
Jam makan siang seperti biasa kedai Sanremo Chocolatier akan ramai dipadati pelanggan, mereka mengantri untuk mendapatkan minuman dan makanan paling fenomenal saat ini dikota kecil itu. Secangkir coklat panas atau dingin dengan biskuit coklat yang creamy dan lumer di mulut atau satu porsi sandwich dengan berbagai varian isi, tentu saja tidak ketinggalan cokelat-cokelat kecil berbagai bentuk dan rasa.
Kesibukan tidak hanya terjadi diluar dapur, tetapi hal yang lebih pun terjadi didalam dapur yang berukuran sedang itu. Dan sudah satu bulan terakhir ini Jenna benar-benar harus terjun langsung untuk membantu tim nya.
" Satu sandwich keju panggang, dua sandwich tuna panggang pedas, dua sandwich salmon panggang!" Teriak Wayan ditujukan kepada dirinya dan Jill serta Jenna.
" Lima cokelat panas, dua cokelat dingin!" Pinta Megan kepada Ruby.
Dan dengan cekatan mereka semua menyiapkan semua menu pilihan pelanggan setianya, sementara disamping Ruby terlihat Paloma sedang melayani dua orang pelanggan yang sedang memilih berbagai bentuk dan rasa cokelat yang terpajang.
" Sepertinya aku harus menambah jumlah karyawan " Batin Jenna, dia tidak mau pekerjaan Paloma terganggu karena harus membantunya melayani para pelanggan setianya meski wanita itu tidak keberatan sama sekali.
Dua jam kemudian para pelanggan sudah mulai berkurang jumlahnya, kesempatan ini mereka gunakan untuk beristirahat secara bergiliran.
" Palma, aku ingin menambah jumlah karyawan di toko ini... Bagaimana menurut mu? Apakah sudah memungkinkan untuk itu?"
" Itu ide yang bagus nona, dengan kenaikan jumlah pelanggan yang datang kita sebaiknya menambah dua orang lagi karyawan baru "
" Oke, mulai besok kita buka kembali lowongan pekerjaannya "
Baru saja Jenna akan menyantap makan siangnya, tiba-tiba dia mendengar ada kegaduhan didalam toko. Jenna dan Paloma pun memutuskan untuk melihatnya.
" Maaf nona, nona Jenna sedang beristirahat makan siang... Sebaiknya anda menunggu sebentar " Bujuk Erica
" Kau! Kau bukannya pelayan dirumah Aiden?! Kau juga!" Tunjuk nya kepada Megan
" Apa yang sedang kalian lakukan disini hah?!" Bentak Lolita kepada keduanya.
" Ada apa ini?" Jenna berjalan menghampiri mereka, sekilas dia mendengar wanita itu mengatakan bahwa Erica dan Megan adalah pelayan dirumah Aiden. Seketika pertanyaan besar muncul dibenaknya.
" Kau! Selain merebut tunangan ku, sekarang kau juga memanfaatkan kekayaan Aiden untuk bisnis kecilmu ini kan?!" Lolita tergelak, kata-katanya begitu merendahkan harga diri Jenna saat ini.
PLAK!
__ADS_1
Satu tamparan melayang di pipi mulus wanita itu, sorot mata tajam Jenna langsung menusuk hati Lolita.
" Jaga mulutmu itu nona" Ujar Jenna geram.
" Atau kau ingin wajah cantikmu itu hancur sekarang juga?!" Lanjutnya.
" Huh! Ternyata selera wanita Aiden begitu rendah! Pria terhormat sepertinya telah mencintai wanita bar-bar sepertimu!" Kilah Lolita, wanita itu berusaha menyembunyikan rasa malunya akibat tamparan Jenna di pipinya dengan terus menghina nya.
" Dan apakah wanita terhormat itu adalah wanita seperti mu? yang selalu merendahkan bahkan menghina wanita lain dihadapan orang-orang yang tidak dikenalnya?"
" Itukah versi wanita terhormat mu nona Lolita yang terhormat?!" Jenna menekankan seluruh kalimatnya.
Deg!
Mulut Lolita dibuat bungkam oleh perkataan yang keluar dari mulut Jenna. Jenna memang tidak terlahir dari keluarga kaya, dia bahkan terpaksa harus merelakan kuliahnya berhenti ditengah jalan sepeninggal mendiang ayah dan ibunya, tetapi untuk urusan menjaga kehormatan dan harga diri wanita ini patut diacungi jempol.
" Kau! Tunggu pembalasan dariku wanita sialan! Kau akan menyesali semua kata-kata mu" Lolita menunjuk wajah Jenna dengan telunjuknya, tetapi langsung ditepis oleh Jenna.
" Aku akan menunggumu nona Lolita yang terhormat " Jenna menatap tajam kearah mata Lolita. Kalah telak wanita itupun memilih untuk pergi.
Dengan sangat terpaksa Megan dan Erica meminta para tamu yang masih ada didalam ruangan untuk meninggalkan tempat itu, mereka bahkan memberikan makanan yang sudah terlanjur mereka pesan secara cuma-cuma. Keduanya pun dengan sopan meminta maaf kepada pelanggan yang masih terlihat antri disana, dan meminta mereka untuk kembali keesokan harinya.
" Katakan padaku kenapa wanita itu mengatakan bahwa Megan dan Erica adalah pelayan dirumah Aiden?" Jenna menghela nafasnya kasar, dia tidak mendapatkan jawaban dari siapapun yang ada dihadapannya. Semua orang tertunduk dan tidak berani menatapnya, bahkan Wayan yang biasanya senang berbicara kali ini hanya bisa menundukkan kepalanya.
" Katakan padaku siapa Aiden sebenarnya!" Nada suara Jenna naik satu oktaf.
" Kenapa kalian semua bungkam hah?! Apa kalian tidak punya mulut untuk berbicara?!" Lanjutnya.
" Nona...Ijinkan saya berbicara, untuk mewakili teman-teman saya " Akhirnya Paloma memberanikan dirinya untuk berbicara, setelah wanita itu menutup kembali layar handphonenya tanpa sepengetahuan Jenna.
Paloma lalu menceritakan semuanya secara detail tentang siapa dirinya, Wayan dan Jill serta Erica dan Megan. Setelah itu dengan sangat hati-hati dia menceritakan tentang siapa sebenarnya Aiden secara sekilas, karena bagaimanapun dirinya harus menjaga integritas ketika sedang membicarakannya bos besarnya.
Jenna menghela nafasnya kasar, dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Aiden dan semua yang terjadi didalam hidupnya selama kurang lebih empat bulan terakhir ini adalah hanya sebuah kebetulan yang memang tidak pernah ada didalam kamus hidupnya.
__ADS_1
Wanita ini pun di hadapkan pada dua pilihan, melanjutkan hubungan bisnisnya dengan Aiden atau tidak dan itu artinya dia pun harus memilih untuk melanjutkan hubungannya dengan Aiden atau mengakhirinya. Sekilas dia melihat cincin yang disematkan oleh Aiden dijari manisnya, Jenna mengepalkan tangannya dan kembali menghela nafasnya kasar.
" Aku ingin sendiri " Ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka dan menaiki tangga menuju lantai dua.
Sementara diruangan kerja Aiden, pria itu terlihat sedang begitu kesal. Pasalnya setelah Philip memberi tahunya tentang peristiwa yang sedang terjadi di Sanremo, dirinya masih tertahan disana karena masih harus menghadiri rapat penting pemegang saham. Dan baru akan bisa terbang ke Sanremo pukul 9.30 malam nanti.
" Aarrghhh!!!" Pekik nya.
Kenapa disaat perusahaan sudah mulai stabil kembali, dirinya harus dihadapkan pada situasi yang sulit seperti ini pikirnya.
" Philip! Apa kamu sudah memesan tiket penerbangan untuk malam nanti?!" Ini kali ketiga Aiden menanyakan hal itu kepada asisten pribadinya itu.
" Sudah tuan " Dan seperti biasa Philip tidak bisa berkutik jika Aiden sedang dalam mode marah seperti ini.
" Jam berapa rapat akan dimulai?"
" 15 menit lagi rapat akan dimulai tuan, sebaiknya kamu makan dulu..." Saran Philip.
" Bagaimana aku bisa makan Philip dalam keadaan seperti ini Philip!" Aiden beranjak dari kursi kebesarannya lalu berjalan mendekati jendela kaca besar diruangan itu.
" Bagaimana jika Jennaku marah dan akhirnya minta putus Philip?! Bagaiman jika dia tidak bisa menerimaku??!"
" Bagaimana jika aku tidak bisa lagi memakan cokelat-cokelat paling enak sedunia itu Philip?? Katakan sesuatu! Jangan diam saja!" Aiden meremas rambutnya.
" Ya Tuhan...Aku pikir karena apa " Batin Philip
.
.
.
To be continued π
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih udah meninggalkan jejak kalian disini yah π
Happy reading π€