
Malam hari menjelang, Philip memutuskan untuk kembali ke villa. Dia tidak mau kejadian panas tadi terulang kembali jika dirinya tetap tinggal di ruko bersama dengan Rubby.
Philip pun memutuskan untuk tinggal selama dua hari disana, pria dingin itu harus menemui anggota keluarga Rubby untuk meminta restu terutama kepada sang ibu untuk menikahi anak gadisnya.
" Kamu terlihat gelisah tuan Philip " Ucap Wayan, dirinya bisa melihat kekhawatiran Philip melalui hembusan nafasnya. Tidak bisanya pria dingin itu menghela nafasnya berat sesering itu.
" Entahlah, perasaan ku tidak enak " Ucap Philip, lalu menghela nafasnya kembali seperti tadi.
" Apa anda sudah menghubungi gadis itu? Mungkin itu bisa membuat anda sedikit lega " Wayan memberinya saran, lalu meninggalkan pria dingin itu seorang diri untuk memberinya sedikit privasi.
Setuju dengan saran yang diberikan oleh Wayan, Philip pun memutuskan untuk menghubungi Rubby. Gadis yang baru satu jam yang lalu di tinggal nya.
" Semoga dia belum tidur " Gumamnya, seraya mendekatkan benda pipih itu ditelinga nya.
" Hallo..." Ucap gadis itu dengan suara bantal nya, disusul oleh dengkuran halus gadis cantik itu.
" Rupanya dia sudah tidur...Syukurlah " Batin Philip.
Seketika sebuah senyuman mengembang di wajahnya, apalagi saat ini dia masih mendengarkan dengkuran halus pujaan hatinya itu. Philip memutuskan untuk meneruskan sambungan telepon nya dan mendengarkan dengkuran halus gadis itu lebih lama lagi.
" Setidaknya dengan ini kekhawatiran ku sedikit terobati " Gumamnya.
Gila memang pikirnya, selama hidupnya belum pernah sekalipun dia melakukan hal konyol seperti ini terlebih untuk seorang gadis ingusan yang usianya terpaut jauh darinya.
Perlahan Philip beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuh nya diatas ranjang setelah sebelum nya dia membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya tanpa mematikan ponselnya.
Pelan tapi masih bisa terdengar ditelinga Philip saat gadis itu mengigau menyebutkan namanya, pria dingin itupun terkekeh pelan. Tetapi lama kelamaan Philip mendengar lenguhan halus gadis itu, suara yang sama seperti siang tadi.
" Mimpi apa dia?" Gumam Philip
" Apa jangan-jangan dia mimpi....Ya Tuhan! Aku harus cepat-cepat menikahi nya!" Ucap Philip, seraya mengusap wajahnya kasar.
Philip yakin jika kejadian siang tadi terbawa hingga ke alam mimpi gadis itu, itulah yang menyebabkan Rubby mengigau malam ini. Pria itupun memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon nya, karena si junior yang sudah mulai menggeliat dan meminta jatah nya.
" Hhhhhhh...Ini untuk terakhir kalinya junior, minggu depan kamu sudah bisa memasuki sarangmu " Ucapnya lalu beranjak dari tidur nya untuk melakukan ritual solo nya.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali seperti biasa Rubby sudah berkutat dengan bahan-bahan pembuat permen coklatnya di dapur, gadis itu akan menginap di ruko jika nyonya Arthur memesan coklat-coklat mungil itu untuk cucunya. Wanita paruh baya itu pasti selalu meminta Rubby untuk menyiapkan pesanan nya pada pagi hari.
Dan benar saja, tepat jam 7.30 pagi nyonya Arthur sudah berada disana untuk mengambil pesanannya.
" Selamat pagi sayang " Sapa nyonya cantik itu kepada Rubby.
" Pagi nyonya Arthur, pesanan mu sudah siap nyonya " Ucap Rubby lalu menyerahkan lima kotak besar berisi berbagai bentuk karakter dan rasa.
Setelah selesai dengan urusan nyonya Arthur, Rubby memutuskan untuk membantu Megan membersihkan areal resto. Rubby menawarkan diri untuk membereskan meja dan kursi yang biasa diletakkan diluar toko tersebut.
" Pagi Rubby " Sapa Shawn. Pagi ini dia tidak datang sendiri seperti biasanya, dia datang bersama dengan dua orang temannya.
" Pagi Shawn " Jawab Rubby ramah. Gadis itu tetap melakukan aktivitas nya membereskan meja dan kursi tamu diluar toko, tanpa terganggu oleh kehadiran Shawn dan teman-temannya itu.
" Kamu udah sarapan pagi Rubby? Kebetulan kami mau makan di Santos sekarang, kamu ikut yah " Ajak Shawn sedikit memaksa.
" Terimakasih Shawn, tapi aku sedang sibuk...Lagipula sebentar lagi Jill selesai menyiapkan sarapan pagi untuk kami " Seperti biasa gadis itu akan menolak secara halus ajakan Shawn, gadis itu memang sengaja menjaga jarak dengan Shawn yang terkenal suka seenaknya terhadap teman wanitanya.
" Dia tidak pantas untukmu, dia lebih pantas untuk menjadi paman mu " Lanjutnya lalu tertawa bersama dengan dua temannya itu.
" Hentikan Shawn, aku sedang tidak ingin meladenimu okey! Sebaiknya kalian pergi dari sini " Ucap Rubby kesal. Gadis cantik itu pun memutuskan untuk kembali kedalam toko, karena malas jika harus berlama-lama bersama Shawn dan kedua temannya disana. Tetapi saat dirinya akan masuk, tiba-tiba saja Shawn menarik rambutnya hingga Rubby berteriak kesakitan.
" Rubby!" Pekik Megan, lalu berlari menghampiri Rubby untuk menjauhkan pemuda itu dari temannya.
" Lepaskan dia brengsek!" Teriak Megan, sambil mencoba untuk melepaskan tangan Shawn dari rambut ikal Rubby.
Tidak tinggal diam, kedua teman Shawn pun menarik tangan Megan lalu menahan tubuh gadis itu. Megan berteriak memanggil Jill agar gadis itu segera menolongnya.
" Hei lepaskan mereka!" Seru Jill, sambil berlari menghampiri Megan dan Rubby.
" Lepaskan rambutku Shawn!" Pekik Rubby sambil memegangi rambutnya.
Bug!
__ADS_1
Bug!
Jill berhasil membebaskan Megan dari tawanan dua teman Shawn setelah gadis itu melayangkan pukulan telaknya di perut mereka, hingga keduanya pun tersungkur.
" Berani bergerak lagi, akan aku tarik rambutnya tingga copot dari kepalanya! Kau mengerti!" Ancam Shawn pada Jill saat gadis itu mencoba untuk menghampiri nya.
" Berani kamu tarik rambut gadis itu, maka kepalamu yang akan pecah" Ucap Philip sambil menodongkan senjata api di kepala bocah ingusan itu.
" Kau! Kau tidak akan berani melakukan nya! Ayahku ...!"
" Seorang wakil Sherif begitu maksudmu? Aku bahkan bisa membeli keluarga mu dengan uang bensinku, mengerti!" Ancam Philip
Benar saja firasat Philip sejak semalam, dia merasa harus bergegas menemui Rubby pagi ini. Maka dari itu begitu bangun tidur pukul 6 tadi, Philip memutuskan untuk bersiap dan bergegas untuk menemui Rubby.
Shawn pun perlahan melepaskan tangannya dari rambut Rubby, rambut yang sejak dulu selalu membuatnya penasaran terhadap gadis polos itu. Secepat kilat Philip meraih tubuh Rubby dan menggendong nya lalu membawanya kedalam.
" Urus dia Paloma " Titah Philip pada asisten kepercayaan nya itu.
" Kamu baik-baik saja baby?" Tanya Philip setelah pria itu meletakkan tubuh Rubby diatas bath tub.
" Sebaiknya kamu mandi " Lanjutnya.
Philip tidak suka dengan jejak tangan pemuda ingusan itu di rambut kekasihnya, jika dia bisa sudah dia potong rambut gadis itu sejak tadi.
.
.
.
To be continue
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading...π€π€π€
__ADS_1