
Bunga dan Sastra sudah sampai di sebuah gedung perkantoran. Itu adalah gedung perusahaan advertising milik Prawira Grup. Bunga tercengang ketika mengetahui akan bekerja di perusahaan sebesar ini. Hatinya sedikit mencelos, jujur saja ia takut akan terintimidasi karena hanya lulusan SMA.
Akan tetapi jika mengenai urusan pekerjaan jiwanya selalu penuh semangat. Bunga juga mempunyai otak yang encer dan yakin pasti bisa cepat belajar tentang pekerjaannya. Gadis itu bertekad untuk melakukan yang terbaik, ia tidak ingin mengecewakan Sastra yang sudah memberinya kesempatan untuk bekerja di sini.
Bunga melangkah masuk mengikuti Sastra memasuki lobi dan langsung disambut resepsionis yang membungkuk dan memberi salam. "Selamat pagi dan selamat datang pak Sastra."
Sastra hanya mengangguk dengan senyuman tipis dan berlalu melenggang dengan gagahnya menuju lift.
Di lobi itu ada juga para karyawati yang sengaja menebar pesona untuk menarik perhatian sang CEO, dan ada juga yang tengah berbisik-bisik. Bunga samar-samar mendengar bisikan para karyawati yang sedang berkerumun di sana.
"Si bos makin hari makin ganteng aja ya, duh aku rela walaupun dijadikan yang kedua,"ucap wanita berbaju merah.
"Jangankan yang kedua yang ketiga juga aku mau banget, si bos itu paket lengkap udah ganteng tajir lagi," sahut wanita berbaju biru.
"Liat deh punggungnya si bos itu senderable banget. Duh gue ngiler jadinya," timpal yang lainnya lagi
Bunga yang mendengarnya seketika hatinya memanas, ingin rasanya dia menutup wajah tampan sastra dengan topeng spiderman agar ketampanannya tidak membuat para wanita menjadi tidak waras.
Sedangkan Sastra nampak tidak perduli dan acuh tak acuh, sepertinya dia sudah terbiasa dengan suasana di kantor cabang yang heboh jika dia datang kemari.
Mereka berdua masuk ke dalam lift eksekutif dan sampailah di lantai lima belas di mana ruangan CEO berada. Sastra membuka ruangannya dan membawa Bunga masuk.
"Duduklah dan tunggu di sini sebentar." Kemudian Sastra menelepon seseorang. "Ke ruanganku sekarang juga!"
Lalu datanglah seorang karyawan yang masuk kedalam ruangan itu. "Selamat pagi Pak Sastra." Laki-laki muda itu membungkukkan badannya.
"Pagi Fajar, duduklah. Kenalkan, dia adalah yang waktu itu kubicarakan padamu." Sastra memperkenalkan Bunga pada Fajar.
Fajar adalah orang kepercayaannya Sastra di perusahaan advertising ini yang merupakan salah satu perusahaan di bawah naungan Prawira Grup corp, dia menjabat sebagai wakil CEO perusahaan.
"Selamat datang di perusahaan Nona, perkenalkan saya Fajar."
__ADS_1
"Saya Bunga Aulia, terimakasih atas sambutannya, mohon bimbingannya Pak Fajar," sapa Bunga sambil tersenyum ramah.
"Jadi, kamu sudah menyiapkan semua yang kuminta?" Sastra bertanya kepada Fajar.
"Semua sudah siap Pak. Nona Bunga akan di tempatkan di divisi accounting karena hanya posisi itu yang bisa di sesuaikan dengan keterampilan yang dimilikinya," jelas Fajar sopan dan hati-hati.
"Kupercayakan dia padamu. ingat dengan permintaanku kemarin, jangan sampai informasi pribadinya tersebar luas di antara karyawan yang lain," peringat Sastra memastikan.
"Semuanya sudah saya atur Pak, jangan khawatir. Saya akan memeriksa dulu ruangan yang akan digunakan Nona Bunga." Fajar mengangguk dan undur diri dari sana.
Setelah Fajar keluar ruangan Bunga duduk mendekati Sastra dan jarinya mendusel-dusel wajah tampan Sastra.
"Sayang aku mau diapakan?" Sastra merasa keheranan.
"Sas, kamu kapan jeleknya sih? aku jadi ingin menyembunyikan wajah tampanmu dan menyimpannya di dalam sakuku atau menutupnya dengan topeng agar tidak membuat para wanita menggila," keluh Bunga dengan bibir mengerucut.
"Hahaha... sayang apa kamu cemburu dengan perkataan para wanita di lobi tadi?" tanyanya penuh selidik.
Bunga bukannya menjawab malah makin cemberut dan menekuk wajahnya .
Sastra mencuri kecupan di bibir Bunga, gadis itu terkesiap lalu tersipu, Sastra tiba-tiba meraup gadisnya dan mendudukannya di pangkuannya.
"Sas ini di kantor!" Gadis itu meronta ingin turun tapi Sastra memeluk pinggangnya dengan erat. Diselipkannya untaian rambut Bunga ketelinganya dan ditatapnya gadis itu penuh kemesraan.
"Sayang, sejak dulu mereka memang seperti itu, jadi aku harap kamu tidak usah memperdulikannya. Atau sepertinya lebih baik kuumumkan saja pada mereka bahwa kamu adalah kekasihku."
"Eh, jangan Sas. Bukankah tadi sebelum berangkat ke sini kamu sudah setuju dengan permintaanku untuk jangan dulu memperkenalkanku sebagai pacarmu. Aku nggak mau lingkungan kerjaku menjadi canggung dan tidak nyaman jika mereka mengetahui itu. Aku ingin nantinya hasil kerjaku diakui karena kemampuanku bukan karena aku adalah pacarmu, kumohon." Bunga memelas.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji jangan termakan dengan omongan-omongan orang yang tidak bermanfaat oke?"
"Baik bos, don't worry." Bunga mengangkat kedua jempol tangannya.
__ADS_1
"Bunga, setelah jam makan siang nanti aku harus kembali ke kantor pusat. Kamu tidak apa-apa kan di sini tanpaku?" Sastra menatapnya khawatir.
"Aku akan baik-baik saja di sini," sahutnya.
"Tapi aku yang tidak baik-baik saja karena jauh darimu." Sastra menatap lamat-lamat mata bening gadisnya, ia mengangsurkan punggung tangannya di wajah cantik Bunga. Aliran darahnya berdesir hebat membawa dirinya semakin mendekat dengan napas yang memburu tak beraturan.
Wajahnya semakin mendekat dan tidak butuh waktu lama dipagutnya bibir yang menjadi candunya itu lalu disusul ******* yang semakin dalam dan memanas. Naluri alamiah Bunga membuat dia menutup matanya dan ikut membalas ciuman yang makin memanas itu hingga terdengar bunyi decapan bibir dari keduanya. Sastra tersenyum disela-sela pagutan bibirnya, karena gadisnya membalas ciumannya dalam ritme yang sama.
Mereka melepas pertautan bibir masing-masing dan mencoba menormalkan kembali napas yang terengah-engah setelah ciuman mereka tadi.
"Sayang, bahkan sekarang aku sudah sangat merindukanmu." Sastra menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bunga dan gadis itu memeluk punggung Sastra dengan mesra lalu mengusap usapnya dengan lembut.
Lalu tiba-tiba Fajar datang ke dalam ruangan membuat dia terperanjat kaget menyaksikan siaran langsung adegan intim dalam posisi Bunga yang duduk dipangkuan bosnya. Fajar langsung berbalik badan keluar ruangan dan kembali menutup pintunya.
Bunga yang merasa terciduk langsung buru-buru turun dari pangkuan Sastra. "Sas gimana ini, Fajar pasti melihat kita barusan." Bunga menggigit bibirnya cemas.
"Dia sudah tahu bahwa kamu adalah pacarku. Tapi kamu tenang saja hanya dia yang mengetahui tentang hal ini, aku sengaja memberi tahunya agar bisa tenang meninggalkanmu di perusahaan," paparnya.
"Fajar masuklah!"
Sastra berseru memanggilnya. Sastra tahu bahwa Fajar masih berada di balik pintu lalu pemuda itu masuk ke dalam ruangan dengan kikuk.
"Ma-maafkan saya yang lupa tidak mengetuk pintu tadi." Fajar menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan." Sastra mengibaskan tangannya.
"Pak, semuanya sudah siap, saya akan mengantarkan Nona Bunga keruanganya."
Kemudian Sastra mengangguk tanda setuju.
"Nona, mari ikuti saya." Ajak Fajar.
__ADS_1
Bunga pun bangkit dari duduknya dan mengikuti Fajar setelah sebelumnya berbalik sebentar dan melempar senyum termanisnya kepada Sastra sebelum keluar ruangan.
Sastra semakin gemas dibuatnya, membuat dia ingin sekali mengurung gadisnya dalam dekapannya dan mencumbuinya sekarang juga.