
Bunga sudah selesai menyusui Arion, setelah puas menyusu bayi itu bukannya tertidur tetapi malah berceloteh menggemaskan.
"Sayang tidurlah, biar aku yang menjaga Rion." Sastra mengusap puncak kepala Bunga dan mengecup keningnya, ia mengambil Arion dari tangan Bunga dan menggendongnya.
Bunga menguap karena rasa kantuk mulai kembali merayapi dan menggoda matanya untuk terpejam. "Terima kasih Papi." Bunga mencium pipi Sastra dan juga Arion lalu merebahkan diri dan menarik selimut, tak butuh waktu lama dengkuran halus mulai terdengar menandakan Bunga sudah tenggelam ke dalam tidurnya.
Sastra membaringkan Arion di ranjang lalu ia merebahkan diri bersisian dengan putranya, Sastra memiringkan tubuhnya menghadap bayi menggemaskan itu dan menopang kepalanya menggunakan sebelah tangannya.
Tangan Arion mencoba menggapai-gapai wajah Sastra, bayi itu tertawa lebar dengan lucunya, sepertinya ia senang berdekatan dengan papinya. Sastra memberikan telunjuknya dan Arion langsung menyambutnya menggenggamnya erat dengan jemari mungilnya.
Sudah hampir satu jam Arion berceloteh tetapi sepertinya bayi itu tak kunjung mengantuk juga, mata Sastra mulai terasa berat, bahkan terkadang tanpa sengaja matanya terpejam sejenak terbuai rasa kantuknya dan sesaat kemudian kembali tersadar bahwa sekarang ia harus tetap terjaga untuk menjaga putranya.
Tiba-tiba Arion mulai merengek. Sastra langsung menggendongnya dan mengayun-ayunkan putranya, tetapi Arion tak berhenti menangis. Sastra mengendus-endus sekitarnya karena mencium sesuatu yang tidak enak mampir di indera penciumannya.
__ADS_1
Semakin lama aroma tidak sedap itu semakin kuat, aroma itu terasa begitu dekat dengannya. Sastra terkesiap, rasa kantuknya langsung hilang, ia mendekatkan hidungnya ke pantat Arion dan benar saja sumbernya itu berasal dari sana.
Ternyata bayi itu menangis karena buang air besar sehingga membuatnya tidak nyaman dan rewel. Sastra kebingungan, selama ini ia belum pernah mengganti popok Arion, matanya melirik ke arah Bunga namun tidak sampai hati membangunkan istrinya yang tertidur pulas.
Sastra mengambil alas yang biasa dipakai untuk membaringkan Arion ketika Bunga mengganti popok, ia pernah beberapa kali melihat Bunga melakukannya jadi setidaknya ada sedikit gambaran bagaimana cara mengganti popok bayi.
Diambilnya masker untuk menutup hidungnya, ia membuka celana bayi itu kemudian popoknya. Aroma itu kian menyeruak hingga membuat Sastra mual-mual, saat popoknya dibuka Arion berhenti menangis dan malah tertawa riang seolah puas telah mengerjai papinya.
Hoek... hoek... hoek....
Bunga terkikik geli, Sastra nampak tegang seperti akan berangkat ke medan perang, Bunga mendudukkan dirinya dan menepuk pundak suaminya.
"Papinya Rion." Sastra menoleh, Bunga menahan tawanya, karena Sastra memakai masker hanya untuk mengganti popok.
__ADS_1
"Sayang maaf, tadinya aku tidak ingin mengganggu tidurmu," sahut Sastra disela-sela menahan mualnya.
"Biar aku saja." Bunga tersenyum lembut pada Sastra.
"Baiklah." Sastra langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi karena mualnya masih belum mereda.
*****
Saat Sastra keluar dari kamar mandi, Bunga sudah selesai mengganti popok. Wangi minyak telon menguar dari tubuh mungil nan hangat itu dan sekarang Arion sudah kembali tertidur pulas. Bunga hendak membaringkan Arion ke dalam box bayi, tetapi Sastra menahannya.
"Bagaimana kalau malam ini Arion tidur di ranjang bersama kita? aku ingin tidur sambil memeluk anak dan istriku."
Bunga mengulas senyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku juga ingin tidur sambil memeluknya, ayo kita beristirahat, malam sudah semakin larut."
__ADS_1
Bunga membaringkan Arion ditengah ranjang dan memeluknya, Sastra menyusul berbaring di sisi lainnya dan tangannya memeluk Bunga dengan Arion ditengah-tengah mereka. Malam semakin gelap, suara gemericik gerimis seumpama lagu tidur yang tercipta dari alam, semakin merayu mereka dengan mesra untuk terlelap dengan hati yang membuncah bahagia.