Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 136


__ADS_3

Bunga memperhatikan wajah suaminya yang pucat. Buliran keringat dingin mulai mengembun di kening Sastra. Diusapnya menggunakan tisu, kemudian diperiksanya suhu tubuh Sastra menggunakan termometer dan hasilnya normal, tetapi suaminya itu tidak terlihat baik-baik saja.


Bunga mengambil minyak angin mengoleskannya di perut dan punggung Sastra. "Are you ok honey?" Bunga duduk di tepian ranjang dengan raut wajah khawatir.


Sastra bangun dan merebahkan dirinya kembali dengan paha Bunga sebagai bantalan kepalanya, posisi kepalanya menghadap ke perut istrinya dan satu tangannya melingkar memeluk tubuh Bunga.


"Aku tidak apa-apa, setelah pulang dari berbulan madu pekerjaanku sangat menumpuk, mungkin aku hanya kelelahan saja." Sastra mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya.


Bunga mengelus-elus rambut hitam Sastra yang biasa diremasnya ketika mereka bergelung dalam kubangan gairah.


"Aku panggilkan dokter ya?" bujuknya.


"Tidak usah sayang, aku hanya perlu tidur sebentar."


"Tommy bilang tadi kamu muntah-muntah dan belum makan siang, mau kubuatkan sesuatu?"


"Aku ingin makan rujak buah pedas yang dijual dipinggir jalan, sepertinya enak," gumamnya.


"Tumben pengen makan yang kayak gitu, bukannya sebelumnya kamu tidak suka? biasanya kalau aku membeli kamu selalu protes bahwa jajanan di pinggir jalan itu tidak higienis," ujar Bunga.


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja terlintas ingin makan itu." Sastra setengah merengek.

__ADS_1


"Kamu yakin mau makan itu?" tanya Bunga kembali.


Sastra mengangguk tanda mengiyakan.


"Tunggu sebentar ya, aku akan meminta Pak Pendi membelinya."


Bunga menelepon Pak Pendi untuk membeli. Tak butuh waktu lama makanan yang diinginkan suaminya itu sudah datang. Sastra melahap habis satu porsi besar rujak itu hingga tandas tak bersisa, Bunga yang melihatnya bertambah khawatir karena takut Sastra malah makin sakit perut.


*****


Dini hari, tidur Bunga sudah terusik karena suara gaduh dari kamar mandi, ia meraba tempat tidur disebelahnya dan Sastra tidak ada disampingnya.


Bunga mengucek matanya dan beranjak bangun menuju sumber suara, dilihatnya suaminya sedang muntah-muntah dan berlutut di sisi closet, Bunga langsung mendekati dan memijit tengkuknya.


"Sas, sepertinya kamu bukan cuma masuk angin, tidak biasanya kamu begini. Pokoknya hari ini aku akan memanggil dokter dan jangan membantah!"


Sastra hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memejamkan mata.


Pagi-pagi dokter keluarga Prawira sudah datang ke rumah, Bik Isah menyambut dan mengantar dokter ke kamar Sastra.


Saat dokter masuk, ia melihat Sastra yang sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Bunga dengan manja. Dokter tersenyum penuh arti dan merasa malu sendiri, baru kali ini dia melihat sisi lain dari CEO muda itu, biasanya jika di luaran saat bekerja, Sastra adalah orang yang tegas beraura kepemimpinan yang mengintimidasi dan selalu berwibawa dalam setiap kesempatan. Namun, ketika bersama istrinya dia terlihat berbeda.

__ADS_1


Dokter segera memeriksa kondisi Sastra secara keseluruhan, tetapi beberapa saat kemudian malah mengerutkan keningnya.


"Dari hasil pemeriksaan saya, kondisi Pak Sastra semuanya baik-baik saja Nyonya," jelas dokter.


"Tapi kenapa sejak kemarin dia muntah-muntah dan tidak bisa mengkonsumsi makanan lain selain rujak buah?" Bunga merasa penasaran.


"Rujak buah?" Dokter malah balik bertanya pada Bunga.


"Iya Dokter, kemarin dia hanya bisa makan rujak buah, jika makan makanan yang lain malah membuat dia kembali mual dan muntah-muntah."


Dokter termenung sejenak. "Sepertinya yang harus di periksa bukan Pak Sastra, tetapi Anda Nyonya."


"Saya Dokter? ke-kenapa jadi saya yang harus diperiksa? Saya baik-baik saja kok." Bunga malah keheranan dengan saran dokter.


"Saya ingin bertanya, kapan terakhir kali Nyonya datang bulan?"


"Apa hubungannya?" Bunga merasa aneh dengan pertanyaan dokter.


"Bolehkah saya memeriksa Anda Nyonya?"


Bunga menatap bingung ke arah suaminya dan dengan ragu-ragu dia mengangguk. Dokter segera mengecek kondisi tubuh Bunga, lalu ia tersenyum dan menatap pasutri itu secara bergantian.

__ADS_1


"Ini baru perkiraan saja, karena saya bukan ahlinya di bidang ini, sepertinya saat ini anda sedang hamil muda Nyonya."


"Apa? Hamil!" seru keduanya serempak.


__ADS_2