Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 135


__ADS_3

Caroline yang sudah berada di luar gedung malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, setelah bertemu secara langsung dengan Bunga dia merubah rencana yang ada di otaknya. Ditangannya masih ada kartu AS, sepertinya akan lebih menarik menggunakan itu untuk mengendalikan Bunga, bukan Sastra.


*****


Gerai yang diinginkan Bunga sudah dibuka secara resmi. Sebuah cafe bergaya modern namun terkesan berkelas, Bunga begitu bersemangat dan antusias karena sekarang hobinya kembali tersalurkan.


Namun, semenjak kejadian di kantor waktu itu, Bunga jadi overprotektif terhadap suaminya. Bahkan mengharuskan Sastra melakukan video call tiga kali sehari seperti minum obat saja, atau ia akan datang ke kantor tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


Ditambah semakin kesini emosinya sering tidak stabil, Bunga juga tidak mengerti kenapa. Terkadang tiba-tiba ingin menangis akan tetapi tidak tahu sedih karena apa, dan juga sudah beberapa hari ini ia malas mandi, Bunga mendadak mengibarkan bendera permusuhan terhadap yang namanya air.


Bahkan tadi pagi Sastra harus membujuknya mati-matian agar mau mandi, lagi-lagi Bunga malah ngeyel dan menggulung dirinya dengan selimut. Akhirnya Sastra menggendongnya ke kamar mandi dan memandikannya walaupun mulut Bunga protes tanpa henti.


"Aku kan udah bilang, aku gak mau mandi!" Bunga merengek, sementara Sastra sedang membasuh rambut istrinya itu.


"Kamu itu udah dua hari gak mandi dengan benar, lagipula kalau protes terus durasi sesi mandi ini tidak akan selesai sebentar!" Sastra menatapnya mesum.

__ADS_1


Bukannya diam, Bunga malah menarik Sastra makin mendekat padanya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia jadi lebih sering bergairah dan sentuhan tangan Sastra yang sedang memandikannya membakar hasrat didalam dirinya.


"Aku tidak keberatan suamiku, bagaimana kalau aku memandikanmu juga?" Bunga mengecup bibir Sastra kemudian tersenyum menggoda.


"Istriku sudah mulai nakal ya." Sastra merapatkan pelukannya, akhirnya sesi mandi pagi itu diisi dengan desahan dan erangan di kamar mandi.


****


Sastra sedang memperhatikan presentasi dari manager pemasaran, di tengah-tengah rapat perutnya mendadak terasa tidak nyaman membuatnya sulit berkonsentrasi. Tommy memperhatikan wajah bosnya yang terlihat pucat dan seperti sedang menahan sesuatu.


Sastra mengangguk dan memberi isyarat agar rapat dipersingkat saja.


Selesai menutup acara rapat, Sastra tergesa-gesa kembali ke ruangannya diikuti Tommy, ia langsung masuk ke dalam toilet di ruangan itu. Sastra memuntahkan seluruh isi perutnya hingga tenggorokannya terasa sakit dan panas, kemudian keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan lunglai lalu membanting dirinya di sofa.


"Apa perlu saya panggilkan dokter Pak?" usul si sekertaris.

__ADS_1


"Tidak usah Tom, buatkan aku teh hangat di campur madu saja, sepertinya aku hanya masuk angin."


"Baik Pak."


*****


Saat jam makan siang, Tommy membujuk bosnya untuk pulang saja karena Sastra tidak kunjung membaik. Tommy menghubungi Bunga bahwa tuannya sakit dan akan pulang lebih awal dan Bunga pun bergegas untuk segera pulang dari cafe.


Saat mobil mereka sampai di rumah, Bunga sudah menunggu di depan pintu. Tommy memapah bosnya hingga ke kamar, kemudian Bunga mengambil alih dan membaringkan suaminya.


"Suamiku kenapa Tom?"


"Saya juga tidak tahu Nyonya. Tadi pagi setelah rapat selesai, mendadak Pak Sastra langsung muntah-muntah. Saya sudah menyarankan untuk memanggil dokter tapi beliau menolak, untuk itulah saya membawanya pulang saja, mungkin jika Nyonya yang membujuknya beliau mau diperiksa oleh dokter."


"Terimakasih Tom, kamu kembali saja ke kantor."

__ADS_1


"Baik Nyonya, kalau begitu saya pamit." Tommy membungkuk memberi hormat dan berlalu pergi dari sana.


__ADS_2