elang itu, kini mata itu dipenuhi dengan kesedihan dan kesepian sama seperti dirinya.
Tetapi Bunga masih begitu kecewa pada Sastra, karena semalam saat bertemu kembali lelaki itu memaksakan kehendaknya dan memperlakukannya dengan kasar, walaupun akhirnya ia tahu bahwa Sastra berbuat begitu karena rasa cemburunya. Tak dipungkiri hatinya kembali menghangat karena ternyata selama ini Sastra masih begitu mencintainya.
Bunga pun terkejut dengan kenyataan bahwa Rama adalah sepupu dari lelaki yang dihindarinya, dengan begitu berarti Nadine yang selama ini merawatnya masih berkaitan dengan Sastra. Bunga pikir telah berhasil menjauh dari yang berhubungan dengan yang namanya Sastra Prawira, tetapi ternyata selama ini ia masih berputar dalam lingkaran mantan kekasihnya itu.
Bahkan Bunga baru mengetahui bahwa Rumah Sakit Wira Medika yang selama ini menjadi konsumen terbesar usahanya masih milik Prawira Grup.
Bunga mengusap air matanya kasar.
"Aku cacat Sas, mentalku sakit. Yang kubutuhkan sekarang adalah orang yang bisa membantuku untuk kembali normal seperti biasanya dan Dokter Rama adalah orang yang tepat bagiku. Jadi aku tidak bisa memberikan kesempatan yang kamu minta untuk kembali bersamamu seperti di masa lalu."
__ADS_1
Sastra berusaha meredam amarahnya saat mendengar nama Rama keluar dari mulut gadis yang dicintainya.
"Tatap aku, apa kamu masih mencintaiku?" Sastra menatap Bunga dengan intens.
"Tidak, rasa itu sudah tidak ada lagi, dan satu hal jangan panggil aku Bunga karena Bunga sudah mati!" Gadis itu memalingkan wajahnya.
"Kamu bohong! Tatap mataku saat kamu mengatakannya!".
"Terserah kamu mau percaya atau tidak! Dan untuk kedepannya jangan sembarangan menyentuh atau memelukku karena kita sudah tidak lagi mempunyai hubungan yang seperti itu."
"Maafkan aku."
Lalu suasana hening, hanya terdengar suara detak jarum jam yang berputar di dinding.
"Kamu mencintai Rama?" Sastra kembali bersuara, "Tatap mataku saat kamu menjawabnya!"
__ADS_1
Bunga meremas bajunya untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya saat Sastra bertanya hal seperti itu padanya.
"Ya, aku mencintainya." Bunga menjawab dengan memberanikan diri menatap langsung iris mata elang itu. Ia berusaha menyangkal isi hatinya yang pada kenyataannya bahwa pria yang di hadapannya inilah yang selalu mengisi sanubarinya.
Sastra merasa hatinya sakit seperti diremas dengan kuat mendengar hal itu, lututnya terasa lemas, dan otaknya seakan buntu. Tetapi dia tidak percaya begitu saja dengan kata-kata gadis yang ada di hadapannya ini karena sorot mata Bunga berkata lain.
Terdengar suara ketukan di pintu, Sastra melangkah dengan gontai ke arah pintu dan membukanya, ternyata Nadine sudah datang sesuai janjinya kemarin.
"Masuklah Nad." Nadine masuk dan langsung menghampiri Bunga.
"Aku mandi dulu, setelah kamu selesai memeriksanya aku yang akan mengantarkannya pulang." Sastra berlalu masuk ke kamar mandi.
Ia masuk dan langsung mengguyur dirinya di bawah shower, Sastra memukul dinding kamar mandi hingga tangannya berdarah meluapkan marah pada dirinya sendiri karena tak mampu mengontrol emosinya waktu dulu dan juga kemarin malam.
Saat Bunga mengatakan bahwa dia cacat, itu pasti karena dirinyalah penyebabnya. Sastra mengingat perkataan Nadine semalam tentang Bunga yang sering terkena serangan panik saat ada lawan jenis yang mendekatinya, tetapi semalam dirinya malah merangsek memaksakan kehendaknya dan itu pasti malah menambah luka di hati Bunga.
__ADS_1