
Sastra kembali ke area resepsi dengan Arion yang tertidur di pangkuannya, ia masuk bertepatan dengan Bunga yang berjalan keluar dari sana, dari kejauhan terlihat air muka istrinya yang tampak menggelap dengan wajah ditekuk.
Bunga yang juga melihat Sastra kembali masuk segera mempercepat langkahnya mendekati suaminya itu.
"Aku mau pulang, sekarang juga!" serunya dengan tangan terkepal.
"Sayang ada apa? acaranya baru saja dimulai, kenapa ingin segera pulang?" tanya Sastra sambil mengayun-ayunkan putranya yang terlelap dengan nyaman dipangkuannya.
"Pokoknya aku mau pulang sekarang juga! aku sudah tidak ingin lebih lama lagi berada di sini." Bunga berusaha menetralkan napasnya yang tak beraturan hingga membuatnya terasa sesak karena tersulut amarah.
"Baiklah, tapi sebelum pulang kita pamit dulu pada Kevin dan Caroline," ajaknya.
__ADS_1
Bunga menganggukan kepalanya, Sastra menggandeng istrinya dengan mesra dan berpamitan pada kedua mempelai. Setelah berpamitan Bunga ke tempat parkir terlebih dahulu, sedangkan Sastra menyapa sejenak teman-temannya yang juga berkumpul di sana. Saat Sastra hendak ke arah tempat parkir tampak Anita yang datang dari arah berlawanan menghampirinya.
"Sas, lama tidak berjumpa." Tatapan Anita berbinar dan memuja melihat Sastra yang sekarang semakin berwibawa dan memesona.
"Oh, hai Nit," sahutnya datar. Sastra merasakan aura yang tidak nyaman saat kini bertemu Anita kembali.
Kemudian mata Anita beralih pada bocah kecil tampan yang terlelap di pangkuan Sastra, seorang anak lelaki yang benar-benar mirip dengan orang yang menggendongnya.
Jadi tadi Anita sempat bertemu Bunga, jangan-jangan mood istriku berubah karena wanita ****** ini berkata macam-macam? Gumam Sastra dalam hatinya.
"Maaf Nit, aku harus pergi sekarang, istriku sudah menunggu." Sastra segera melangkahkan kakinya menuju tempat parkir.
__ADS_1
"Eh eh eh, tunggu dulu, aku cuma mau memberimu ini." Anita menyelipkan kartu namanya di saku jas Sastra, "jika kamu membutuhkanku hubungi nomorku, aku akan selalu siap sedia untukmu," ujarnya genit.
Sastra mengepalkan tangannya, mata elangnya memicing tajam, kemudian merogoh sakunya dan mengambil kartu nama yang diselipkan Anita, meremas kertas itu lalu membuangnya ke lantai.
"Aku peringatkan, mulai sekarang jaga sikapmu padaku! Jangan pernah berharap apapun lagi dan kamu harus ingat kita itu sama sekali tidak pernah punya ikatan apapun, hanya memanfaatkan satu sama lain. Jika kamu berani macam-macam dan melewati batas, maka kujamin karirmu sebagai model akan hancur berantakan, ingat itu!" bentaknya pada Anita, kemudian Sastra segera berlalu pergi tanpa menoleh kepada j*lang itu sedikitpun.
Anita mematung tak bisa berkata-kata, kakinya terasa lemas dan saat melihat sekelilingnya ternyata orang-orang tengah memperhatikannya. Pasti tadi suara Sastra yang membentaknya menarik perhatian kerumunan yang berada di resepsi itu dan kini mulai terdengar orang-orang mempergunjingkannya.
"Dasar model tak laku! Mungkin karena sekarang pamornya turun dia bahkan nekat merayu CEO Prawira Grup di depan umum, benar-benar tidak tahu malu!"
Disusul gunjingan dan cercaan lain yang terus bertambah mampir di telinganya.
__ADS_1