Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 106


__ADS_3

Hampir dua jam dia berlama-lama memandang wajah cantik yang terlelap itu. Rama menepuk-nepuk pipi Bunga dan mulai menciumi wajahnya, ia ingin gadis itu tersadar saat ia melakukan hal itu padanya, agar Bunga mengingat apa yang akan dilakukan olehnya malam ini.


Rama sudah menyesuaikan dosisnya, agar Bunga terbangun dalam waktu yang sudah ditentukan. "Lia, bangun sayang." Rama berbisik lalu merambat mengecupi leher gadis itu.


Bunga merasakan tangan yang menepuk-nepuk pipinya, embusan napas di telinganya, dan ada benda kenyal yang mengecupi lehernya. Ia masih dalam sisa-sisa pengaruh obat tidur, tetapi pergerakan itu membuatnya terusik.


Matanya masih berkunang-kunang, lalu dia menunduk dan melihat Rama sedang menciumi lehernya dengan tangan yang memeluk erat tubuhnya. Bunga berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mencoba mendorong tubuh Rama.


"Kak, apa yang Kakak lakukan, kumohon jangan begini!" ucapnya lemah.


Bunga mulai ketakutan. Walaupun dia belum bisa meraih kesadarannya secara utuh, tetapi gadis itu tahu apa yang sedang ingin dilakukan Rama padanya.

__ADS_1


"Karena kamu menolakku, maka aku akan membuat dirimu yang datang padaku. Jadi kuputuskan melalui jalan pintas saja supaya lebih cepat sampai, yaitu dengan cara membuatmu hamil benihku! Dengan begitu kamu tidak akan bisa pergi dariku!"


Seluruh tubuh gadis itu gemetar ketakutan, kata-kata yang diucapkan Rama menambah kengerian yang tak terperi. Bunga tidak mengenali lagi sorot mata Rama yang sekarang, kemanakah perginya Rama yang selalu melindunginya?


Bunga berusaha meronta-ronta dan memukul serta mendorong Rama sekuat tenaga, ia mencoba bangkit dengan tubuh lemahnya, tetapi Rama langsung menariknya dan mendorongnya kasar hingga Bunga kembali terlentang di tempat tidur.


"SADARLAH! KENAPA KAKAK JADI BEGINI? KUMOHON LEPASKAN AKU! LEPASKAN! SADAR KAK, SADAR! Bunga menjerit-jerit dan mulai menangis.


Rama sudah seperti kerasukan setan, dia tidak memperdulikan Bunga yang menjerit-jerit histeris. Hatinya seperti mati rasa, yang ada di kepalanya saat ini adalah ingin segera memiliki Bunga secepatnya.


Rama mengungkung Bunga yang ada dibawahnya yang terus saja melawan ingin dilepaskan, padahal Bunga mau melawan sebanyak apapun ia tidak akan bisa mengalahkan tenaga Rama, terlebih lagi tubuhnya masih lemah akibat efek obat tidur.

__ADS_1


Rama mencengkeram rahang Bunga dan satu tangannya mencekal kedua tangannya. Lalu dia menciumnya dengan brutal memaksakan bibirnya merangsek ke dalam mulut Bunga, tidak ada kelembutan sama sekali, hanya terdengar geraman nafsu yang menggebu-gebu dari Rama.


Pipi Bunga sudah basah oleh air mata yang menganak sungai, ia menjambaki rambut Rama, berharap pria itu kembali tersadar dan menghentikan kegiatannya. Pada saat pria itu merambat menciumi lehernya Bunga berusaha menggigit tangan Rama dengan kencang, membuat Rama mengaduh dan melepaskan cekalan tangannya.


Bunga berusaha kembali mendorong tubuh yang menindihnya itu, tetapi justru makin membuat Rama kalap dan menamparnya dengan kencang.


PLAK....


"Kamu lebih baik diam! Jika kamu menurut aku akan melakukannya dengan lembut, tapi jika kamu terus melawan maka aku akan lebih kasar dari ini!" ancamnya.


Bunga meringis, pipinya berdenyut, hatinya sakit, dadanya sesak dan mentalnya menciut. Gangguan paniknya muncul dengan hebatnya lebih parah dari sebelumnya, wajahnya memucat, keringat dingin membanjiri pelipisnya diiringi tangisannya yang meraung menjerit putus asa dan terdengar sangat memilukan.

__ADS_1


__ADS_2