Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 57


__ADS_3

"Untuk lebih memastikannya perawat akan mengantar anda ke klinik Obgyn agar diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis kandungan, silahkan."


Bunga masih tidak percaya mendengar perkataan dokter umum tadi, dia berusaha tetap tenang dan melangkahkan kakinya mengikuti perawat menuju ruang periksa dokter kandungan.


Perawat meminta Bunga untuk menampung urin yang kemudian di periksa menggunakan test pack dan hasilnya tampak dua garis merah. Dokter menyuruhnya berbaring dan melakukan pemeriksaan lanjutan serta USG. Dokter tersenyum dan memberi selamat pada Bunga.


"Selamat, Anda sedang mengandung. Usianya sudah empat minggu, mungkin belum begitu terlihat di layar karena janinnya masih berukuran sangat kecil. Anda harus menjaga kondisi tubuh dan menghindari stress serta jangan terlalu lelah, saya akan meresepkan vitamin dan juga obat untuk mengurangi mual muntah."


Bunga begitu bahagia mengetahui dirinya kini tengah hamil dan berharap Sastra juga sama bahagianya dengan dirinya lalu segera menikahinya.


Dokter menyerahkan resep, kartu kontrol dan juga foto hasil USG. "Ini jadwal kontrol kandungan, apakah suami anda ikut?"


"Ti-tidak... Dokter, hari ini dia tidak ikut karena sedang dinas keluar negeri," jawabnya tergagap.


"Baiklah tidak apa-apa, tapi sebaiknya untuk pemeriksaan berikutnya suami anda ikut menemani," saran si dokter tersebut.


"Baik Dok."


"Silahkan sekarang ikuti perawat untuk mengisi data diri lengkap dan juga pembayaran administrasi."


"Terima kasih... terima kasih Dokter."

__ADS_1


*****


"Nama lengkap anda?" Perawat bertanya Bunga."


"Bunga Aulia Pramudia."


"Nama suami anda?" Bunga sedikit termenung dan perawat kembali bertanya. "Maaf Nyonya nama suami anda siapa?"


"Ah, na-namanya... Sastra Prawira." Bunga benar-benar gugup saat ditanya perihal suami.


"Boleh saya pinjam kartu pengenal anda?"


Sebetulnya Bunga membawa tanda pengenalnya, tetapi tidak mungkin dia memperlihatkannya kepada perawat sedangkan status yang tertera di sana masih belum menikah.


"Baik Nyonya, data anda sudah selesai. Jika nanti kontrol lagi kemari tolong membawa fotocopy KTP anda, silakan sekarang langsung melakukan pembayaran dan mengambil resep di apotik." Perawat itu tersenyum ramah dan Bunga pun mengangguk lalu beranjak pergi.


Sepanjang perjalanan pulang tak henti-hentinya Bunga tersenyum sembari mengelus perutnya yang masih rata, naluri alamiah seorang ibu ketika mengetahui dirinya mengandung maka rasa sayang terhadap janinnya langsung menyeruak memenuhi relung hatinya. Terlebih lagi yang sedang tumbuh di rahimnya adalah benih dari pria yang sangat dicintainya.


Bunga sudah tidak sabar ingin segera bertemu Sastra, tapi dia harus menunggu sebentar lagi karena pekan depan kekasihnya itu baru akan pulang.


*****

__ADS_1


Malam ini Sastra tidak bisa memejamkan matanya karena begitu merindukan Bunga, padahal setiap hari mereka selalu berkirim pesan tetapi rasa rindu dihatinya bukannya berkurang malah semakin membuncah.


Sastra beranjak bangun dan pergi ke bar yang ada di lantai dasar hotel, dia sedang ingin minum sedikit saja untuk sekedar meringankan rasa rindunya yang semakin menyesakkan dada. Sastra juga menghubungi Tommy untuk menemaninya minum bersama.


Sastra duduk di bar dan memesan wine sambil membuka galeri diponselnya, dia membuka file foto saat Bunga dan dirinya berada di Bali, Sastra tersenyum dan mengusap layar ponsel yang sedang menampilkan foto cantik Bunga di pantai Bali.


Tak lama kemudian pesanannya datang dan Sastra kembali menyimpan ponselnya di saku celananya. Sambil menunggu kedatangan Tommy Sastra menuang winenya dan meneguknya sedikit demi sedikit sampai tak terasa sudah hampir setengah botol dia habiskan.


Tiba-tiba datang seorang wanita yang duduk hampir berdekatan dengan Sastra hanya terselang satu kursi darinya, wanita itu juga memesan wine dan saat ia menoleh ke arah Sastra mata wanita itu langsung berbinar. Ternyata wanita itu adalah Caroline, ia begitu senang saat melihat Sastra juga berada di bar yang sama dengannya.


Dia langsung duduk disebelah Sastra, dan saat Caroline perhatikan ternyata Sastra sudah hampir mabuk karena minum terlalu banyak.


Caroline mencoba bergelayut di tangan Sastra mencuri kesempatan di saat Sastra tengah mabuk dan Sastra langsung menoleh pada wanita yang tiba-tiba menempel padanya.


Sastra yang kesadarannya makin berkurang malah tersenyum dan mengira wanita yang disebelahnya adalah Bunga, dia langsung meraup Caroline ke pangkuannya dan memeluknya.


"Bunga Sayang aku sangat merindukanmu, aku hampir gila karena lama tidak bertemu denganmu."


Sontak saja Caroline tersenyum senang dan membalas pelukan Sastra. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Caroline tak peduli Sastra mengira dirinya sebagai siapa, yang pasti kali ini dia harus berhasil membuat Sastra menjadi miliknya.


Sastra melonggarkan pelukannya dan membelai wajah Caroline yang dia kira adalah Bunga, jemarinya mengusap bibir wanita itu kemudian menautkannya dalam sebuah pagutan penuh rasa rindu dan tentu saja dengan senang hati Caroline balas menyambut dan menerimanya penuh suka cita.

__ADS_1


__ADS_2