
" Ya Tuhan! Aku ketiduran! "Jenna cepat-cepat bangun dari tidurnya. Dilihatnya jam dinding menunjukkan waktu pukul 5 sore, ini artinya dia telah tertidur selama lebih dari empat jam!
" Aiden..!" Jenna menarik nafasnya kasar, tiba-tiba dia mengingat kembali saat Aiden menggendongnya ke kamar tadi siang saat dia sedang menangis.
" Ya ampun! Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku bisa menangis seperti itu " Jenna menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggelengkan kepalanya, sungguh dia sangat malu mengingat kejadian tadi.
" Semoga dia sudah pulang " Jenna beranjak dari posisinya, lalu berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajahnya sebelum dia turun ke lantai satu untuk menutup tokonya.
" Semoga Ruby tidak keberatan aku tinggal sendirian di toko " Gumamnya.
" Hallo Jenna, sudah bangun rupanya " Aiden menyapanya saat dia baru menginjakkan kakinya dilantai dapur, pria itu berjalan menghampirinya lalu memeluk tubuhnya.
" Aiden...Kamu belum pulang?" Tanya Jenna terbata.
" Aku memundurkan jadwal kepulangan ku sampai Minggu depan, kamu tidak keberatan kan aku membantumu disini?"
" Aku baru tahu betapa sulit nya membentuk cokelat-cokelat kecil ini Jenna! Ini sebuah karya seni..!" Lanjutnya antusias.
" Tuan Aiden sangat berlebihan nona, padahal aku hanya mengikuti caramu saja nona " Kilah Ruby
" Kau terlalu merendah Ruby, aku tahu kamu sangat lihai membentuk cokelat-cokelat kecil itu selama ini " Puji Jenna.
" Oia...Maafkan aku membiarkan mu sendiri sejak siang tadi, pasti kamu lelah kan Ruby?"
" Tidak nona, aku tidak sendiri...Aku dibantu oleh tuan yang sedang memeluk mu untuk melayani para tamu " Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Sepertinya pelanggan setia kita akan bertambah banyak nona, terutama para gadis " Kekeh Ruby.
Jenna menundukkan wajahnya berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya, sementara Aiden terkekeh sambil tetap memeluk Jenna. Menurutnya wajah Jenna yang merah seperti udang rebus itu terlihat sangat menggemaskan.
" Sebaiknya kita bersiap-siap untuk menutup toko Ruby, ini sudah hampir jam 6 sore " Jenna berusaha untuk kabur dari pelukan Aiden, tetapi pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Bisakah kamu melepaskan tanganmu Aiden? Aku harus menutup tokonya, Ruby harus sampai rumah sebelum jam 7 " Kilah Jenna.
" Tunggu sebentar lagi " Aiden mengedipkan sebelah matanya kepada Ruby. Ada apa ini pikir Jenna.
Ting..!
Jenna mengerutkan keningnya, jam segini mustahil jika masih ada pelanggan yang datang. Lagi pula siapa yang akan membeli permen cokelat malam-malam begini pikirnya.
__ADS_1
Aiden menuntun Jenna berjalan menuju meja konter di toko miliknya, betapa terkejutnya Jenna saat dirinya melihat banyak anak-anak muda mendatangi tokonya.
" Ada apa ini Ruby?" Jenna melihat gadis itu sudah mulai melayani para pelanggan baru mereka dengan begitu antusias.
" Aiden, apa yang sebenarnya terjadi?"
Aiden tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ditelinga kanan Jenna.
" Kejutan..." Lalu menjauhkan wajahnya dan mengembangkan senyumannya, lalu mulai membantu Ruby.
Jenna semakin terkejut tatkala dirinya melihat ada sedikit perbedaan ditempat dia memajang cokelat-cokelat kecil buatan dirinya dan Ruby, dia melihat sebuah meja ditengahnya, diantara lemari kaca yang diatasnya terdapat beberapa toples kaca berisikan bubuk cokelat, bubuk krim dan gula serta gelas kertas, gelas plastik dan satu toples sedotan plastik juga satu unit pemanas air.
" Kamu gak keberatan kan jika membuka toko mu sedikit lebih lama lagi?" Aiden tersenyum kepada seorang pelanggan yang memesan tiga cup coklat panas.
" Terimakasih, selamat menikmati " Ucapnya ramah pada seorang pelanggan berjenis kelamin perempuan.
Bukannya merasa senang, Jenna terlihat seperti sedang menahan emosi nya. Wanita itu terlihat menghela nafasnya kasar selama beberapa saat, Aiden meminta Ruby untuk meneruskan pekerjaannya disaat pelanggan yang belum terlayani hanya tersisa tiga orang saja.
" Bisa aku berbicara dengan mu?" Aiden mengajak Jenna untuk memasuki dapur.
" Apa yang sudah kamu lakukan Aiden?!"
" Kita baru tiga hari ini bertemu, kamu sudah berani memelukku! Memintaku untuk menjadi pacarmu! Dan sekarang ini! "
" Apa maksud dibalik semua ini Aiden!"
" Ssstt...Pelan kan suaramu Jenna, nanti pelanggan didepan mendengar nya "
" Tidak sebelum kamu menjelaskan maksud dibalik semua ini! Aku tidak pernah mengenal kebetulan semacam ini Aiden!"
" Oke...Oke...Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak disini...Suaramu akan membuat pelanggan-pelanggan baru itu ketakutan " Aiden mengajak Jenna untuk berbicara dikamarnya dilantai dua gedung itu.
Jenna menghempaskan genggaman tangan Aiden saat mereka sudah dilantai dua.
" Aku butuh penjelasan mu sekarang juga!"
" Oke...Tapi tenang dulu oke, kamu duduk dulu aku akan membawakan sesuatu untukmu " Aiden berlari menuruni tangga menuju lantai satu, dan tak lama kemudian dia sudah datang kembali dengan membawa dua jenis minuman coklat. Coklat panas didalam cup kertas dan coklat dingin didalam cup plastik, lalu menyodorkan nya kepada Jenna.
" Minum dulu, cobain dua-duanya " Pintanya sambil menatap bola mata indah berwarna biru milik Jenna.
__ADS_1
Ragu tapi penasaran akhirnya Jenna mencoba dua jenis minuman yang Aiden bawa, Jenna memang menyukai minuman coklat panas. Tanpa Jenna sadari, dia sangat menikmati kelezatan minuman itu. Jenna sampai menutup mata nya! Dia ingat dia pernah merasakan kelezatan coklat panas seperti yang ada dihadapannya saat ini, saat dia menemui Rodrigo beberapa tahun lalu.
" Sepertinya kamu menikmati nya " Kekeh Aiden.
" Kamu pandai sekali merusak suasana Aiden " Masih dengan mode marahnya meski Aiden tahu kadar kemarahan wanita ini sudah jauh berkurang.
" Kamu menyukainya?" Tanyanya.
" Aku akui minuman coklat panas ini sangat lezat, sama seperti yang pernah aku rasakan beberapa tahun yang lalu sebelum aku pindah kesini "
" Apa kamu tau merk coklat yang kamu gunakan selama ini adalah bubuk coklat yang sama dengan bubuk coklat yang aku gunakan untuk membuat minuman itu ?" Aiden meraih gelas berisikan coklat dingin lalu menyesapnya.
" Coklat panas yang aku minum beberapa tahun yang lalu, apa sama-sama menggunakan bubuk cokelat itu?"
" Sepertinya begitu " Kekeh Aiden
" Jadi...Apa maksud mu membuat kedai minuman didalam tokoku tanpa persetujuan dariku?"
Aiden tergelak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Jenna, lebih tepatnya karena intonasi suara wanita itu terdengar cukup menggelikan ditelinga nya. Jenna berusaha untuk tetap dalam keadaan marah sementara efek menenangkan dari minuman yang dia konsumsi sudah bereaksi.
Coklat mempunyai efek menenangkan pada siapapun yang mengkonsumsi nya baik dalam bentuk bar ( permen ) ataupun bentuk cair seperti yang sedang mereka nikmati bersama saat ini.
" Kok malah ketawa sih!"
" Oke...Oke akan aku jelaskan tapi intinya anggap saja aku sedang menanamkan modal di bisnismu ini Jenna, kita akan bekerjasama mulai saat ini "
*Ini akan menjadi alasan lain agar aku semakin sering datang ke kota ini untuk menemui mu sayang.
.
.
.
To be continued π
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah π
Happy reading π€*
__ADS_1