Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 103


__ADS_3

Setelah hampir satu jam berbicara panjang lebar dengan Bu Marni, Rama berpamitan pulang.


Di parkiran dia menendang-nendang ban mobilnya penuh amarah. Rama pikir dia bisa memiliki gadis itu dengan cara meminta pada ibunya, tetapi Bu Marni malah tidak mau bekerja sama dengannya.


Hal yang paling membuatnya kesal adalah tentang Bu Marni yang tidak dendam dan membenci Sastra, karena dengan begitu dia akan susah mempengaruhi Bu Marni untuk menjauhkan anaknya dari abang sepupunya itu.


*****


Pagi-pagi sekali Sastra mendapat telepon dari Tommy karena ada masalah perusaahan yang cukup genting. Sumber dana dari investor Singapura ternyata hasil korupsi, sehingga Sastra harus turun tangan secara langsung untuk menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin karena akan berdampak buruk pada citra Prawira Grup.


"Tom, Siapkan jetku sekarang dan panggil Andrew untuk bersiap di perusahaan! Aku akan segera ke landasan." Sastra menutup panggilannya dengan Tommy.


Sastra bergegas berangkat ke Jakarta, ia berencana menyelesaikan pekerjaannya sesingkat mungkin agar bisa kembali secepatnya ke Banjarmasin.


Setelah sampai di Jakarta para petinggi perusahaan langsung mengadakan pertemuan darurat, ternyata masalahnya cukup pelik sehingga mengharuskan Sastra terbang langsung ke Singapura dan sudah dipastikan akan menghabiskan waktu beberapa hari.


Sesaat sebelum bertolak ke Singapura Sastra menghubungi orang-orang yang ditugaskan mengawasi Bunga.

__ADS_1


"Awasi baik-baik dan laporkan padaku setiap hari!"


*****


Sudah beberapa hari ini Rama tidak berkunjung ke toko Bunga, dia masih merasa kesal karena rencananya kemarin tidak berhasil. Dia sedang memikirkan cara lain untuk membuat Bunga terikat padanya, tapi harus bagaimana? Tanpa disadari bahwa rasa sukanya pada Bunga telah berubah menjadi obsesi yang berlebihan.


Rama mengirim pesan pada Bunga.


Rama : "Lia, malam ini aku ingin mengajakmu makan malam, tolong jangan menolak, aku mohon."


Bunga : "Hmm, memangnya ada apa? tumben Kakak maksa banget?"


Bunga : "Iya... iya baiklah."


Malam ini Rama akan melancarkan rencananya. Dia ingin secepat mungkin memiliki Bunga karena sangat takut kalah langkah dari Sastra, ditambah akhir-akhir ini sepertinya Bunga mulai menerima kehadiran Sastra tanpa merasa terganggu sama sekali.


Dia berencana akan melamar Bunga secara langsung di depan umum, dokter itu akan menggunakan rasa hutang budi Bunga padanya sebagai senjata agar Bunga menerimanya.

__ADS_1


Rama pergi ke toko perhiasan, membeli cincin berlian indah dengan permata emerald berwarna hijau yang cantik dan juga membeli sebuket mawar merah. Rama langsung memacu mobilnya ke tempat yang di tuju, dia membooking setengah area cafe yang berada dibagian luar dan meminta untuk didekorasi agar terkesan romantis.


*****


Bunga memakai dress selutut berlengan panjang warna merah marun. Rambut panjangnya diikat ekor kuda dan menggunakan make-up tipis saja agar terlihat segar, Bunga tampak cantik sesuai dengan namanya.


"Bu, aku berangkat sekarang."


"Hati-hati Nak. Kamu sudah lama sekali tidak pergi keluar, bersenang-senanglah, tapi jangan pulang terlalu malam," pesan Bu Marni.


"Iya Bu, setelah makan malam selesai aku akan langsung pulang kok."


Bunga berpamitan, kemudian memesan taksi dan langsung meluncur ke cafe yang sudah disebutkan Rama.


Saat sampai di tempat tujuan, Bunga agak kaget karena bagian luar cafe sudah didekorasi sedemikian rupa dengan bunga-bunga yang indah. Ditengahnya terpasang sebuah meja, tampak Rama sudah duduk disana berpakaian rapi. Bunga melangkah dengan ragu-ragu mendekati meja.


"Kak, benar kita mau makan malam disini? Kita tidak salah tempat kan?" Bunga agak tidak nyaman dengan suasana romantis di sini.

__ADS_1


Rama tersenyum tampan, dia bangkit dari kursinya kemudian berlutut di depan Bunga yang masih berdiri. Bunga terlihat gelisah, Rama membuka kotak cincin dan_


"Lia, aku sudah lama menyukaimu, jadilah pendamping hidupku."


__ADS_2