Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Cemburu


__ADS_3

Jenna tidak main-main dengan ucapannya, wanita itu bahkan menguasai sisa permainan yang tentunya sangat disukai oleh Aiden. Hingga pada akhirnya mereka berdua mengalami pelepasan puncaknya bersama dan pergi ke alam mimpi bersama pula.


" Jam 9?!" Philip mengerutkan keningnya, semenjak kedatangan nona muda ke mansion itu tuan Aiden nya seringkali bangun kesiangan. Untungnya masih ada sisa dua hari lagi untuk Aiden kembali ke rutinitas awalnya dikantor.


" Tuan Philip, ada nona Helena ingin bertemu dengan tuan Aiden " Nino sang kepala pelayan menghampiri Philip yang tengah menikmati secangkir kopi pahitnya diruangan kerja Aiden.


" Minta dia untuk menunggu Nino, saya akan menemuinya sebentar lagi " Nico kembali menyeruput kopi pahitnya.


" Baik tuan.." Nino menganggukkan kepalanya sebelum meninggalkan ruangan itu.


Philip kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya sebelum beranjak dari duduknya untuk menemui Helena.


" Selamat pagi nona Helena " Sapa Philip dengan sopan.


" Pagi " Helena hanya melirik sekilas kearah Philip lalu melemparkan kembali pandangannya kearah tangga, berharap Aiden akan turun dari kamar untuk menemui nya.


" Tuan muda masih tidur nona " Seakan mengerti arah pikiran mantan nona mudanya itu.


" Ini sudah jam 9 pagi Philip, kamu tahu kan dia itu pria yang sangat disiplin dengan waktunya?" Ucapnya terdengar kesal.


" Sepertinya tuan muda kembali bergadang, untuk merawat nona Jenna " Philip menarik salah satu sudut bibirnya tanpa sepengetahuan Helena.


" Bisakah kamu memanggilnya Philip? Bilang padanya aku sedang menunggunya disini " kembali melirik sekilas kearah Philip.


" Semalam tuan muda sudah berpesan agar tidak membangunkannya pagi ini nona " Kilah Philip, senyuman pria itu semakin mengembang dibelakang Helena.


Lucu pikir Philip, dulu wanita ini begitu ingin melepaskan diri dari Aiden dengan dalih ingin mengejar cita-cita nya untuk menjadi seorang aktris papan atas, padahal Aiden begitu mencintainya. Apapun Aiden lakukan demi wanita ini, tetapi sekarang setelah Aiden benar-benar melepaskannya wanita ini kembali hadir dalam kehidupan tuan mudanya itu. Bahkan terlihat begitu memaksakan diri pikirnya.


Sementara didalam kamar.


" Sayang...apa kamu tidak akan bangun?" Jenna kembali memercikkan air ke wajah tampan Aiden. Pria nya itu belum juga bangun padahal dirinya sudah berlama-lama berendam dikamar mandi tadi.


" Mmmhhh..."


" Aku masih ngantuk sayang " Ujar Aiden dengan suara khas bangun tidurnya, Aiden bahkan tetap menutup matanya ketika berbicara dengan Jenna. Tetapi sekejap kemudian pria itu langsung terbangun ketika menyadari sesuatu, dengan apa Jenna memercikkan air ke wajahnya pikir Aiden.


" Sayang, lukamu?" Aiden beranjak dari tidurnya untuk mensejajarkan posisinya dengan Jenna.

__ADS_1


" Sudah hampir kering Aiden, aku tadi sangat berhati-hati saat mencuci rambut ku agar tidak basah kena air " Ucapnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ada ditangannya.


" Syukurlah..." Akhirnya Aiden bisa bernafas lega.


" Ayo mandi sana Aiden, aku sudah tidak sabar ingin membuatkan masakan untuk mu " Pinta Jenna.


" Ide yang bagus sayang..." Aiden mengecup hidung Jenna lalu bergegas menuju kamar mandi.


" Philip, kesabaran ku sudah benar-benar habis! Aku harus menemui Aiden sekarang juga!" Helena sudah semakin terbakar api cemburu mendengar jawaban-jawaban dari mulut pria yang sedari tadi menemaninya diruang tamu. Bagaimana tidak, setiap pertanyaan yang diajukan kepada Philip, pria itu selalu saja menyebut nama Jenna dalam kalimat nya.


" Selamat pagi tuan Aiden, nona Jenna " Philip berdiri dari duduknya setelah dia melihat Aiden dan Jenna menuruni tangga, lalu melemparkan senyuman kepada keduanya.


Berbeda dengan Helena, bola mata wanita itu membulat seketika setelah melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita yang digandeng oleh Aiden. Jenna mengenakan piyama milik Aiden! Dia hafal betul dengan piyama tidur itu, karena Philip yang menghadiahkan baju itu di hari ulang tahun Aiden.


" Pagi Philip, nona Helena " Sapa Jenna dengan senyuman manisnya, sementara Aiden hanya menganggukkan kepalanya pelan.


" Aiden, bisa kita berbicara sebentar?" Helena bertanya tanpa memperdulikan sapaan Jenna kepadanya, dan itu sangat tidak disukai oleh Aiden.


" Antar nona Jenna ke dapur Philip, dia ingin membuatkan masakan lezat untukku dan pastikan Simon belajar darinya " Aiden mencium kening, hidung serta bibir Jenna sebelum dia membiarkannya pergi bersama dengan Philip.


" Tunggu..." Sesuatu telah mengusik Aiden, pria itu melangkahkan kakinya mendekati Jenna.


" Huufttt..." Helena menghela nafasnya kasar, wanita ini juga memutar kedua bola matanya melihat pemandangan yang sangat kekanak-kanakan menurut nya.


" Apa yang ingin kamu bicarakan sepagi ini Helen?" Aiden duduk di sofa tunggal diruangan itu, sengaja Aiden pilih agar Helen tidak leluasa untuk mendekatinya.


" Pagi katamu Aiden? Ini sudah lebih dari jam 9" Ucapnya kesal.


" Lalu? Apa urusanmu denganmu?"


" Kau bukan pria yang bisa menyia-nyiakan waktu seperti itu Aiden!"


" Apa kedatangan mu kemari hanya untuk membahas hal ini Helen? Aku tidak punya banyak waktu untuk ini " Aiden beranjak dari duduknya, dia sungguh sangat malas berdebat dengan Helen.


Wanita ini selalu mempunyai beribu alasan untuk bisa memenangkan perdebatan diantara mereka, dulu mungkin Aiden akan mengalah tapi sekarang hal itu sudah tidak mungkin lagi Aiden lakukan. Dihatinya sudah tidak terukir lagi nama wanita itu.


" Tunggu Aiden..." Helen meraih tangan Aiden, tetapi langsung ditepis oleh pria itu.

__ADS_1


" Apa aku sudah tidak bisa lagi berada dekat denganmu Aiden.." Ujarnya lirih.


" Aku sudah kembali Aiden, seperti keinginan mu sejak dulu " Lanjutnya.


" Sayangnya semua sudah terlambat Helen.." Aiden menghela nafasnya berat.


" Apa karena wanita itu?"


" Jauh sebelum kehadirannya didalam hidupku, aku sudah menghapus namamu di hatiku Helen " Aiden melangkahkan kakinya meninggalkan Helena yang mulai terisak diruangan itu.


" Aiden...Aku mohon, beri aku kesempatan sekali lagi, aku tahu aku salah..." Helena mengejar Aiden dan memeluknya dari belakang tubuh atletis pria itu, tubuh yang sudah sangat dia rindukan.


" Lepaskan tanganmu dari tubuhku Helena!" Aiden tengah mencoba untuk melepaskan pelukan erat Helena ketika Jenna menghampiri nya, lalu menjatuhkan nampan yang dipegangnya setelah wanita itu menyaksikan adegan yang membuatnya teringat akan masa lalunya itu.


" Jenna...!" Aiden menghempas kasar tangan Helena lalu berlari menaiki tangga untuk mengejar Jenna.


" Aiden...!" Pekik Helena lalu menangis sejadi-jadinya disana melihat Aiden yang berlari mengejar wanita itu tanpa memperdulikan nya sama sekali.


" Jenna...Buka pintunya sayang " Aiden berusaha untuk membuka pintu kamarnya yang terkunci dari dalam.


" Jenna...!" Aiden menaik turunkan tuas pintu itu semakin keras.


" Jenna...Kamu salah paham sayang, buka pintunya!" Teriak Aiden.


" Philip! Ambilkan kunci cadangan!" Pintanya kepada sang asisten yang ternyata sudah berdiri dibelakangnya sambil memberikan kunci cadangan itu kepada Aiden.


Ternyata tadi ketika Philip melihat adegan kejar-kejaran antara tuan dan nona muda nya, pria itu sudah bisa menebak jika nona mudanya akan mengunci pintu kamarnya dari dalam.


" Sungguh merepotkan " Batinnya, saat dia berjalan melewati Helena yang terduduk sambil menangis.


.


.


.


To be continued πŸ˜‰

__ADS_1


Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah 😘


Happy reading πŸ€—


__ADS_2