
Semenjak Bunga hamil, Sastra jadi super overprotektif. Banyak hal yang tidak boleh dikerjakan membuat Bunga jengah karena Sastra memperlakukannya seperti bayi.
Setiap hari Bunga terus merengek dan akhirnya Sastra memberikan kelonggaran asalkan kegiatan yang dilakukan Bunga tidak terlalu berlebihan, Sastra mengultimatum para koki di cafe untuk tidak membiarkan Bunga turun tangan saat kegiatan membuat kue berlangsung.
Bahkan Bunga tidak diizinkan membawa mobil sendiri, ia akan diantar jemput olehnya atau Pak Pendi.
*****
Malam ini keduanya sedang bersantai di peraduan sambil menonton tayangan televisi. Sastra mendusel di perut istrinya dan menyingkap gaun tidur Bunga sehingga terlihatlah perutnya yang memang belum begitu membuncit. Diusapnya dan diciuminya perut istrinya lalu.
"Hello little baby, bagaimana kabarmu? sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, kamu tidak boleh nakal di dalam sana Nak, harus sayang pada Mamimu ya," Sastra berucap tepat di depan perut istrinya membuat Bunga terkekeh geli melihat kelakuan suaminya.
"Oke Papi gantengku," jawab Bunga dengan suara menyerupai anak kecil.
"Sayang, pesta akan dilangsungkan dua minggu lagi dari sekarang, apa kamu sudah memberi tahu Ibu?" tanya Sastra masih tetap dengan posisi merebahkan kepalanya di pangkuan Bunga.
"Aku sudah memberitahukannya kemarin, Ibu bilang akan kesini dua hari sebelum tanggal pesta." Tangan Bunga mengusap-usap rambut suaminya.
__ADS_1
"Aku ingin semua keluarga besar berkumpul untuk merayakan kebahagiaan kita, undang juga teman-temanmu di swalayan dulu, kamu pasti merindukan mereka bukan?"
"Benarkah... aku boleh mengundang mereka?"
"Tentu saja," sahutnya diiringi anggukan kepala dari Sastra.
Bunga sangat senang, karena sudah sangat lama sekali tidak bertemu dan juga berkumpul dengan teman-temannya dulu.
"Thank you honey." Bunga mengecup sekilas bibir suaminya, tapi Sastra menahan tengkuknya dan kecupan itu malah berubah menjadi ******* yang berlanjut pada kegiatan olahraga malam.
****
Hari ini Caroline datang ke Cafe, dia sudah tidak sabar untuk segera menemui Bunga dan ingin melihat bagaimana reaksi istrinya Sastra itu saat diprovokasi.
Setelah kejadian di kantor waktu lalu Caroline sadar jika Bunga bukanlah orang yang mudah terpengaruh dengan gosip murahan. Bahkan saat melihat Sastra dicium olehnya, Bunga malah menamparnya di luar dugaan, tidak seperti wanita pada umumnya yang akan berlari pergi dan menangis ketika memergoki suaminya berada dalam posisi yang intim seperti itu.
Caroline baru saja sampai di depan Cafe, suara sepatu hak tingginya yang beradu dengan lantai terdengar begitu nyaring di pagi itu. Ia duduk dan memanggil pelayan untuk mendekat padanya.
__ADS_1
"Anda ingin memesan apa Nona?" si pelayan bertanya dengan sopan.
"Aku tidak ingin memesan apapun, apakah bosmu ada? sampaikan padanya Caroline ingin bertemu."
"Ta-tapi Nona, Bos kami_"
"Kami sudah saling kenal dan ada hal penting yang ingin kubicaran," Caroline memotong ucapan pelayan itu.
"Baik akan saya sampaikan."
Pelayan tersebut segera menemui Bunga dan menyampaikan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya, begitu Bunga mendengar nama Caroline ia langsung berubah menjadi perempuan galak bak banteng bertanduk yang siap menyerang siapapun yang mengganggunya.
"Untuk apa dia meminta bertemu denganku?" tanya Bunga pada pelayan itu.
"Begini Nyonya, wanita itu mengatakan ada hal penting yang ingin disampaikan kepada Anda," pelayan tersebut menjawab dengan takut-takut melihat ekspresi Bunga yang menggelap tidak seperti biasanya.
Bunga beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan khususnya di cafe, ia melihat Caroline tengah duduk dengan santainya dan tanpa membuang waktu Bunga segera menghampirinya.
__ADS_1