
Setelah selesai mandi Sastra langsung bergabung masuk ke dalam selimut dan memeluk Bunga yang membelakanginya, diciuminya rambut Bunga dan dia mencoba untuk memejamkan matanya tetapi ternyata tidak bisa.
Aroma feromon yang menyeruak dari tubuh Bunga membuat sesuatu di dalam dirinya mendesak ingin dibebaskan, apalagi ia kembali mengingat rasa luar biasa yang membanjiri dirinya ketika sebelum berangkat ke New Zealand.
Sastra menciumi tengkuk Bunga, tangannya menelusup masuk dibalik baju gadisnya dan menyentuh titik-titik lemah kekasihnya itu. Bunga kembali terbangun dan melenguh ketika merasakan sentuhan tangan Sastra yang sangat ahli membangkitkan gairahnya.
Mendengar desahan Bunga yang telah terpancing membuat hasrat Sastra semakin naik, lalu ia membalikkan tubuh Bunga dengan hati-hati sehingga posisi mereka berhadapan, ditelusurinya wajah cantik itu dan ditatapnya mata indah yang memandangnya sayu.
Sastra menyatukan bibirnya dan mencium Bunga dengan sangat lembut penuh cinta dan kemesraan, lalu dipagut dan dilumatnya bibir ranum itu penuh kerinduan seolah ingin membebaskan rasa rindu yang menyiksa di seluruh urat nadinya.
Bunga membalas ciuman Sastra dengan rasa yang sama merindunya, Sastra semakin merapatkan pelukannya dan satu tangannya mengelus tengkuk Bunga, bunyi decapan dari bibir mereka yang saling ******* terdengar mengalun di malam yang semakin larut dan sunyi.
Malam ini mereka kembali memadu kasih, hanya saja Sastra melakukannya dengan sangat lembut tidak seperti biasanya yang selalu menggebu-gebu, dia ingin menikmati setiap detik kebersamaan dengan gadisnya yang terlewat satu bulan ini.
Setelah satu jam lebih saling memacu dan berlomba berkejaran satu sama lain akhirnya mereka mencapai batasnya dan langsung ambruk bersama.
__ADS_1
Sastra membawa Bunga ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka dan menggendongnya kembali ke ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka memeluk gadisnya dan mereka langsung terlelap karena kelelahan.
*****
Pukul lima pagi Bunga terbangun karena merasakan perutnya kembali bergolak, ia turun dari ranjang lalu mengambil baju tidurnya yang teronggok dilantai, memakainya dengan cepat dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.
Morning sicknes ini sungguh menyiksanya, Bunga kembali muntah dengan hebatnya membuat kerongkongannya terasa sakit dan panas hingga air matanya ikut keluar.
Sastra ikut terbangun karena merasa kehilangan seseorang yang didekapnya. Ia mendengar suara gaduh dari kamar mandi, lalu Sastra bangkit memakai treningnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Sastra langsung panik melihat Bunga yang bersimpuh disisi toilet sedang muntah-muntah, lalu ia menghampirinya dan tangannya mengusap-usap punggung Bunga.
Bunga mengibas-ngibaskan tangannya memberi tanda agar Sastra pergi dan jangan mendekatinya tetapi pria itu tidak beranjak sedikitpun.
Setelah selesai mengeluarkan isi perutnya hingga tak bersisa barulah Bunga merasa sedikit lega, sebenarnya yang dimuntahkannya hanya air saja, lalu dia membersihkan mulutnya di wastafel dan menyandarkan dirinya di dinding.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita ke Dokter sekarang! Kamu muntah-muntah hebat dan wajahmu sangat pucat." Raut wajah Sastra berubah khawatir, dia bermaksud menggendong Bunga tetapi tangan gadis itu menahannya dan malah tersenyum membuat Sastra mengernyitkan keningnya.
"Kamu itu sedang sakit, kenapa malah tersenyum bahagia?"
"Aku nggak apa-apa Sas." Bunga malah menarik tangan Sastra keluar dari kamar mandi dan membawanya duduk disisi ranjang.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu, sesuatu yang membuatku mual-mual seperti tadi." Senyum Bunga merekah bahagia.
"Sayang jangan menakutiku, apakah kamu sedang sakit parah? cepat katakan padaku, bila perlu kita pergi keluar negeri sekarang juga untuk mengobati sakitmu!" Suaranya terdengar penuh kecemasan.
Bunga membuka laci nakas dan mengambil sesuatu lalu duduk disamping Sastra dan menyerahkan sebuah amplop pada pria itu.
"Apa ini?" Raut wajah Sastra terlihat sangat khawatir.
"Bukalah," ucap Bunga masih dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
__ADS_1