Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 115


__ADS_3

Satu jam berlalu. Sastra dan para penyidik baru menyelesaikan pertemuan mereka, kemudian bergegas kembali dan saat membuka pintu kamar perawatan ia kaget melihat Bunga sedang menangis tersedu-sedu. Sastra menghambur masuk dan duduk di tepi ranjang, ia menangkup kedua sisi wajah Bunga.


"Sayang, ada apa?" tanya Sastra. Raut wajahnya luar biasa cemas.


"Apakah selama ini kamu selalu membawanya?" Bunga menunjukkan foto USG itu.


"Foto ini?" Tatapan Sastra dipenuhi kasih sayang saat melihat foto itu lalu dia mengangguk.


"Iya, aku selalu membawanya kemanapun, dia adalah malaikat kecil pelindungku, penyemangatku. Aku bahkan menyalin beberapa foto ini, kucetak dan kutaruh dikamarku juga meja kerja dikantorku. Maaf, dulu aku melemparkan foto ini saat kamu memberikannya padaku, kuharap putraku akan memaafkanku karena aku telah menyia-nyiakannya," tuturnyanya dengan senyum getir.

__ADS_1


"Kamu mencintainya? sama sepertiku?" tanya Bunga kembali dengan bibir gemetar.


"Tentu saja, aku sangat mencintainya. walaupun aku menyadarinya saat semuanya sudah sangat terlambat," jawab Sastra dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Saat itu aku sangat marah dan kecewa padamu. Aku hancur saat kamu mengatakan tidak menginginkannya, dan karena hal itu pula telah menjadikanku seorang pengecut yang memilih untuk mengakhiri hidup. Namun, pada akhirnya justru bayiku pergi dan menyisakan aku yang tetap hidup, sejujurnya tindakan pecundangku itu yang selalu menghantuiku selama ini, hiks hiks hiks." Air mata Bunga mengalir dengan derasnya.


Sastra mengusap lembut pipi Bunga yang telah basah itu. "Dua tahun terakhir aku sangat menyesali kata-kataku padamu waktu itu. Aku memohon maaf dengan segenap jiwaku. Aku tahu bahkan mungkin seumur hidupku aku takkan layak untuk mendapatkan pengampunanmu karena sikapku waktu itu telah sangat melukaimu dan membuatmu menderita selama ini, maafkan aku sayang... maafkan aku." Sastra tertunduk dan berusaha menahan air matanya.


"Dokter Nadine sudah menceritakan semuanya padaku, termasuk tentang cerita masa remajamu. Aku juga minta maaf karena telah mengambil keputusan untuk lari menjauh darimu dan bukan menghadapinya. Yang akhirnya membuat kita semua menderita selama ini."

__ADS_1


Sastra merasakan hati dan jiwanya seperti dibebaskan seketika dari rantai belenggu yang mengikatnya kuat tanpa ampun saat telinganya mendengar kata-kata pengampunan meluncur dari mulut Bunga. Kata-kata yang telah lama dinantikannya, terdengar bagai bait-bait melodi yang mengalun indah, membuat hati yang dingin dan kering kembali menghangat dan bersemi.


Sastra menyentuh tangan Bunga yang menangkup pipinya. "Terima kasih sayang, terima kasih, karena telah sudi memaafkan manusia yang penuh dosa ini." Akhirnya air matanya terjatuh juga tak terbendung lagi.


"Dan kamu tidak perlu meminta maaf padaku karena kamu tidak mempunyai salah apapun, akulah yang paling bersalah disini," Sastra menyambung kalimatnya meskipun tenggorokannya tercekat.


Bunga menyeka air mata Sastra, mengecupi mata pria itu kemudian memeluknya dengan erat, Sastra pun membalas pelukan itu dengan tak kalah eratnya. Mereka berdua menangis bersama.


Kini, mereka membiarkan semua penyesalan, rasa sakit dan kecewa mengalir pergi terhanyut oleh jutaan air mata yang tumpah ruah dari sumber air mata keduanya. Mengambil hikmah dari kejadian pahit di masa lalu dan berharap semoga semua ini menjadi awal baru untuk bisa memulai kembali kisah kasih mereka dengan benar.

__ADS_1


"I love you sweetheart, I love you more than anything," desah Sastra parau masih dalam posisi saling berpelukan, ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Bunga.


"I love you too, I always love you." Bunga menjawab disela-sela isakannya.


__ADS_2