Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 137


__ADS_3

"Ini baru perkiraan saja, karena saya bukan ahlinya di bidang ini, sepertinya saat ini anda sedang hamil muda Nyonya."


"Apa? Hamil!" seru keduanya serempak.


Sastra yang asalnya terbaring lemas di pangkuan istrinya langsung terkesiap dan mendudukkan dirinya seketika.


"Saya akan rekomendasikan dokter kandungan terbaik, apakah mau dipanggil kesini sekarang atau anda berdua yang datang ke kliniknya?


"Panggil kesini sekarang juga!" perintah Sastra antusias.


"Baik Pak." Dokter itu keluar dari kamar dan segera menghubungi dokter kandungan untuk datang ke rumah keluarga Prawira.


Bunga masih terkejut, kalau diingat-ingat memang sudah hampir dua bulan ini dia tidak mendapatkan tamu bulanannya. Namun, kemudian ia membeku, wajahnya berubah muram seakan ada hal berat yang menggelayuti pikirannya.


Sastra sama terkejutnya ketika telinganya mendengar hal itu, hatinya penuh dengan rasa bahagia, seakan rasa itu memenuhi dadanya hingga sesak dan juga terharu di saat yang bersamaan membuatnya tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


Untuk beberapa saat hanya keheningan yang membentang diantara keduanya, kemudian pintu terbuka dan datanglah dokter spesialis kandungan yang di maksud membuyarkan kesenyapan di kamar itu.


"Selamat pagi Pak Sastra saya diminta untuk memeriksa dengan seksama kondisi istri anda," ucap dokter pada Sastra.


Sastra mengangguk. Tanpa membuang waktu, dokter segera melakukan tugasnya secara profesional, memeriksa dengan seksama dan memastikan dugaan yang sebelumnya ia dengar. Lalu dokter meminta Bunga untuk menampung urinnya memakai tempat yang sudah disediakan, dokter mencelupkan tes pack dan beberapa saat kemudian muncullah dua garis merah.


"Selamat Nyonya, dari semua hasil pemeriksaan saya saat ini anda sedang mengandung, menurut perkiraan usia janinnya baru enam minggu. Untuk lebih jelasnya saya sarankan anda datang ke klinik untuk diperiksa lebih lanjut, kita juga bisa melakukan prosedur USG untuk melihat kondisi janin di rahim anda."


Sastra seperti terhipnotis, lelaki masih membisu belum mengeluarkan satu patah kata pun.


"Iya benar Nyonya." Dokter tersenyum meyakinkan.


"Tapi saya tidak merasakan mual atau muntah seperti wanita yang sedang hamil muda pada umumnya?" Bunga masih tak percaya.


"Tidak semua kehamilan mengalami hal itu, pada beberapa kehamilan ada juga yang tidak mengalami mual muntah di trimester pertama membuat si ibu tidak menyadari bahwa sedang ada nyawa lain yang bertumbuh di rahimnya. Ada juga beberapa pasangan yang saat istrinya hamil tetapi malah suaminya yang terkena sindrom morning sickness seperti yang dialami Pak Sastra sekarang ini. Karena dulu saat istri saya mengandung saya pun sempat mengalaminya." Dokter menjelaskan secara terperinci.

__ADS_1


"Saya akan meresepkan vitamin untuk Nyonya. Selain itu agar kondisi ibu dan bayi tetap dalam keadaan baik sebisa mungkin untuk menghindari stress, tidak boleh terlalu lelah dan perhatikan asupan nutrisi untuk perkembangan janin yang maksimal." Dokter menyerahkan kertas resep dan berpamitan dari sana.


Setelah dokter pergi, Bunga beringsut hingga ke ujung kepala ranjang, perlahan ia menjauhkan dirinya dari Sastra. Raut wajahnya berubah gelisah, ia memeluk lututnya dengan erat, rupanya kata-kata hamil yang didengarnya membangunkan ingatan buruk yang telah lama dikuburnya.


Kepingan-kepingan ingatan ketika Sastra kala itu menyuruhnya menggugurkan bayinya berkelebatan memenuhi isi kepalanya. Rasa sakit dari lukanya yang dulu kembali menyeruak ke permukaan.


Sastra menangkap ekspresi Bunga yang tiba-tiba berubah muram, juga bahasa tubuhnya yang terkesan menghindarinya. Ia mencoba mendekati, diraihnya dagu istrinya hingga membuat Bunga sedikit mendongak. Tepat saat tangan Sastra menyentuh dagu, Bunga malah menegang dan makin mengeratkan tangannya memeluk dirinya sendiri.


"Sayang, ada apa?" Sastra bertanya lembut dengan tatapan khawatir.


"Apakah... apakah kamu akan menyuruhku untuk_" ucapan Bunga tertahan.


"Kenapa? ada yang mengganggu pikiramu?"


"Aku takut... aku takut kamu akan membuang bayi ini seperti dulu lagi." Air mata mulai merebak membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


Sastra merasakan jantungnya diremas tanpa ampun, pasti saat ini kenangan buruk itu sedang menguasai pikiran istrinya. Ia merengkuh Bunga kedalam dekapannya dan membiarkannya menangis menumpahkan seluruh rasa sesak yang tertahan di masa lalu, berharap semua perih itu ikut mengalir bersamaan dengan jutaan air mata yang tumpah ruah dengan derasnya.


__ADS_2