
Pesta sudah dimulai, Sastra dan Bunga memasuki ballroom sambil bergandengan tangan, semua mata terpukau pada kedua pasangan yang terlihat sempurna satu sama lain itu.
Arya Prawira memberikan sambutan dan juga mengumumkan tentang pernikahan putranya yang telah dilangsungkan beberapa bulan kebelakang kepada publik serta kabar bahagia tentang kehamilan Bunga. Awak pers dan media juga diundang dan diperbolehkan meliput dengan tetap memperhatikan aturan bahwa tidak boleh melanggar privasi terlalu dalam.
Semua tamu undangan memberikan ucapan selamat. Nadine juga datang bersama keluarga besarnya, hanya saja Rama tidak ikut menghadiri karena masih harus mendekam di hotel prodeo.
Di sela-sela kerumunan hiruk pikuknya tamu undangan yang hadir tampaklah Andrew yang baru saja tiba dengan Caroline yang mengekor di belakangnya sambil menundukkan wajahnya.
Bunga melihat kedatangan Caroline yang sedang menuju kearahnya, membuatnya sedikit terkesiap dan tangannya berkeringat dingin sedingin es.
Sastra melihat raut wajah istrinya yang mulai gelisah, lalu ia mengikuti arah pandang mata Bunga yang ternyata menatap ke arah Caroline yang datang bersama Andrew dan keluarganya. Sastra meraih tangan Bunga dan berbisik.
"Sayang, ada aku disini. Tenanglah, aku jamin dia tidak akan berani macam-macam lagi padamu." Sastra mengeratkan genggamannya seolah menyalurkan kekuatan agar istrinya tetap tenang.
__ADS_1
Bunga mengangguk dan kembali memasang senyuman di wajahnya. Andrew beserta Caroline menghampiri mereka, Andrew mengulurkan tangan mengajak bersalaman bergantian mengucapkan selamat lalu disusul oleh Caroline.
"Sastra, Bunga, selamat ya. Turut berbahagia," ucapnya lesu, kearoganan sama sekali tidak tampak lagi di wajah Caroline. "Maaf... aku minta maaf atas semua yang pernah kulakukan." Caroline menatap pasangan itu bergantian.
"Terima kasih. Aku juga minta maaf, jika selama ini secara tidak sengaja aku berbuat salah padamu," sahut Sastra.
Tatapan Caroline pada Sastra masih tampak memuja, namun sedetik kemudian dia kembali tersadar bahwa Sastra sudah di luar jangkauannya sekarang. Dia sudah memutuskan untuk menyerah, walaupun kekalahan itu terasa sangat menyakitkan.
Caroline tersenyum tipis, "Kita sama-sama saling memaafkan, semoga kalian selalu berbahagia." Ia mengangguk kemudian melangkah pergi menjauhi dua insan tersebut.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya untuk melindungi keluargaku. Kamu jangan khawatir dan percayakan semuanya padaku, tugasmu hanya berbahagia bersama buah hati kita." Senyum berlesung pipinya terbit di wajahnya yang rupawan.
Terdengar alunan musik dari orkestra yang sudah ada di ruangan pesta, musik romantis yang merdu dan mendayu-dayu, Sastra sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Bunga.
__ADS_1
"Ratuku, bersediakah berdansa denganku?" pintanya dengan nada mesra menggoda.
Bunga terkekeh dan menerima uluran tangan suaminya. "Aku bersedia, penjaga hatiku."
Pasangan yang tengah berbahagia itu berdansa dengan mesranya tersenyum bahagia menghiasi wajah mereka, yang menyaksikan ikut terhanyut, serta indahnya alunan musik membawa beberapa dari mereka ikut berdansa larut dalam kebahagiaan pesta malam itu.
Caroline duduk dan mengawasi dari kejauhan kemesraan pasangan yang tengah menjadi sorotan malam itu, kemudian sebuah tepukan di bahunya membuyarkan fokusnya. Dia menolehkan kepalanya ternyata Kevin sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa melamun sendirian di sini ?" lalu Kevin duduk di kursi sebelah Caroline.
"Aku tidak melamun, hanya sedang mencoba menghindari hiruk pikuk pesta yang membuat kepalaku pusing." Caroline tersenyum getir.
"Lupakanlah Sastra. Mereka sudah ditakdirkan bersama, walaupun pernah melalui jalan panjang yang berliku pada akhirnya tetap bersatu, semoga kamu segera menemukan takdirmu juga." Kevin tersenyum manis pada Caroline.
__ADS_1
"Kamu benar. Aku sudah bertekad untuk melupakan Sastra, terima kasih sudah peduli padaku," sahut Caroline dengan tatapan mata sendu.
"Sama-sama, kamu pasti bisa."