Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 44


__ADS_3

Setelah selesai mandi Bunga hanya memakai kemeja Sastra karena baju tidurnya yang semalam sudah tidak bisa dipakai lagi. Gaun itu robek saat Sastra melucutinya dengan tidak sabaran.


Saat Bunga keluar dari kamar mandi, matanya mendapati pakaian dalamnya pun tak bisa dipakai lagi karena telah menjadi serpihan dan tercecer berserakan di lantai, membuatnya bergidik dan terbersit rasa bersalah ketika mengingat kembali keputusannya tadi malam.


Lalu Sastra menyusul keluar dari kamar mandi mengalihkan pikiran Bunga, ia berjalan sambil menggosok rambut basahnya dengan handuk membuat ketampanannya bertambah berkali kali lipat dengan rambut acak-acakan.


"Sas, aku mau kembali ke kamarku sekarang, aku harus berganti pakaian dan bersiap-siap." Bunga hendak melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Beristirahatlah, hari ini tidak usah menemaniku." Sastra mengusap kepala Bunga dan memintanya untuk duduk.


"Tapi aku tidak enak dengan karyawan yang lain, mereka bekerja sedangkan aku malah bersantai disini," ucapnya kebingungan.


"Jika ada yang bertanya tentangmu aku akan bilang bahwa kamu sakit, tidak akan ada yang berani membantahku karena akulah bosnya. Lagipula bukankah kamu sudah bekerja semalaman dan juga sepanjang pagi ini?" ujarnya menggoda.


Bunga kembali merona karena malu. "Baiklah bos mesum otoriter, hamba akan beristirahat saja disini, lagipula aku kelelahan begini juga karena ulahmu!" Bunga ingin sekali menyembunyikan wajahnya yang semakin memanas.


"Benarkah kamu kelelahan, tapi sepertinya tidak?" Sastra malah menyeringai menjengkelkan.

__ADS_1


"Sudah hentikan, jangan menggodaku lagi!" Bunga bersungut-sungut sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Hahaha... maafkan aku sayang." Lalu ponsel Sastra berbunyi dan itu adalah panggilan dari Fajar.


"Selamat siang Pak, untuk sarapan hari ini anda ingin dipesankan apa? kami sudah mereservasi meja di restoran favorit anda."


"Tolong pesankan menu favoritku lengkap untuk dua orang dan aku ingin sarapanku diantar ke kamarku secepatnya," perintahnya pada Fajar.


"Baik, lalu reservasi mejanya bagaimana Pak?" Fajar kembali bertanya.


"Teruskan saja, kalian makanlah di restoran tanpa aku," titahnya singkat.


"Si bos pengen sarapan di kamar dan untuk dua orang?" Fajar bergumam sendiri, tetapi kemudian otaknya kembali tersadar.


"Jangan-jangan si bos sama pacarnya lagi anu...? aduh otakku yang cerdas sudah tercemar!" Fajar merutuki dirinya karena pikiran liarnya, dia bahkan menjadi salah tingkah akibat pikirannya sendiri membuat para pelayan di restoran memandanginya keheranan.


****

__ADS_1


Sastra tengah menyuapi Bunga, yang disuapi kembali protes sembari mengunyah makanannya. "Sas aku bisa makan sendiri!"


"Tapi aku ingin menyuapimu, jadi biarkan aku melakukannya, lagipula kamu sedang sakit bukan?" Sastra tetap pada pendiriannya dan tak mau dibantah.


"Tapi aku ingin makan sendiri, lagipula tanganku kan nggak sakit!


"Terus yang sakit apanya?" Sastra menaikkan alisnya.


"Sudah ah jangan dibahas melulu!" sahutnya kesal.


Sastra tergelak melihat Bunga yang salah tingkah. Dia melanjutkan menyuapi gadisnya hingga makanannya habis.


"Baiklah, sekarang istirahatlah. Akan kuusahakan menyelesaikan urusanku dengan cepat."


"Pergilah jangan khawatirkan aku." Bunga mendongak menatap Sastra. Lalu Sastra mencium keningnya.


"Kunci pintunya, aku akan segera kembali."

__ADS_1


Bunga mengangguk dan mengantar Sastra hingga ke pintu, Setelah Sastra keluar dari kamar Bunga mengunci pintunya lalu merebahkan tubuhnya yang terasa amat sangat lelah, bahkan otaknya sudah tidak bisa memikirkan hal lain lagi karena yang diinginkannya sekarang adalah beristirahat dan tidur.


__ADS_2