Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 24


__ADS_3

"Aku akan berangkat dari sini," Sastra menjawab sambil tetap fokus dengan laptopnya.


"Eh tunggu tunggu, berangkat dari sini? apa maksudnya kamu mau menginap di sini!" Bunga berteriak kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada


"Yes baby, aku akan menginap di sini malam ini."


Lalu Sastra menutup laptop dan pandangannya teralih pada Bunga yang berdiri dengan tangan menyilang. "Sebenarnya apa yang ada di benakmu? jangan bilang kalau sekarang kamu sedang berpikiran mesum padaku."


"Tentu saja tidak! Justru tatapanmu itu yang terlihat mencurigakan sekarang," ucap gadis itu kesal.


Sastra berusaha menahan tawanya, ia berdiri lalu melangkah mendekati Bunga dan tangannya terulur menyentuh bahu gadis itu.


"Aku menginap di sini karena besok hendak ke kantor cabang untuk mengecek posisi pekerjaan yang akan kamu isi, dan juga aku ada meeting dengan dewan direksi. Jadi malam ini aku akan tidur di sini. Kamu jangan takut aku tidak akan melewati batas lagi, tidurlah di kamarmu dan aku akan tidur di sofa." Sastra mengacak rambut Bunga.


Tapi kemudian Sastra mengerutkan keningnya dan memindai Bunga dari kepala hingga kaki. "Bunga, apa kamu berencana tidur dengan memakai celana training dan sweater itu? apakah kamu tidak menemukan paper bag spesial tadi?"


Paper bag spesial? Maksudnya gaun tidur laknat itu hah! Aku tidak akan memakainya sekarang, jika aku mengenakannya saat dia ada di sini pasti dia akan berpikir bahwa aku ini mesum.


"Aku memang selalu tidur dengan berpakaian begini, kenapa? ada masalah! Lagipula aku tidak mau memakai pakaian mesum itu!" Bunga berlalu masuk ke dalam kamarnya sambil menggerutu, Sastra mengekorinya dan berdiri di ambang pintu kamar. Bunga mengambil satu bantal dan selimut lalu membawanya.

__ADS_1


"Sayang maukah kamu berbagi ranjang denganku? lagipula kita sudah pernah tidur bersama bukan?" Sastra nyengir kuda.


"Hanya dalam mimpimu! haish mulutmu itu!" Bunga mulai geram.


"Ini ambil selimutmu! Selamat tidur di sofa sayang semoga tidak bermimpi buruk." Gadis itu tersenyum mengejek lalu menutup pintu dengan kencang dan menguncinya.


Sastra terbahak-bahak, menggoda bunga seperti mood booster untuknya. Semenjak Bunga hadir dalam hidupnya hatinya selalu merasa hangat, sepertinya gadis polos dan sederhana yang mudah sekali merona itu sedikit demi sedikit telah berhasil merayap masuk kedalam relung hatinya.


*****


Sudah pukul sebelas malam tapi Bunga masih belum tertidur, dia malah membolak balikan badannya kekiri dan kekanan. Baginya kamar ini terlalu luas dan cahaya temaram dari lampu tidur malah membuat kamar ini tampak seram.


Bunga mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar lalu saat melihat ke depan pintu kamar mandi dia melihat seperti ada bayangan putih disana, Bunga langsung terlonjak kaget dan lari terbirit-birit keluar kamar menghampiri Sastra.


"Hmmm... ada apa?" Sastra terusik dari tidurnya karena Bunga menggoyang goyangkan tubuhnya, padahal dia baru saja jatuh tertidur.


"Sas kayaknya di kamar... di kamar ada setannya. T-tadi aku melihat bayangan putih di kamar, aku takut." Saking takutnya Bunga refleks memeluk Sastra dengan erat dan mendusel di dada bidang pria itu.


"Apa, setan? yang benar?" Selama tinggal di sini Sastra tidak pernah sekalipun melihat penampakan setan, tapi kemudian ia tersenyum senang dan terbersit ide jahilnya.

__ADS_1


"Aku memang tidak pernah melihat ada yang aneh di sini. Hanya saja menurut cerita orang-orang dulu sekali di daerah sekitar gedung apartemen ini pernah ada gadis perawan yang bunuh diri, konon katanya di malam-malam tertentu arwahnya akan menampakkan diri tapi hanya pada para perawan saja." Sastra sengaja mengarang cerita seram agar suasana semakin dramatis.


"Be-benarkah? aduh gawat bagaimana ini, aku masih perawan, aku takut di datangi hantu itu juga. Aku takut tidur sendiri di kamar, aku takut." Bunga semakin pucat.


"Jadi sekarang maunya gimana?"


"Mmm... tolong te-temani aku tidur. Hanya tidur, jangan berpikir macam-macam. A-aku... hanya minta ditemani tidur saja tidak lebih," ucapnya tergagap.


Sastra tersenyum penuh kemenangan. "As you wish baby."


Kenapa disini jadi aku yang terkesan mesum, pasti Sastra berpikir bahwa aku wanita murahan! Hancur sudah imageku, tapi aku juga takut tidur sendiri. Semua ini gara-gara hantu perawan brengsek itu!


Sastra menuntun Bunga ke dalam kamar dan merebahkan diri di sana, disusul Bunga yang bergabung di ranjang yang langsung memeluknya dengan erat tanpa merasa sungkan sama sekali.


Sastra tersenyum geli karena berhasil menggerjai gadisnya. Rasa takut Bunga malah menjadi berkah baginya, padahal tadi Bunga menolak mentah-mentah saat Sastra menggoda dia untuk tidur bersama. Tak lama berselang terdengar dengkuran halus menandakan gadis itu telah tertidur dengan lelap.


Sastra mengamati wajah cantik bunga yang tengah terlelap. Kulit halus kuning langsat bercahaya, alis alami yang terbentuk sempurna, hidung tinggi kecil dan bibir ranum yang selalu membuatnya tergoda untuk terus mencicipinya.


Sastra bertanya-tanya pada dirinya sendiri , apakah benar dia menjalani semua ini hanya karena hasrat semata tanpa melibatkan hati? Tapi hingga detik ini dia mampu menahan geloranya, walaupun terkadang desiran itu mendesaknya hingga hampir meledak.

__ADS_1


"Bunga, apakah kamu tahu? kamu menyiksaku saat ini," gumamnya.


Sastra mengecup kening Bunga lama sekali lalu mengeratkan pelukannya menenggelamkan gadis itu dalam dekapan hangatnya. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur karena tengah mati-matian menahan hasratnya yang menggelora.


__ADS_2