
Suara kicau burung mengalun merdu saling bersahutan, embun pagi menetes berjatuhan menyejukkan kalbu. Binar lembut sinar mentari mulai mengintip menyelusup melalui celah-celah jendela di kamar itu.
Bulu mata Caroline tampak bergerak-gerak pertanda dia mulai terusik dari tidur lelapnya, kepalanya masih terasa berat lalu matanya terbuka. Saat menatap langit-langit ia merasa asing dengan tempat ini, Caroline mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan ia terkejut karena terbangun bukan di dalam kamarnya. Dimana ini? Ia bergumam di dalam hatinya.
Dia mendudukkan dirinya terburu-buru dan segera turun dari tempat tidur lalu pandangannya tertunduk memperhatikan dirinya. Ternyata dirinya tertidur hanya memakai bathrobe, lalu dimanakah pakaiannya? Siapa yang mengganti pakaiannya? Dan sebenarnya rumah siapa ini?
Saat berbagai pertanyaan berkecamuk terdengar suara pintu yang terbuka, mata Caroline dengan cepat mengawasi ke arah pintu lalu muncullah seseorang yang sudah sangat dikenalnya.
"Kevin?" seru Caroline dengan mata menyipit menatap lelaki itu.
"Kamu sudah bangun, bagaimana keadaanmu sekarang?" Kevin mendekati Caroline yang masih mematung.
"Ke-kenapa aku... ada di sini?"
"Semalam aku menemukanmu tergeletak di basemen klub dalam keadaan mabuk berat. Berulang kali kutanya di mana alamatmu tapi kamu tak menjawab, jadi kuputuskan membawamu kesini, ini apartemenku." Kevin kemudian mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
__ADS_1
"Lalu di-dimana pakaianku? dan siapa yang menggantikannya dengan bathrobe ini?"
"Ah itu...." Kevin mengusap tengkuknya gusar.
"Semalam aku yang yang menggantikan pakaianmu, karena tidak mungkin kubiarkan kamu tertidur dalam keadaan penuh dengan muntahan. Maaf karena aku sudah lancang." terlihat semburat kemerahan di tulang pipi Kevin.
"Be-begitu rupanya," sahut Caroline tergagap.
"Terima kasih karena sudah peduli padaku." Caroline tersenyum canggung, lalu matanya melihat ke arah tangan Kevin yang membawa sesuatu. "Itu apa?" tanyanya.
"Oh iya, ini pakaian ganti untukmu. Karena pakaianmu yang semalam baru diambil petugas laundry tadi pagi, maaf jika modelnya tidak sesuai seleramu." Kevin meletakkan paper bag yang dipegangnya ke atas nakas.
"Tak masalah, bukankah kita masih berteman?" Kevin tersenyum hangat.
"Mobilmu sudah ada di tempat parkir apartemen ini, semalam aku menyuruh orang untuk membawanya ke sini dari basemen kelab, bersiap-siaplah aku tunggu di ruang makan." Kevin beranjak keluar dari kamar.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih Vin."
Kevin memutar tubuhnya dan mengangguk di ambang pintu. "Sama-sama Carol." Disusul dengan menutupnya pintu kamar itu.
*****
Wajah Bunga sedang dirias sedemikian rupa oleh tangan-tangan profesional di bidang make up, malam ini adalah malam spesial pesta besar yang diadakan keluarga Prawira akan digelar.
Bunga memakai gaun panjang berwarna moca dengan aksen berukat indah khas Indonesia rancangan desainer ternama, rambut panjangnya ditata dan digulung ke atas dengan menyisakan bagian anak-anak rambut di bagian depannya dibiarkan tergerai sehingga penataan rambut terkesan alami namun elegan.
Kulit kuning langsatnya makin bersinar bercahaya saat sapuan bedak dan teman-temannya mendarat mulus di wajah cantiknya, tak lupa lipstik dengan warna nude peach melengkapi tampilannya malam ini.
Pesta besar kali ini diadakan di salah satu ballroom hotel bintang lima di Jakarta. Semua kerabat Pak Arya dan Bu Marni diundang, juga semua kolega dan orang-orang penting turut menghadiri acara malam hari ini.
Sastra duduk dengan setia menunggu istrinya di luar ruangan rias di hotel itu, lalu pintu terbuka dan tampaklah Bunga keluar dari sana bak bidadari dengan kecantikan yang menyilaukan. Sastra bangkit menghampiri, ia mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh Bunga.
__ADS_1
"Sudah siap istriku?"
"Ya, suamiku," sahut bunga dengan sudut bibir tertarik ke atas.