Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 151


__ADS_3

Sastra duduk di kursi belakang bersama Bunga, sepanjang perjalanan ia terlihat gelisah melihat Bunga meringis-ringis menahan sakit.


Sesampainya di rumah sakit Bunga langsung dibawa ke ruang VK (Verlos Kamer) atau biasa disebut ruang bersalin, Dokter langsung memeriksa keadaan Bunga dan juga bayinya.


"Bagaimana Dok? apakah istriku benar-benar akan melahirkan sekarang?" Sastra sudah tidak sabar untuk bertanya padahal dokter masih belum selesai memeriksa.


"Iya Pak, istri anda akan melahirkan, sekarang sudah pembukaan tiga. Agar persalinan semakin lancar sebaiknya berjalan-jalan ringan dulu di sekitar rumah sakit tetapi jangan terlalu jauh dari ruangan ini," saran Dokter.


"Tapi cairan yang tadi sempat keluar itu apa Dokter? Apakah berbahaya?" Bunga terlihat khawatir karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya.


"Ini bukan cairan ketuban, dari hasil pemeriksaan selubung ketuban Anda masih utuh. Yang tadi keluar hanya cairan yang kemungkinan efek dari kontraksi. Jangan khawatir Nyonya, ini tidak berbahaya. Satu jam lagi saya akan memeriksa Anda kembali, saya permisi." Dokter tersebut undur diri dari hadapan mereka.


"Sas, bantu aku turun, aku ingin berjalan-jalan sesuai saran Dokter." Bunga mengulurkan kedua tangannya pada Sastra.

__ADS_1


Sastra membantunya turun dan memapah Bunga untuk berjalan kaki masih di dalam area rumah sakit. Sesekali Bunga berhenti, menarik napasnya dalam-dalam dan mencengkeram lengan Sastra dengan kuat karena sekarang rasa mulas kontraksi mulai menderanya.


Sudah hampir satu jam Bunga melakukan kegiatan itu dan rasa mulasnya makin bertambah intensitasnya.


"Sas, kita kembali ke ruangan, aku ingin beristirahat." Bunga meringis menahan rasa mulas tidak biasa yang baru pertama kali dirasakannya.


"Ayo sayang, kugendong saja ya." Sastra hendak meraup Bunga ke dalam gendongannya.


Sastra mengangguk dan kembali memapah Bunga menuju ruangan. Bunga berbaring di tempat tidur dan dokter beserta para bidan kembali memeriksa dirinya.


"Kerja bagus Nyonya, berkat kegiatan berjalan-jalan tadi sekarang sudah pembukaan enam," jelas dokter pada keduanya.


"Kita tunggu sebentar lagi, mudah-mudahan kurang dari satu jam pembukaan secara alami bisa lengkap sempurna tanpa harus dilakukan prosedur induksi." Dokter berpamitan kembali dan bergantian memeriksa pasien lain yang juga sama-sama akan melahirkan.

__ADS_1


Bunga kembali merasakan mulas luar biasa yang teramat sangat namun mulasnya masih timbul tenggelam. Dia menggeram menahan supaya tidak berteriak dan tangannya mencengkeram erat lengan Sastra seolah mencari sumber kekuatan di sana.


Sastra mendengar rintihan dan teriakan pasien-pasien lain yang akan melahirkan, tetapi dilihatnya Bunga malah mengatupkan mulutnya kuat-kuat padahal jelas sekali ekspresi kesakitan yang tergambar di wajah cantiknya yang kini berhiaskan peluh bermanik di dahinya.


"Sayang, jika sakit berteriaklah, jangan ditahan," ucap Sastra sementara tangannya mengusap keringat di dahi Bunga.


"A-aku, tidak mau berisik dan berteriak-teriak, hah...hah...hah... it-itu memalukan. Karena ke-ketika membuatnya aku mendesah-desah dan tak ingin terdengar orang lain. Ak-kan sangat me-memalukan ji-jika saat melahirkan buah hati kita aku... malah berteriak-teriak menghebohkan seisi rumah sakit," sahutnya terputus-putus sambil menahan sakit.


"Sas, aku... aku ingin makan empal gentong di sini. Sekarang juga!" pinta Bunga padahal rasa mulasnya makin menyiksa, tetapi ia malah merasa lapar.


Sastra tak bisa menahan tawanya, di saat genting seperti ini bisa-bisanya Bunga malah berpikir seperti itu, padahal terlihat dari raut wajahnya pasti istrinya itu tengah kesakitan.


"Akan kuminta Pak Pendi untuk membeli, tunggu sebentar ya sayang." Sastra langsung meminta Pak Pendi untuk membelikan makanan yang diinginkan Bunga dalam waktu lima belas menit saja.

__ADS_1


__ADS_2