
Setelah menghabiskan sarapannya, Sastra melajukan mobilnya kembali ke hotel dan menelepon Tommy.
"Tom, Carikan aku tempat tinggal yang lokasinya dekat Flower's Cake & Bakery, aku berencana untuk tinggal disini lebih lama."
"Baik Pak."
*****
Sore harinya, Pak Arya, Andrew dan Caroline langsung kembali ke Jakarta setelah rapat dewan direksi rumah sakit, sedangkan Tommy masih di Banjarmasin menemani Sastra.
"Pak saya sudah menemukan tempat tinggal untuk anda di Grand Banua Apartemen, letaknya dekat dengan Sungai Barito dan toko kue nona Bunga. Memang tidak semewah apartemen anda di Jakarta tapi tempatnya cukup nyaman."
Tommy sedang duduk berhadapan di sebuah cafe bersama Sastra dan menunjukkan beberapa gambar dari ponselnya.
"Oke, segera urus semuanya. Aku ingin apartemen bisa ditinggali mulai besok dan setelah selesai kembalilah ke Jakarta, aku akan mengurus masalah perusahaan dari sini. Untuk rapat bisa kita lakukan secara online, kecuali jika ada masalah yang mendesak aku akan langsung terbang ke Jakarta."
"Baik Pak, untuk masalah apartemen saya pastikan semuanya selesai esok hari," ucap Tommy.
"Jangan lupa kamu siapkan jetku untuk keadaan darurat di sini, dan carikan pilot terbaik," perintahnya.
__ADS_1
"Siap Pak."
*****
Sore ini setelah selesai dengan urusan di rumah sakit Rama langsung tancap gas menuju toko kue Bunga. Sejak semalam dia tidak bisa tidur, Rama kesal pada kakaknya yang malah membiarkan gadis itu bersama dengan Sastra.
Hanya dalam waktu lima belas menit mobilnya sudah sampai di depan toko, begitu masuk dia melihat Bunga sedang duduk di salah satu kursi dengan laptop di depannya.
"Lia." Rama duduk di depan Bunga dengan napas yang tak beraturan.
"Kak Rama, kenapa ngos-ngosan begitu? habis ngejar-ngejar pasien?" tanya Bunga spontan dengan mata memicing.
Bunga menatapnya heran karena cuaca hari ini biasa saja bahkan sedikit mendung. "Kakak mau minum apa? biar kubuatkan." Bunga hendak beranjak namun ditahan oleh Rama.
"Nggak usah, biar Nisya aja. Nis pesan caramel machiato dingin satu." Rama berteriak dari tempat duduknya.
"Oke Dokter ganteng." Nisya melayangkan fly kiss untuk Rama yang disambut dengan tatapan melotot dari dokter itu.
"Ada apa Kakak kesini?" Bunga menutup laptopnya.
__ADS_1
"Aku cuma khawatir saja padamu, apa semalam Bang Sastra berbuat macam-macam?" Rama bertanya penuh selidik.
"Aku baik-baik saja, jadi tidak usah khawatir berlebihan seperti itu. Karena dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi serta gangguan kehamilan dan janin." Bunga terkikik geli.
"Memangnya 'khawatir' salah satu merek rokok apa!" Rama mendengus kesal.
"Hahaha, maaf. Habisnya muka Kakak ditekuk gitu sih, awas nanti cepat tua lho," ledeknya.
"Benar Bang Sastra orangnya?" Rama bertanya serius.
"Hmmm." Bunga mengangguk.
"Lia, kamu sudah tahu kan bahwa aku suka padamu?" Bunga hanya mematung tidak bereaksi apapun dengan pertanyaan Rama.
"Apa kamu akan kembali padanya? kamu jangan bodoh! Dia adalah orang yang sudah menghancurkanmu. Kamu ingat perjuanganmu selama ini untuk kembali normal? Itu tidak mudah bukan?"
Rama sengaja memprovokasi Bunga, sebagai dokter psikiatri dia tahu bahwa Bunga masih mencintai Sastra. Hanya saja Rama tidak rela jika gadis yang disukainya malah kembali pada sepupunya, karena jika itu terjadi maka kesempatannya untuk bisa bersama Bunga pupuslah sudah.
Bunga terdiam. Gadis itu masih terngiang perkataan dokter Nadine tadi pagi tentang menelaah perasaannya, tetapi apa yang dikatakan Rama juga ada benarnya, Bunga benar-benar dalam dilema saat ini.
__ADS_1