Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 72


__ADS_3

"Tan-Tante...." Sastra masih berdiri mematung di dekat pintu, lalu bu Marni berjalan mendekat kearahnya.


PLAKKK....


Sebuah tamparan yang kencang mendarat mulus di pipi Sastra.


"KAMU... APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA PUTRIKU! KENAPA DIA BISA JADI SEPERTI INI!"


Bu Marni memukuli Sastra membabi buta, lelaki itu sama sekali tidak menghindar dari pukulan dan bersimpuh di hadapan Bu Marni.


"Maafkan saya Tante... maafkan saya." Ia menjawab seraya tertunduk tak berani menatap langsung mata ibu dari wanita yang disakitinya.


Namun tiba-tiba Bunga mulai siuman dan memanggil-manggil bapaknya dengan suara lemah nan lirih.


"Pak... Bapak...."

__ADS_1


Bu Marni dan Sastra langsung menoleh ke arah ranjang, mereka secara bersamaan menghampiri Bunga. Perlahan mata gadis itu mulai terbuka sedikit demi sedikit dan hal yang pertama kali dilihatnya adalah ibunya dengan wajah berurai air mata.


"Bu...." Bunga memanggil ibunya dan mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat dan pusing.


Mata Bunga beralih menelusuri ruangan yang serba putih berbau desinfektan itu. Saat pandangannya mulai normal kembali, lalu ia menoleh ke sisi kirinya dan melihat pria yang telah menghancurkan hatinya berdiri tepat di samping tempatnya berbaring. Bunga seketika menegang, napasnya mulai tersengal tidak beraturan, kemudian menjerit dan berteriak.


"PERGI... PERGI KAMU! AKU BENCI PADAMU... AKU TIDAK INGIN MELIHATMU PERGIIIIIIIIII...!"


Bunga meronta-ronta membuat beberapa peralatan medis yang menempel ditubuhnya terlepas.


"JANGAN SENTUH AKU BRENGSEK! JANGAN PANGGIL AKU SAYANG DENGAN MULUTMU YANG KEJAM ITU, AKU BENCI PADAMU, AKU BENCI... PERGI KAMU PERGIIIIIIIIII...!"


Bunga menjerit-jerit histeris sambil menutup kedua telinganya. Dan Nana yang melihat dari luar langsung berlari memanggil dokter.


Dokter segera masuk dan menyuntikkan obat penenang, hingga beberapa saat kemudian Bunga berangsur tenang walaupun masih sesenggukan dipelukan ibunya.

__ADS_1


Dokter meminta yang lainnya menunggu di luar, kemudian memeriksa kondisi Bunga secara seksama.


"Syukurlah Nyonya, putri anda sudah melewati masa kritisnya, hanya saja yang harus kita perhatikan sekarang adalah kondisi kejiwaannya. Hindari membahas hal yang membuat pasien makin stress, untuk sementara waktu jauhkan juga dari orang-orang yang membuat kondisi psikisnya makin memburuk dan tolong jangan tinggalkan dia sendirian, kami khawatir putri anda akan kembali mencoba bunuh diri".


Dokter berpamitan setelah memastikan Bunga kembali tenang dan tertidur.


Bu Marni makin hancur dengan kenyataan ini, putri yang selama ini selalu membantunya menjadi tulang punggung keluarga kini hampir seperti orang gila, bahkan Bunga sempat hamil dan mencoba bunuh diri membuat hatinya mencelos dan kembali mengingat kata-katanya yang menyuruh Bunga agar mencari cara untuk segera dinikahi oleh Sastra.


Ia masih ingat bagaimana secara egois menuntut pada Bunga dan sering mendesaknya untuk segera menikah seperti keinginannya tanpa memperdulikan apakah perasaan sang anak tertekan atau tidak.


Bunga, apakah kamu jadi seperti ini karena ibu terlalu memaksakan kehendak padamu? Apakah kamu sampai sejauh ini dengan pacarmu karena tuntutan ibu agar kamu segera dinikahi olehnya nak?


Bu Marni menangis meraung-raung, dia benar-benar merasa bersalah dan menyesali semua kata-kata yang pernah dilontarkan pada putrinya, Bu Marni tahu betul bahwa Bunga adalah anak yang berbakti dan selau bisa menjaga diri.


Tapi karena dirinya yang terlalu terpengaruh dengan hujatan orang-orang disekitarnya malah berimbas memaksakan kehendaknya kepada Bunga dan akhirnya putrinya jadi terjerumus seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Bunga maafkan Ibu, maafkan Ibu Anakku, maafkan Ibu...."


__ADS_2