Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 31


__ADS_3

Fajar telah menyingsing, cahaya keemasan nampak di ufuk timur berpadu dengan langit nan biru. Lukisan alam yang begitu indah, membuat takjub setiap mata yang memandang akan karya Sang Pencipta.


Pagi ini, di sebuah ranjang besar dua insan yang sedang di mabuk asmara tengah terlelap saling berpelukan setelah semalam saling mengungkapkan rasa dalam suasana yang mengharu biru, membuat hati mereka semakin bertaut dan terjalin indah dalam sebuah rasa yang bernama cinta.


Suara alarm dari ponsel Bunga mengusik mimpi indah mereka, Sastra terbangun dan mengambil ponsel Bunga di atas nakas lalu mematikan alarmnya.


Bunga ikut membuka mata namun dia malah mengeratkan pelukannya pada sang kekasih hati.


"Sayang aku masih mengantuk, kita tidur lagi ya, lagipula ini kan akhir pekan," ucap Bunga manja lalu kembali memejamkan matanya.


"Baiklah putri tidur." Sastra tersenyum dan merengkuh Bunga ke dalam pelukannya lagi.


"Bagaimana perutmu sekarang? sudah baikan?"


"Hmm... sudah sangat baik, berkat tangan ajaib seseorang." Bunga semakin menenggelamkan dirinya di dada bidang Sastra.


"Bunga, apakah kamu tahu? sekarang kamu sedang memancing macan tidur di dalam diriku ingin mengaum keluar kandang," ucapnya sambil tangannya mengusap-usap punggung gadisnya.


"Aku nggak peduli!" Bunga malah mengendus-endus dada Sastra, ia sangat suka aroma maskulin dari parfum yang di pakai kekasihnya itu, membuatnya selalu betah dan ingin berlama-lama menghirupnya.


"Dasar gadis nakal!" Sastra menggelitiki Bunga membuat gadis itu tertawa kegelian.


"Ahahaha... Sastra ampun, ampun Sas, sudah sudah ah aku geliiiiii...."


Keduanya tergelak bersama lalu kembali saling berpelukan. Bunga menempel memeluk Sastra dengan erat dan gadis itu kembali tertidur karena usapan lembut Sastra di punggungnya yang membuainya untuk terlelap.


Sastra jelas saja tidak bisa tidur lagi, karena macan di dalam dirinya memang benar-benar sudah mengaum. Dia bangkit dengan perlahan dan memilih untuk mandi air dingin agar macan yang sudah terbangun itu kembali tertidur.


Setelah berganti pakaian Sastra pergi ke dapur untuk membuat sarapan, lalu tak lama pintu kamar terbuka dan terlihatlah Bunga keluar dari kamar masih memakai baju tidurnya.


Gadis itu menghampiri Sastra dan langsung memeluknya dari belakang lalu mendusel-dusel di punggungnya dengan mata terpejam. Sejak semalam gadis itu menjadi manja dan menempel terus padanys, sepertinya Bunga mulai terkontaminasi virus bucin Sastra Prawira.


"Kenapa kamu sudah bangun? Bukannya masih mengantuk?" Sastra bertanya sambil menyiapkan mangkuk makan.


"Nggak ada yang meluk, jadi aku bangun," gumamnya dengan mata terpejam.


Sastra terkekeh, dia berbalik sehingga sekarang posisi mereka saling memeluk berhadapan. "Mandi dulu sana, setelah kamu mandi kita akan sarapan bersama."

__ADS_1


"Nggak mau, aku mau begini aja." Bunga malah menyandarkan kepalanya di dada Sastra sambil memeluknya dengan matanya yang kembali terpejam.


"Kalau nggak mau, aku mandiin nih?" Mode jahil Sastra kembali seperti biasanya.


"Ih dasar mesum!" Bunga melepaskan pelukannya dan dengan langkah malas dia masuk ke kamar tidur, kemudian langsung menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi Bunga hanya memakai handuk yang dililitkan di tubuhnya, lalu saat bercermin di wastafel dia melihat banyak tanda merah di dada bagian atas dan di lehernya. Bunga terkejut apakah dia terkena penyakit kulit, apakah ini berbahaya? Lalu masih dengan hanya memakai handuk dia berlari keluar kamar dan berteriak.


"Sas, Sastraaaaa...."


"Ada apa sayang, kenapa kamu berteriak." Kemudian Sastra menoleh dan langsung tersedak karena Bunga hanya memakai handuk pendek di tubuhnya.


"Ini lihat kenapa kulitku begini? apa aku terkena wabah penyakit kulit? aduh bagaimana ini, aku takut kalau ini berbahaya dan meninggalkan bekas di kulit," ujarnya panik.


Sastra berusaha menetralkan napasnya karena pemandangan menggoda di depannya, tetapi kemudian ia malah tersenyum menipiskan bibirnya melihat hasil mahakaryanya semalam walaupun tadi malam berakhir tidak seperti harapannya.


"Itu bukan penyakit kulit, tapi itu kissmark".


"Kissmark itu apa?" Bunga bertanya dengan polosnya.


Sastra tergelak karena gadisnya benar-benar menggemaskan, bahkan karena saking polosnya Bunga tidak tahu apa itu kissmark.


Bunga berjengit kaget namun darahnya kembali berdesir saat di perlakukan seperti itu oleh kekasihnya. Kemudian Sastra menarik bibirnya dari sana.


"Kulit yang memerah ini ada karena aku yang membuatnya," ucap Sastra sambil menyapukan jarinya di bekas sesapannya tadi.


Blushhhh....


Wajah Bunga langsung memerah seperti kepiting rebus, ia berbalik badan dan terbirit-birit berlari masuk ke kamar tidur.


Haduh Bungaaaaa... dasar bodoh bodoh bodoh! Sungguh memalukan, kenapa aku tidak tahu apa itu kissmark.


Bunga merutuki dirinya sendiri sambil membuka lemari untuk berganti pakaian. Ia membuka pintu lemari besar itu, Bunga melongo karena sekarang di dalamnya jadi semakin penuh sesak dengan pakaian Sastra.


Sejak kapan ada begitu banyak pakaiannya di sini? Apa dia berencana pindah kesini ? Dia menyimpan bajunya seenaknya dan melewati garis teritorial wilayah bajuku.


Bunga menggerutu karena sepertinya kemarin Sastra menaruh pakaiannya serampangan membuat situasi di dalam lemari itu menjadi berantakan dan kacau balau. Ia kebingungan harus memakai baju yang mana karena kissmark yang di buat Sastra hampir memenuhi seluruh lehernya.

__ADS_1


Haish Sastra gara-gara bibirmu leherku jadi seperti macan tutul.


Hari ini Bunga memilih memakai kaos putih berlengan panjang berkerah tinggi yang di padu dengan celana panjang jeans, lalu setelah selesai berpakaian dia keluar dari kamar untuk sarapan.


"Sayang apa kamu kedinginan? kenapa pakaianmu seperti itu," Sastra bertanya sambil menata sarapan di meja, dia membuat roti panggang yang ditambahkan telur, keju dan selada.


"Ini semua karenamu, aku jadi harus memakai pakaian seperti orang yang sedang sakit flu. Aku memakainya untuk menutupi jejak yang kamu buat, kalau terlihat orang lain pasti sangat memalukan," jawab gadis itu kesal.


"Hahaha... biarkan saja orang lain melihatnya, agar mereka tahu kalau kamu itu ada pemiliknya." Sastra menyeringai.


"Memangnya aku peliharaan!" serunya sengit


"Bukan sayang, tapi kamu itu kekasihku."


Cup...


Sastra mencuri kecupan di bibir gadisnya.


"Jangan cium-cium, aku masih kesal. Aku baru tahu ternyata bibirmu itu berbahaya!" Bunga bersungut-sungut.


Sastra kembali tergelak. "Kamu harus membiasakan diri, karena kedepannya aku akan membuat lebih banyak lukisan semacam itu padamu."


"Dasar genit! Bunga mencubit perut sastra dengan kencang.


"Oke, oke ampun. Lepasin sayang, aku tidak akan menggoda lagi. Sekarang makanlah, setelah ini aku akan mengantarmu berbelanja." Sastra menarik kursi untuk Bunga.


"Tidak usah Sas, aku naik angkutan umum saja karena untuk hari ini aku berencana berbelanja sayuran di pasar tradisional," kata Bunga sambil mengunyah sarapannya.


"Kenapa ga di swalayan aja sih?" protesnya.


"No no no, aku ingin ke pasar tradisional karena katanya di sana harganya lebih murah!"


"Tapi aku nggak mau kesana, aku tidak tahan dengan aroma pasar tradisiona!" Sastra melipat kedua tangannya di dada.


"Ya sudah, kamu tunggu aja di sini."


"Tapi aku nggak mau di sini sendirian, nanti bisa mati bosan." Sastra merajuk.

__ADS_1


Bunga menghela napasnya jengkel. "Begini saja, kamu ikut aku ke pasar tapi tunggu saja di parkiran, bagaimana?"


"Oke, deal.'


__ADS_2