
Sastra masih berkomunikasi dengan Bu Marni.
"Iya Nak Sastra, Tante sangat khawatir. Baru kali ini Bunga belum pulang hingga larut malam begini," jawabnya panik.
"Saya akan bergerak sekarang, do'akan saya secepatnya menemukan mereka."
Sastra ingat dia memasang chip pelacak di ponsel Bunga, Sastra menghidupkan GPS di ponselnya, beruntung ponsel Bunga tidak mati sehingga bisa langsung telacak posisinya.
Dilihatnya di peta ternyata GPS menunjukkan posisinya agak jauh dari pusat kota, sepertinya sekitar daerah pegunungan. Sastra dan para bodyguardnya langsung menuju ke titik lokasi tersebut.
Medan jalan yang sempit dan berkelok-kelok menembus hutan belantara, ditambah dengan jurang curam di salah satu sisi dan dengan tidak adanya lampu jalan, membuat daerah itu sedikit sulit dilalui untuk berkendara di malam hari. Mereka semua harus berhati-hati dan mengurangi kecepatan karena salah sedikit saja bisa-bisa terperosok ke dalam jurang.
Sastra bahkan memukuli setirnya frustasi, inginnya segera sampai di tempat tujuan, tetapi dia harus bersabar dan berhati-hati mengendarai mobilnya.
*****
__ADS_1
Rama berusaha melepaskan dress yang di pakai Bunga, tetapi lagi-lagi gadis itu menggigitnya. Rama kembali menamparnya sehingga sudut bibir Bunga berdarah, dia sudah tidak memperdulikan jeritan Bunga, telinganya seakan tuli dan hanya nafsu setan yang kini menguasainya.
"HENTIKAN KAK! KAMU JAHAT ! JANGAN SENTUH AKU! KUMOHON LEPASKAN AKU!"
Dengan sekali sentakan Rama menarik dress itu hingga robek tak berbentuk, kini Bunga meringkuk menekuk kakinya berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya.
Tidak sampai disitu, bahkan Rama menarik bra dan celana dalam Bunga hingga koyak. Rama menelan ludahnya dan menatap tubuh telanjang Bunga dengan lapar. Rama sedikit melepaskan cekalannya pada Bunga dan bergerak melucuti pakaiannya sendiri.
Di saat itu dengan cepat mata Bunga melihat sekeliling kamar dan melihat sebuah vas berada meja nakas di sisi ranjang dekat kepalanya. Tangan Bunga berusaha meraihnya disaat Rama sedang sibuk membuka baju, hingga kemudian ia berhasil menggapainya dan_
Bunga memukul kepala Rama dengan kencang menggunakan vas hingga pecah berkeping-keping, membuat pria itu mengerang kesakitan dan ada sedikit darah yang menetes dari kepalanya lalu kemudian pingsan.
Dengan tubuh yang lemah, Bunga berusaha menggulingkan Rama yang pingsan menindih tubuhnya. Dia mengumpulkan semua tenaga yang tersisa dan keberanian yang dimilikinya untuk melepaskan diri.
Dengan susah payah akhirnya Bunga bisa lepas, ia turun dari ranjang dan langsung ambruk di lantai. Bunga beringsut berusaha keluar dari kamar itu, menyeret tubuhnya yang gemetar hebat dan ketakutan dan memungut dressnya yang sudah tak berbentuk.
__ADS_1
Bunga ingin berlari tetapi tubuhnya tidak bisa. Sesampainya di luar kamar gangguan kecemasannya memuncak, ditambah lagi dia melihat percikan darah ditangannya membuatnya menangis menjerit-jerit histeris menjambaki rambutnya sendiri, memeluk erat tubuh telanjangnya yang gemetar dengan dress robek ditangannya. Bunga membutuhkan obatnya saat ini.
*****
Mobil Sastra dan para bodyguardnya telah sampai di depan sebuah rumah tua. Titik lokasinya tepat di sini, Sastra mencoba menggedor-gedor gerbang tetapi tidak ada respon dari dalam rumah, akhirnya mereka memanjat pagar tinggi itu untuk masuk ke dalam.
Sastra menelepon ponsel Bunga dan bunyinya terdengar dari mobil yang terparkir, ia berlari ke mobil yang di maksud dan melihat ponsel Bunga menyala didalamnya. Sastra memeriksa nomor mobil tersebut dan ini adalah mobil milik Rama.
Sejenak Sastra termenung. Berarti Bunga dan Rama ada disini, tetapi apa yang mereka sedang lakukan di tempat sepi seperti ini? Apakah mereka sedang melalui momen romantis setelah lamaran di cafe tadi? Berarti jika dia datang hanya menjadi pengganggu saja. Gumamnya dalam hati.
Namun tiba-tiba salah satu bodyguardnya tergesa-gesa menghampirinya.
"Bos, ad-ada... suara wanita menjerit-jerit dan menangis dari sisi belakang rumah ini."
Sastra langsung terhenyak dari lamunannya, "cepat tunjukkan padaku disebelah mana!"
__ADS_1
Mereka semua berlari ke arah sumber suara, Sastra menempelkan telinganya di pintu dan ia mengenali suara tangisan itu, itu suara Bunganya, kekasih hatinya.