
Saat ini Sastra tengah berdiri di luar ruangan ICU. Dia hanya bisa memandangi Bunga melalui kaca. Teringat kembali percakapannya dengan Bu Marni tadi pagi.
"Nak Sastra, sebaiknya kamu tidak usah datang lagi kemari, Tante tidak ingin kondisi mental Bunga makin terganggu karena kehadiranmu, kamu lihat sendiri kan tadi? ketika siuman Bunga berteriak histeris saat melihatmu," ucap bu Marni.
"Tante, mohon izinkan saya untuk tetap menjenguk Bunga walaupun hanya melihatnya dari jauh, izinkan saya menebus semua kesalahan yang telah saya perbuat. Saya ingin mempertanggung jawabkan perbuatan saya terhadap Bunga dan saya akan memberikan perawatan yang terbaik agar dia kembali pulih." Sastra memohon dengan wajah memelas.
"Tante memang ingin sekali kamu bertanggung jawab terhadap Bunga, tetapi kemungkinan keadaannya malah makin memburuk saat melihatmu. Tante tidak ingin membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya. Tante ingin memperbaiki semua kesalahan selama ini untuk kehidupan Bunga kedepannya, jadi sebaiknya kamu jauhi putriku." Bu Marni berlalu meninggalkan Sastra dan masuk kembali ke dalam ruang perawatan Bunga.
Sastra masih termenung dan lamunannya buyar ketika dokter masuk ke dalam ruangan. Bunga terlihat mulai membuka matanya kembali, Sastra dengan cepat beranjak pergi dari sana dan memilih untuk melihat dari kejauhan, ia tidak ingin Bunga menjerit pilu saat melihatnya seperti tadi pagi.
__ADS_1
Dokter memeriksa secara keseluruhan kondisinya dan menyatakan bahwa Bunga sudah bisa dipindahkan keruangan perawatan biasa.
*****
Bunga sudah dipindahkan ke ruang perawatan kelas VVIP. Tanpa sepengetahuan Bu Marni, Sastra yang mengaturnya agar rumah sakit memberikan perawatan yang terbaik untuk Bunga.
Dua orang perawat masuk ke dalam ruangan hendak memberikan obat dan mengganti pakaian Bunga, perawat memberi suntikan dan juga beberapa butir obat lalu membuka bagian bawah tubuh Bunga untuk melihat apakah masih terjadi pendarahan atau tidak.
"Suster, ini apa?" tanyanya lirih, dan telunjuknya mengarah ke selang itu.
__ADS_1
"Ini selang kateter, tadi malam anda melakukan kuretase akibat keguguran, selang ini dipasang karena kondisi anda yang lemah dan sebaiknya tidak turun dari tempat tidur. Setelah nanti kondisi anda membaik kateter ini akan dilepaskan," tutur sang Suster ramah.
Saat mendengar kata keguguran Bunga merasakan pening seperti berputar, kepalanya berdenyut hebat, seolah ada tangan tak kasat mata yang memeras isi kepalanya. Otaknya mengingat kembali bahwa sebelumnya ia mencoba bunuh diri, namun ternyata sekarang ia masih tetap hidup dan justru bayi dalam kandungannya yang pergi meninggalkannya. Bunga kembali menjerit-jerit histeris.
"KENAPA... KENAPA KALIAN MENOLONGKU HAH! AKU INGIN MATI TAPI KENAPA KALIAN MENYELAMATKANKU! KENAPA KALIAN MEMISAHKAN AKU DENGAN BAYIKU, KENAPAAAA...!"
Bunga mencabut selang infusnya, darah langsung tercecer dari jarum yang masih menancap di nadinya dan kembali mengamuk membuat para perawat kalang kabut memanggil dokter. Sastra yang mendengarnya dari kejauhan langsung menerobos masuk begitu mendengar teriakan Bunga.
"Sayang, jangan begini. Kondisimu baru stabil, kumohon tenanglah," terdengar nada putus asa dari ucapan Sastra.
__ADS_1
"BRENGSEK, KENAPA KAMU KEMBALI LAGI HAH, APA KAMU YANG MEMBAWAKU KESINI? KENAPA TIDAK MEMBIARKAN AKU MATI? AKU BENCI PADAMU! AKU INGIN BERSAMA BAYIKU!" Bunga mengamuk menangis histeris sambil menjambak jambak rambutnya sendiri.
Sastra ingin memeluknya tetapi Bunga sama sekali tidak ingin disentuh olehnya. Lelaki tampan berlesung pipi itu merasa sesak yang tak berujung, hatinya pedih, sepi, sunyi senyap, mengkerut laksana kedinginan ketika Bunga menolak kehadirannya. Membuatnya merasa De Javu, mungkin seperti ini jugalah perasaan Bunga saat ia menolak kehadiran sang jabang bayi darah dagingnya.