Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 149


__ADS_3

Happy reading my beloved readers 💕😘 cekidot


*****


Hoeeeek... hoeeeek... hoeeeek....


Kembali terdengar suara gaduh yang berasal dari kamar mandi di pagi buta. Bunga mengucek matanya kemudian bangun, mengikat rambutnya dan turun dari tempat tidur, ia melangkah sedikit terseok masih dengan pandangan mata ayam.


Dilihatnya Sastra tengah berjongkok di sisi closet, Bunga menghampiri dan memijat-mijat tengkuknya. Sastra muntah hingga kerongkongannya terasa panas dan pahit, bahkan lambungnya terasa diremas seperti pakaian yang diperas airnya.


Setelah dirasa puas muntah, Sastra bangkit berdiri lalu berkumur membersihkan mulutnya. Bunga menunggu dengan sabar sampai suaminya itu merasa lebih baik kemudian keduanya kembali ke tempat tidur.


Bunga duduk bersandar ke kepala ranjang sedangkan Sastra berbaring dengan paha Bunga sebagai bantalan, wajahnya menghadap ke perut Bunga dan tangannya bergelung manja memeluk istrinya itu.


"Ku olesi kayu putih ya." Bunga meraih botol kayu putih di meja nakas samping tempat tidur.

__ADS_1


"Tidak mau! Aroma kayu putih membuatku semakin mual." Sastra menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Setidaknya kayu putih bisa menghangatkan perutmu dan setelahnya pasti akan terasa lebih nyaman," bujuk Bunga.


"Tidak tidak tidak, aku tidak mau. Aku hanya ingin menghirup aromamu, aroma tubuhmu adalah yang paling nyaman dan menyenangkan, mampu membuat perutku berhenti bergolak." Sastra makin menenggelamkan wajahnya dan mengendus-endus aroma tubuh Bunga yang memanjakan indera penciumannya.


Bunga terkikik geli, walaupun sebenarnya ia juga kasihan karena Sastra mengalami kehamilan simpatik. Dimana sang suami akan merasakan nikmatnya segala sesuatu tentang ngidam di saat istrinya sedang mengandung.


"Sayang, rasanya ingin sekali kubawa aromamu bersamaku kemanapun aku pergi, sekarang ini aku bahkan harus memakai masker saat ke kantor karena tidak tahan dengan aroma-aroma aneh yang mampir ke hidungku saat berada di sana."


"Maafkan aku, kamu pasti tersiksa dengan mual muntah yang selalu menderamu sejak aku hamil." Bunga terlihat khawatir.


"Ini bukan apa-apa, justru aku senang karena bisa ikut andil dan merasakan bahwa di saat istriku mengandung ternyata itu tidaklah mudah. Biarlah aku yang merasakan semua ini, aku hanya ingin kamu dan bayi kita selalu sehat dan bahagia saat bersamaku."


"Dulu... saat kehamilan pertamamu apakah seperti ini juga yang kamu rasakan? mual muntah yang menyiksa setiap pagi?" tatapan Satra menyendu penuh rasa bersalah.

__ADS_1


"Hmm, sama persis sepertimu sekarang." Bunga menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Maaf, maafkan aku sayang... di saat keadaanmu yang tengah hamil muda aku malah menyakitimu, perlakuanku padamu benar-benar biadab." Suara Sastra terdengar parau, terlihat buliran bening di sudut matanya yang mulai bergerak turun memberi jejak di wajah tampannya.


"Jangan bersedih lagi, semua sudah berlalu suamiku sayang." Bunga mengecup kening Sastra dan menghapus jejak air matanya.


"Jangan diingat-ingat lagi, biarlah semua masa lalu yang buruk perlahan luntur seiring berlalunya waktu. Sekarang kita istirahat lagi saja yuk, badanku masih terasa pegal karena pesta semalam."


"Sebelah mana yang pegal? sini biar kupijat." Sastra langsung bangun dan mendudukkan dirinya.


"Pinggangku, aku ingin pinggangku di usap-usap." Bunga merebahkan diri dan memiringkan tubuhnya. Sastra menyusul berbaring bersisian di sebelah Bunga.


Lengan kokohnya merangkul pinggang Bunga dan merapatkan tubuh mereka hingga menempel, lalu tangannya bergerak lembut mengusap pinggang istrinya itu.


"Istirahatlah sayang."

__ADS_1


*****


Terimakasih Author ucapkan pada semua readersku tercinta yang selalu setia menemani perjalanan novel 'Kapan Menikah', terimakasih juga untuk dukungan bintang, like dan poinnya, semua itu sangat-sangat berarti 💕😘🙏


__ADS_2