Kapan Menikah?

Kapan Menikah?
KM Part 118


__ADS_3

Bu Marni mempersilahkan Sastra dan Pak Arya untuk duduk, kemudian Bunga turun dan ikut bergabung bersama.


"Selamat siang Nyonya, maaf mengganggu waktu Anda." Pak Arya membuka pembicaraan.


"Sama sekali tidak Tuan, ada yang bisa saya bantu?" jawab Bu Marni.


"Perkenalkan saya Arya Prawira, Papanya Sastra. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminang putri Anda atas permintaan putra saya, Sastra ingin menikahi Bunga dan menjadikannya istrinya."


Bu Marni agak kaget karena mereka datang tiba-tiba dan mengutarakan maksud yang sangat penting.


"Bunga adalah putri saya yang berharga. Saya memang ibunya, tapi dalam hal ini semua keputusan terserah padanya. Saya akan selalu mendukung apapun keputusan yang diambilnya. Tapi saya ingin bertanya satu hal pada putra Anda."


Bu Marni menoleh ke arah Sastra.


"Nak Sastra, apa alasanmu ingin menikahi Bunga? tanya Bu Marni.

__ADS_1


"Karena saya mencintainya, sangat mencintainya, tidak ada alasan lain," jawabnya mantap.


"Bunga Anakku, kamu mau menerima atau menolak lamarannya?" Bu Marni ganti bertanya pada anaknya.


"Aku... aku menerimanya," sahutnya pelan sambil tertunduk malu.


"Apa alasanmu mau menikah dengan Sastra?"


"Karena aku juga mencintainya Bu," jawabnya dengan nada penuh keyakinan.


"Terimakasih banyak Nyonya, dan terimakasih Nak Bunga, karena sudah bersedia menerima pinangan anak saya." Pak Arya mengulas senyum lega.


"Nak Sastra, Tante menyerahkan Bunga kepadamu untuk dijadikan istrimu. Tolong jagalah dia selalu, setelah semua upayamu untuk kembali bersama Bunga, Tante percaya bahwa hanya kamu yang bisa membahagiakannya."


"Terima kasih Tante, jangan khawatir. Daya akan selalu menjaganya, mencintainya dan menyayanginya seumur hidup saya. Bukan hal mudah bagi saya untuk bisa bertemu dengan Bunga lagi dan sampai di tahap ini, maka dari itu saya tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Tuhan berikan."

__ADS_1


Pak Arya dan Bu Marni melanjutkan pembicaraan mereka untuk menentukan tanggal pernikahan. Sedangkan Bunga dan Sastra yang duduk berhadapan terhalang meja saling mencuri-curi pandang dengan senyuman yang merekah, ibarat anak SMA yang baru saja mengenal cinta.


*****


Dua minggu kemudian.


Hari ini adalah tanggal pernikahan yang telah ditentukan, hari bersejarah bagi dua insan yang akan menyatukan cinta mereka di hadapan Tuhan.


Perjalanan cinta yang tidak mudah, penuh liku-liku yang dihiasi rasa manis, kecewa, luka dan air mata. Namun, berkat ujian panjang itu mampu memurnikan rasa cinta mereka menjadi cinta yang sesungguhnya.


Pernikahan Sastra dan Bunga akan diadakan di salah satu gereja di Banjarmasin. Tadinya Sastra dan Pak Arya ingin mengadakan pernikahan mewah di ballroom hotel bintang lima dan mengundang banyak orang.


Akan tetapi Bunga menolaknya, ia ingin upacara pernikahannya diadakan secara sederhana dan khidmat, hanya mengundang keluarga dan orang-orang terdekat saja.


Nara Prawira kakaknya Sastra juga datang ke Banjarmasin bersama suami dan anaknya. Nara begitu senang, akhirnya sang adik bisa kembali mempunyai pandangan hidup yang normal dan menemukan tambatan hati.

__ADS_1


Tak lupa Nana dan Rasya ikut hadir. Nana sempat kaget karena Sastra dan Bunga akan menikah. Rasya mengatakan kalau yang namanya sudah ditakdirkan untuk berjodoh, mau dipisahkan dengan cara apapun pasti akan bersama lagi, tetapi kalau belum berjodoh mau disatukan seperti apapun tetap saja akan terpisah.


__ADS_2