Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 61


__ADS_3

"Apa ini?" Raut wajah Sastra terlihat sangat khawatir.


"Bukalah," ucap Bunga masih dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


Sastra membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya, dilihatnya ada benda pipih yang mempunyai dua garis merah dan satu buah foto hitam putih.


"Maksud dari kedua benda ini apa sayang? aku tidak mengerti." Sastra menatap Bunga penuh tanya.


Bunga meraih tangan Sastra lalu menaruh tangan itu di perutnya, Sastra mengerutkan keningnya tanda masih belum mengerti.


"Sas, aku hamil."


DEG....


Sastra tiba-tiba membeku seperti sebongkah es di kutub utara saat mendengar kata-kata yang diucapkan Bunga.


"Aku harap kita bisa segera meresmikan hubungan kita dalam ikatan pernikahan demi bayi yang sedang tumbuh di rahimku," pintanya.

__ADS_1


"Ka-kamu ha-hamil?" Sastra tergagap.


"Iya Sas, aku hamil, ini anakmu anak kita," sahutnya dengan binar bahagia dimatanya.


"Ba-bagaimana... bagaimana bisa?" Sastra seperti orang linglung.


"Apa maksud dari pertanyaanmu? bukankah kita sudah sering melakukannya? apakah kamu ingat sebelum berangkat ke New Zealand kita bercinta berkali-kali melakukannya tanpa pengaman, dan yang kita lakukan itu akan menghasilkan janin bukan? bahkan tadi malam pun kamu menumpahkannya lagi di dalam diriku."


Sastra tiba-tiba merasakan kegelapan menyelimuti dirinya, kata-kata tabu yang paling dihindari dalam hidupnya kini terdengar kembali. Anak? Menikah?


Seketika itu juga trauma masa lalunya tentang pengkhianatan sang ayah yang melukai jiwanya dan membuat Sastra merasa bahwa dua hal itu adalah adalah hal yang sia-sia kembali menyeruak ke permukaan memenuhi seluruh jiwanya, pikiranya seakan buntu membuat monster dalam dirinya yang sudah lama tertidur muncul kembali mengaliri aliran darahnya.


Memang benar hanya Bunga lah yang mampu membuatnya jatuh cinta, membuatnya menjadi sosok yang setia dan bertanggung jawab, selalu melindungi dan menyayangi gadis yang dicintainya.


Tetapi ternyata itu semua belum cukup untuk menyembuhkan luka masa lalunya, saat ini luka di jiwanya lebih mendominasi dan menghimpit rasa cintanya, trauma itu telah menguasai dirinya dan memaksa mengambil alih akal sehatnya.


Sastra menarik tangannya dari perut Bunga, ekspresi wajahnya yang selalu hangat ketika bersama Bunga kini tiba-tiba menghilang, berganti dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengeras, dan itu semua tidak luput dari pengamatan Bunga yang melihat perubahan raut wajah Sastra tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Sastra menatap Bunga dengan tatapan tajam sedingin es membuat Bunga tidak mengenali sorot mata kekasihnya itu.


"Kenapa Sas? ada apa?" Mata Bunga menatap kedalam mata dingin itu mencari-cari apa gerangan yang sedang terjadi pada kekasihnya.


"Bunga...." Kata-katanya terjeda.


"Iya ada apa?" Bunga menatapnya dengan cemas.


"Gugurkan bayi itu!"


Bunga mencoba mencerna kata-kata yang baru saja dia dengar. "Ap-apa yang kamu katakan?"


Bunga mencoba bertanya setenang mungkin berharap bahwa dia hanya salah mendengar saja. Sastra melemparkan amplop beserta test pack dan foto USG ke atas ranjang.


"Gugurkan bayi itu! karena aku tidak pernah ingin mempunyai anak!" serunya dengan suara meninggi.


PLAK....

__ADS_1


Tangan Bunga melayang menampar lelaki dihadapannya. Bunga merasakan seperti ada ribuan pedang yang menghujam tepat di jantungnya, mengobrak-abrik jiwanya tanpa belas kasihan, terasa begitu menyakitkan beribu-ribu kali lipat mendengar kata-kata itu meluncur dari lelaki yang sangat dicintainya, Bulir air matanya mulai berjatuhan seiring tubuhnya yang gemetar dan luruh ke lantai.


__ADS_2