Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 51


__ADS_3

"Oh ayolah panggil aku seperti biasa. Lagipula hanya ada kita berdua di ruangan ini, lama tidak berjumpa kamu semakin tampan dan memesona." Caroline mendekati Sastra dan duduk disebelahnya. Sastra langsung bangkit dan memilih berdiri bersandar di meja kerjanya.


"Carol kita disini hanya sebagai partner bekerja, Prawira Grup adalah klienmu, aku harap kamu bekerja secara profesional," tegasnya.


"Saat jam kerja aku akan selalu profesional, tetapi diluar jam kerja aku akan berbuat sesuka hatiku. Lagipula apa kamu tidak rindu padaku?" Caroline ikut bangkit dan berdiri di depan Sastra sambil melipat tangannya.


Sastra tersenyum miring dengan sinis. "Memangnya kita dalam posisi untuk mempunyai rasa rindu satu sama lain? hahaha... Carol kamu terlalu naif, bahkan kamu tahu bahwa kita tidak pernah mempunyai hubungan yang melibatkan perasaan semacam itu."


"Mungkin bagimu begitu, tapi bagiku tidak. Kamu pasti tahu bahwa aku selalu tergila-gila padamu!" Mata Caroline memindai Sastra yang semakin atletis membuatnya berdesir ingin memiliki.


"Sebaiknya hentikan obsesi gilamu itu dan jangan pernah mengharapkan apapun dariku karena aku berangkat kesini untuk menyelesaikan masalah perusaahan. Jadi fokuslah pada pekerjaanmu atau aku akan meminta Andrew untuk mengganti orang." Sastra sengaja mengancam agar Caroline tidak berulah.


"Kenapa kamu selalu menolakku? apa kurangnya aku Sas. Aku Cantik, punya karir gemilang dan berasal dari keluarga yang setara denganmu. Banyak laki-laki yang mengejarku tapi kenapa kamu tidak pernah melirikku? bahkan aku pernah menghangatkan ranjangmu saat kita kuliah Amerika, apa kamu tidak punya sedikitpun perasaan padaku?" cecar Caroline.


"Sayangnya sejak dulu aku tidak pernah berminat untuk mempunyai perasaan yang lebih denganmu, kamu pasti tahu betul bahwa dulu apa yang terjadi di antara kita atas permintaanmu sendiri!"


Lalu ponsel Sastra berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, wajah Sastra yang tadinya dingin dan sinis langsung berubah tersenyum hangat saat menatap ponselnya.


Caroline memperhatikan perubahan raut wajah Sastra, wanita itu bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan yang mengirimkan pesan. Lalu Sastra menyimpan kembali ponselnya di saku celananya dan kembali menatap Caroline.


"Carol jika tidak ada masalah pekerjaan yang ingin dibicarakan lebih lanjut silakan keluar dari ruanganku." Sastra memencet tombol dan memanggil Tommy.

__ADS_1


"Tom, keruanganku sekarang!" Kemudian pintu terbuka dan Tommy masuk ke dalam.


"Anda membutuhkan sesuatu pak?"


"Tolong antarkan Nona Caroline kedepan lobi, kami sudah selesai membicarakan masalah pekerjaan untuk hari ini dan aku tidak bisa mengantar karena masih ada yang harus kuselesaikan. Bukankah begitu Nona Caroline?" Sastra menatap wanita itu dengan tajam.


Caroline tak urung akhirnya mengangguk dengan canggung, walaupun dia sangat kesal karena merasa diusir secara halus oleh Sastra, wanita itu keluar diantar Tommy hingga ke lobi.


Sesaat setelah Tommy kembali masuk ke dalam gedung Caroline menghentakkan kaki dan mengepalkan tangannya. "Sastra Prawira kamu berani mengusirku, kamu pikir aku akan menyerah? tidak akan pernah!"


*****


*B*agaimana harimu disana? Apakah cuacanya benar-benar dingin? Aku tidak tahu seperti apa rasanya musim dingin, tapi yang pasti sekarang aku sedang merindukanmu.


Akupun sangat merindukanmu, jaga kesehatanmu. Pergilah berbelanja, memanjakan diri atau berjalan-jalan di sekitar kota saat akhir pekan, aku sudah mentransfer uang ke rekeningmu.


Sastra mengetukan jarinya di layar ponsel.


Bunga melihat ponselnya dan ada notifikasi uang masuk dari bank, Bunga kaget karena jumlahnya terlalu besar baginya. Lalu Sastra melakukan panggilan telepon pada Bunga.


"Halo Sas."

__ADS_1


"Sayang, apakah uangnya sudah masuk?" tanya Sastra.


"Sudah Sas, tapi sepertinya jumlah yang kamu transfer nominalnya salah?" Bunga kembali menghitung berapa jumlah angka nol di belakang angka satu yang tertera di layarnya.


"Benarkah?"


"I-iya, i-ini... seratus juta tidak seperti biasanya. Kenapa kamu sampai salah, lalu aku harus mengembalikan kelebihan uang ini ke mana? berikan nomor rekeningmu aku akan mengembalikan uang lebihnya."


Sastra terkekeh. "Itu tidak salah, aku memang mengirimkanmu seratus juta. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena satu bulan ini meninggalkanmu."


"Apa kamu menganggapku hanya menginginkan uangmu?" sahut Bunga terdengar tak suka.


"Tentu saja tidak sayang, aku tahu kamu bukan perempuan yang seperti itu. Kamu bahkan tidak pernah meminta padaku hanya saja itu adalah salah satu bentuk kasih sayangku padamu, jadi kumohon terimalah."


"Terima kasih, terima kasih banyak Sas, walaupun aku tidak tahu akan membeli apa dengan uang sebanyak itu."


"Hahaha... jangan terlalu dipikirkan, aku hanya tidak ingin kamu merasa kesepian saat jauh dariku."


"I miss you so much," desah Bunga manja.


"Me too baby, I miss you more."

__ADS_1


__ADS_2