
Caroline meminum berbotol-botol alkohol tak terkendali hingga benar-benar mabuk, setelah dirasa puas dia terseok-seok melangkahkan kakinya keluar dari kelab malam itu.
Pikirannya kacau, kata-kata yang diucapkan Sastra menampar hingga menembus di jiwanya, berdengung terus menerus bagaikan genderang yang ditabuh memekakkan telinga.
Dia mendekati mobilnya dengan kondisi tubuh terhuyung dan sempoyongan, tangannya hendak membuka pintu mobil tetapi kunci mobilnya malah terjatuh, dia mencoba meraih kunci itu namun malah tersungkur ke lantai parkiran
Kepalanya berdenyut dengan hebat, perutnya bergolak, isi lambungnya terasa merangkak naik menekan kerongkongannya meronta ingin dikeluarkan tak mampu ditahan lagi.
Caroline memuntahkan seluruh isi perutnya tepat di samping mobilnya. Penampilannya sudah tidak karuan, rambutnya acak-acakan, lutut dan dahi terluka karena tersungkur dengan tubuh yang berkubang muntahannya sendiri.
Beruntung orang yang mobilnya terparkir di sebelah mobil Caroline muncul, saat ia akan membuka pintu mobilnya lelaki itu melihat Caroline tergeletak di lantai basemen dengan keadaan yang menyedihkan.
Perlahan dia mendekatinya dan saat memperhatikan wajah perempuan yang terbaring di lantai itu dengan seksama lelaki itu terkesiap karena mengenali siapa Caroline. Dia langsung berjongkok dan meraih tubuh Caroline agar posisinya menjadi duduk.
__ADS_1
"Carol, kamu kenapa sampai seperti ini? Carol sadarlah?" lelaki itu mengguncangkan tubuh Caroline.
"Siapa kamu?" Caroline mengerjapkan matanya, pandangannya masih berkunang-kunang tetapi ia berusaha supaya matanya fokus agar dapat mengenali lelaki yang ada di hadapannya sekarang.
"Kevin?" Nama itu keluar dari mulut Caroline.
"Iya ini aku Kevin, kenapa kamu minum sampai mabuk? di mana alamat tempat tinggalmu?" Kevin mencecar Caroline tanpa jeda.
"Aku minum hingga mabuk untuk melupakan bahwa aku ini sebenarnya perempuan menyedihkan. Hahaha... orang-orang pasti sedang menertawakanku bukan, aku memang perempuan yang tidak punya harga diri." Caroline meracau tetapi sudut matanya menangis.
"Stop, aku tidak mau pulang!" Caroline menggelengkan kepalanya.
"Jika pulang aku akan semakin kesepian, tak pernah ada satu orangpun yang sudi dengan tulus menemaniku," teriaknya putus asa.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu, jadi ayo kita pulang. Katakan di mana alamatmu?" Kevin mencoba bertanya kembali pada Caroline, namun bukannya menyahut perempuan itu malah terkulai lemas di tangan Kevin.
"Carol, Carol sadarlah!" Kevin menepuk-nepuk pipi Caroline namun sama sekali tidak berhasil membuat perempuan itu tersadar dari mabuknya.
Kevin bimbang kemana harus membawa perempuan ini, jika diantarkan ke hotel dan ditinggalkan sendirian dia akan merasa tidak tenang. Karena tidak tahu tempat tinggal Caroline akhirnya dia memutuskan untuk membawanya pulang ke apartemennya saja.
*****
Sesampainya di apartemen Kevin kebingungan. Bagaimana caranya membersihkan tubuh dan pakaian Caroline yang penuh dengan muntahan, tidak mungkin Caroline dibiarkan dalam keadaan seperti sekarang, bisa saja baju kotor dan basah yang melekat ditubuhnya membuatnya masuk angin.
Kevin memijat pangkal hidungnya berusaha berpikir, jika membantu mengganti pakaian Caroline dia merasa menjadi lelaki cabul, tetapi jika tidak dirinya juga tidak tahan dengan aroma bau yang mencemari penciumannya.
Kevin membawa Caroline ke kamar mandi dan meletakkannya di bathub, dibukanya pakaian Caroline sambil berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Setelah semua yang melekat di tubuh perempuan itu tanggal, Kevin mengisi bathub dengan air hangat dan sabun cair, Caroline hanya bergumam-gumam tidak jelas saat Kevin memandikannya.
__ADS_1
Kevin juga lelaki normal, tetapi berusaha untuk menahan dirinya dan berpikir jernih. Dia sudah menyukai Caroline sejak lama, namun perempuan itu lebih memilih mengejar-ngejar sahabatnya yaitu Sastra.