Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Masa Lalu Part 3 Depresi


__ADS_3

Secepat kilat tim medis membawa Jenna keruang operasi, mereka akan melakukan berbagai cara untuk bisa menyelamatkan ibu dan janin yang masih ada didalam kandungan nya itu.


Sementara diluar ruangan Kevin mulai terlihat panik, pria itu berjalan mondar-mandir sambil terus memanjatkan doa demi kebaikan orang-orang yang dicintainya.


" Kevin!" Panggil Amanda saat dia dan James serta Brian sampai disana. Kevin langsung berhambur kedalam pelukan ibunya, tangisannya pecah seketika.


" Ya Tuhan Kev...Apa yang terjadi?" Amanda berusaha menenangkan anak sulungnya dengan mengelus punggung nya.


" Jenna ma...Jenna pendarahan " Jawabnya terbata.


Amanda berusaha untuk menahan topangan tubuhnya saat dia mendengar perkataan anak yang sedang menangis dalam pelukannya itu, pikiran terburuk nya hadir saat itu juga.


Tak berselang lama seorang dokter keluar dari balik pintu dengan wajah sedihnya.


" Bagaimana kondisi menantu dan cucu saya dok?" James menghampiri sang dokter


" Menantu anda selamat tuan, dia sekarang sudah melewati masa krisisnya..." Sang dokter menghela nafasnya berat


" Tapi maaf, saya tidak bisa menyelamatkan cucu anda tuan " Lanjutnya.


" Apa yang anda katakan dokter?!" Kevin melepaskan pelukannya lalu berjalan menghampiri sang dokter.


" Maaf tuan, istri anda mengalami keguguran akibat kelebihan beban gerak "


Deg !


Seketika perasaan Kevin bercampur, rasa bersalah, rasa sesal, marah dan sedih menyeruak didalam batinnya. Andaikan saja dia tidak memaksakan kehendaknya untuk melakukan hal itu malam tadi, andaikan saja dia mau mendengarkan permintaan Jenna, andaikan saja dia tidak nekat membawa istrinya serta seminggu yang lalu mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.


Kabar ini tidak luput dari perhatian Bella, secepat kilat wanita itu mendatangi rumah sakit dimana Jenna berada saat ini. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu terlebih lagi dia begitu menyayangkan kejadian ini.


Bella tiba disaat Jenna sudah berada didalam ruangan inap, sahabatnya itu tak berhenti nya menangis saat dia sampai disana meski disana sudah ada orang tua dan adik Kevin Brian serta Kevin sendiri.


Tangisnya semakin pecah saat Bella memeluknya.


" Sabar sayang....Sabar...Semua ini adalah cobaan...Kamu pasti kuat Jenna..." Bella mengelus pundak Jenna

__ADS_1


" Tidak Bell....Aku tidak sekuat itu "


" Sssttt...Aku yakin kamu akan bisa melalui semua ini Jen...Kamu adalah wanita paling tangguh yang pernah aku kenal "


Tiga bulan sejak kejadian itu, Jenna masih belum bisa melewati masa berkabungnya. Wanita itu terlihat semakin menarik dirinya, Kevin tak hentinya meminta maaf dan membujuk sang istri tercinta agar dia bisa kembali menjalani kehidupannya secara normal bersama dengannya seperti dulu.


" Sayang...Aku akan pergi keluar kota, kamu ikut yah? Siapa tahu suasana baru bisa membuatmu kembali bersemangat "


" Engga Kev...Aku masih ingin sendiri, aku belum siap " Pandangan mata Jenna masih terlihat kosong saat wanita itu menatap wajah suaminya. Hal inilah yang membuat perasaan bersalah Kevin tidak juga bisa hilang dari dirinya.


Kevin berjanji akan selalu mendampingi Jenna untuk melalui masa sulit ini bersama, dia merasa karena dirinya lah sang jabang bayi tidak bisa lahir ke bumi dan karena dirinya lah Jenna menjadi seperti ini sekarang.


Sama halnya seperti apa yang dirasakan oleh Jenna, wanita itu merasa jika ketidakhadiran calon anak mereka adalah karena kesalahannya. Andai saja saat itu dia lebih bisa mempercayai kekhawatirannya, andaikan saja saat itu dia mau menuruti nasehat mama mertua dan sahabatnya Bella, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.


Jenna merasa dirinya layak untuk mendapatkan hukuman karena kesalahan besar yang telah dia perbuat.


Kevin terpaksa harus pergi keluar kota sendiri untuk kesekian kalinya, dia pun harus bisa menahan keinginannya saat jiwa ke kejantanannya meronta meminta untuk segera dituntaskan karena Jenna belum juga bersedia untuk memberikan haknya.


Disisi lain kehadiran Bella sangat membantu Kevin melewati krisis dalam rumahtangganya itu, Bella selalu rutin mengunjungi sahabatnya Jenna untuk menemani dan menghiburnya disaat dirinya bahkan belum sanggup membuat Jenna tersenyum. Kevin bahkan selalu menitipkan Jenna saat dia sedang pergi ke luar kota.


Bella bahkan terkadang membantu Kevin untuk menyiapkan sarapan pagi, makan siang serta makan malam dan berbagai macam kebutuhan lainnya saat dia menginap untuk menemani Jenna.


"Terimakasih atas bantuannya Bell...Kamu memang sahabat terbaik untuk Jenna "


Kehadiran Bella diantara mereka sudah tidak asing lagi bagi Kevin, hingga pada satu malam Kevin tidak sengaja memergoki Bella saat wanita itu sedang mandi. Pria itu langsung memasuki kamar mandi sesaat setelah dirinya kembali dari dinas luar kota nya.


Entah setan apa yang merasuki Kevin, bukannya keluar dari kamar mandi dia malah melangkahkan kakinya mendekati Bella dan merengkuh tubuh polos wanita itu dari arah belakangnya.


" Aah.....hhmmmpppp!"


Secepat kilat Kevin membalikkan tubuh polosnya dan membekap mulutnya dengan bibirnya, Bella berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan dirinya dari tubuh Kevin tetapi tenaganya kalah besar, dan sentuhan Kevin semakin lama semakin membuat dirinya terbuai.


" Maafkan aku Bella..." Pinta Kevin lirih sesaat selesai mereka selesai melakukan hubungan terlarang itu.


" Aku mohon jangan sampai Jenna mengetahui hal ini " Pintanya lagi, sementara Bella masih terisak-isak sambil memandangi tubuh polosnya.

__ADS_1


" Sebaiknya kamu keluar dari sini sekarang Kev, sebelum Jenna terbangun " Isak Bella


" Apa istriku sudah memakan obatnya?"


Bella menautkan alis matanya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kevin, bukannya seharusnya dia tidak menanyakan hal itu? Pikirnya


" I...Iya sudah..."


" Itu artinya dia tidak akan terbangun sampai besok pagi Bella "


Dari semenjak kejadian itu Bella menjadi semakin jarang menemui Jenna, Kevin terpaksa harus menitipkan Jenna kepada ibunya saat dia sedang bekerja apalagi pergi ke luar kota. Berkali-kali Kevin berusaha untuk menghubungi wanita itu untuk meminta maaf, tetapi sepertinya nomor ponselnya sudah diblokir oleh Bella hingga akhirnya dia nekat menemui Bella ditempat kerjanya.


" Untuk apa kamu datang kemari Kevin?"


" Aku mohon Bell, ijinkan aku untuk berbicara dengan mu sekali ini saja "


" Aku benar-benar menyesali perbuatan ku " Kevin menghela nafasnya sejenak


" Bisakah kita berbicara ditempat lain Bella? Aku tidak mau pembicaraan kita menjadi konsumsi publik "


Mau tidak mau Bella menuruti ajakan Kevin, bagaimana pun apa yang dikatakan oleh suami sahabatnya ini memang benar adanya. Dia pun tidak mau apa yang akan mereka bicarakan nanti didengar oleh orang lain, apalagi hingga sampai ke telinga pacarnya Rodrigo nanti.


Bella menaiki mobil Kevin yang akan membawa mereka ke sebuah restoran yang terletak di roof top sebuah gedung tak jauh dari tempat Bella bekerja.


" Katakan secepatnya Kevin, aku tidak punya banyak waktu " Pintanya.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


__ADS_2