Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Luluh


__ADS_3

" Apa yang harus aku lakukan?" Jenna bergumam, saat ini hatinya begitu bimbang dengan banyaknya pilihan.


Dia tahu dirinya tidak bisa egois, hanya mengedepankan perasaannya saja. Dia juga paham jika urusan bisnis tidak bisa dicampuradukkan dengan urusan cinta. Bagaimana dengan nasib Ruby? Bagaimana dengan nasib para pelanggannya? Pikirnya.


Tidak bisa dipungkiri bahwa dukungan Aiden memang sangat besar terhadap dirinya dan bisnisnya, dia juga melihat Aiden tidak semerta-merta memberikan begitu saja uangnya. Semuanya tertulis rapi dalam catatan keuangan perusahaan oleh Paloma yang setiap hari dia periksa kembali sebelum tidur.


Jenna melihat layar ponselnya yang kembali berkedip, dia sengaja tidak merespon panggilan Aiden saat ini. Bagaimanapun ada rasa kecewa didalam hatinya terhadap pria itu, kenapa Aiden tidak mengatakan tentang siapa sebenarnya dirinya sejak awal?.


" Aaaahhh....!!! Aku bingung harus bagaimana!" Jenna membenamkan wajahnya di bantal.


Sementara dilantai dasar.


" Nona Paloma, apa kita akan kembali ke mansion?" Tanya Erica


" Aku belum tahu itu Erica, tapi aku rasa tidak " Jawab Paloma, insting wanita itu mengatakan bahwa majikan barunya ini akan tetap memperkerjakan dirinya dan teman-temannya disana.


" Sebentar, tuan Aiden benar-benar pemilik perusahaan coklat Teuscherro?" Ruby memastikan.


" Iya Ruby sayang...Aidenamian Teuscherro nama lengkap tuan muda Aiden " Jawab Wayan dengan gaya khasnya.


" Jadi....Bubuk cokelat yang selama ini kami pakai...?"


" Hhhmmmm...Iya sayang, selama ini kalian telah memakai produk andalan dari perusahaan milik tuan Aiden dan kabarnya cokelat olahan kalian adalah yang paling tuan Aiden sukai "


" Benarkah? " Ruby bola mata Ruby membulat sempurna.


" Kamu pikir kenapa tuan kami bisa jatuh cinta dengan nona Jenna semudah itu hhmmmm??"


" Dari mulut turun ke hati " Kekeh Wayan sambil memperagakan gerakan tangan gemulainya.


" Sebaiknya kalian membereskan semuanya, jangan sampai saat tuan Aiden tiba nanti ruangan ini masih terlihat berantakan " Titah Paloma.


" Apa tuan akan datang kemari malam ini?" Tanya Erica penasaran.


" Kalau bisa sejak siang tadi tuan sudah terbang dari sana Erica " Jawab Paloma sekenanya.


Tepat pukul 1 dini hari Aiden baru bisa tiba di toko milik Jenna, Paloma yang memang menunggu kedatangan Aiden membukakan pintu samping gedung itu.


" Nona Jenna sudah tidur tuan, apa sebaiknya anda membangunkannya besok pagi?"


" Kalian pulanglah..." Ucap Aiden tanpa menjawab pertanyaan dari Paloma, lalu berjalan menaiki tangga.


Paloma dan Philip hanya bisa saling berpandangan lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu mereka pun berjalan keluar meninggalkan ruangan itu tanpa lupa mengunci pintunya terlebih dahulu.


" Sepertinya tuan Aiden telah menemukan cintanya Philip " Ujar Paloma.


" Ya, meski dengan cara yang unik " Kekeh Philip sambil melajukan mobilnya menuju villa.


Beberapa kali Aiden menghela nafasnya pelan, pria itu masih berdiri didepan pintu masuk kamar Jenna sambil memegang handel pintu. Ada sedikit keraguan dan ketakutan didalam hatinya, tetapi rasa rindu dan rasa bersalah pada wanita itu lebih besar kadarnya.

__ADS_1


Ceklek...


Aiden membuka pintu lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dia melihat Jenna tengah tertidur pulas. Hampir seluruh tubuh wanita itu tertutupi selimut, dan hanya menyisakan ujung kepalanya saja. Perlahan Aiden menutup pintu dan mulai melangkahkan kakinya mendekati wanita yang sangat dirindukannya.


Aiden tersenyum melihat wajah Jenna yang hampir tertutupi oleh rambut nya, pria itupun menyingkirkan surai rambutnya bermaksud untuk mencium keningnya. Tetapi batinnya teriris setelah melihat mata Jenna yang sembab, sepertinya Jenna telah menangis pikirnya.


" Maafkan aku sayang..." Bisik Aiden setelah mencium keningnya.


.


.


" Ya Tuhan aku kesiangan!" Jenna terbangun dari tidurnya dan melihat jam di mejanya menunjukkan pukul 6 pagi.


" Kenapa alarmnya tidak menyala " Gumamnya sambil mencari keberadaan ponselnya.


" Aaaahhh!!!" Jenna terkejut melihat seseorang tengah berbaring disampingnya, lalu mendorongnya hingga terjatuh.


" Awwwhhh...Sakit...!" Aiden mengelus pelipisnya yang terantuk sisi lemari kecil disamping ranjang Jenna.


" Aiden! Ya Ampun...!" Secepat kilat wanita itu mendekatinya dan membantunya untuk berdiri.


" Apa yang kamu lakukan disini? Kapan kamu datang?"


" Aku masih ngantuk Jenna, aku mau tidur " Memeluk Jenna dan menariknya kembali untuk tidur.


" Pelipis Aiden " Jenna mencoba untuk melihat kondisi pelipis Aiden.


" Aiden aku harus kebawah, aku harus membuat..."


" Aku sudah meminta mereka untuk membuat nya " Aiden semakin mengeratkan pelukannya.


" Aiden hentikan!" Pinta Jenna saat pria itu menciumi leher nya.


" Kamu masih marah sama aku?" Tetap menciumi leher Jenna


" Iya...Aku masih marah sama kamu " Jenna menghela nafasnya, dan itu langsung menghentikan aksi Aiden.


" Jenna...Maafkan aku " Aiden mendudukkan dirinya, diikuti oleh Jenna. Saat ini posisi duduk mereka saling berhadapan.


" Aku tidak pernah bermaksud untuk..."


" Katakan padaku apa sebenarnya maksud dibalik semua perlakuan baikmu selama ini "


Aiden meraih kedua tangan Jenna, menciumi nya dan menggenggamnya erat lalu menceritakan semuanya. Tentang siapa dirinya yang sebenarnya, siapa Philip, perusahaannya hingga alasan kenapa dia memilih untuk menanamkan modal di bisnis Jenna.


" Aku melihat potensi besar dalam bisnismu Jenna, aku tidak ada niat lain selain ingin membantumu membangun bisnismu agar menjadi lebih besar "


" Lalu perkataan Lolita?"

__ADS_1


" Kamu jangan dengarkan dia, tempo hari Peter telah menarik seluruh sahamnya di perusahaan ku karena aku menolak untuk menikahi Lolita "


" Jadi kalian tidak pernah resmi bertunangan?"


" Resmi? Berhubung aja engga " Aiden memajukan bibirnya, dia kesal karena Jenna terus saja menanyakan tentang hubungan dirinya dan wanita itu.


" Huh! Wanita itu malah mengancam ku!"


" Memangnya apa yang terjadi kemarin?" Tanya Aiden penasaran.


Akhirnya Jenna pun menceritakan kejadian antara dirinya dan Lolita, bagaimana dia menghina Jenna dan Jenna membela dirinya himgga pada akhirnya Lolita mengancamnya. Seketika tawa Aiden terdengar.


" Kamu hebat sayang! Memang harusnya seperti itu menghadapi Lolita "


" Jenna, apa kamu percaya kepada ku? " Aiden membalikkan tubuh Jenna dan menarik tubuh wanita itu agar bersandar didada bidang nya.


" Maksudmu Aiden?" Jenna mendongakkan kepalanya.


" Aku mencintaimu dari semenjak pertama kita bertemu Jenna, aku tidak perduli dengan masa lalu mu yang aku pedulikan adalah masa depan kita "


" Aku tahu kau adalah wanita yang kuat Jenna, tapi untuk hidup bersama dengan ku kau tidak hanya harus kuat sayang, kau harus pintar dan aku tahu sebenarnya kau adalah wanita yang sangat pintar " Aiden mencium puncak kepala Jenna.


" Kenapa aku harus pintar sayang?" Jenna memainkan jarinya di lengan Aiden.


" Kita akan menjalankan perusahaan Teuscherro bersama sayang, aku tidak hanya butuh kamu sebagai seorang pendamping hidup sayang tapi juga sebagai seorang partner " Aiden kembali mengeratkan pelukannya.


" Kenapa aku Aiden?"


" Karena hati kecilku mengatakan demikian " Aiden menghela nafasnya, tiba-tiba saja dia mengingat sesuatu.


" Hei nona cantik, aku masih harus menghukum mu karena telah berani menertawakan ku tempo hari " Kekeh Aiden yang diikuti oleh gelak tawa Jenna.


" Kau tahu aku sampai menangis karena sangat merindukan mu saat itu " Aiden menciumi leher Jenna hingga wanita itu tertawa karena geli.


" Ampun Aiden! Geli...!" Jenna tergelak.


Sementara diluar pintu kamar ada sekumpulan mahluk penasaran yang sedang mencuri dengar percakapan antara tuan dan nona muda mereka.


" Aaahhh....So sweet " Ucap Wayan dengan aksi uniknya.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘

__ADS_1


Happy reading πŸ€—


__ADS_2