Karma Is A Bich

Karma Is A Bich
Keputusan Aiden


__ADS_3

" Lihat apa yang telah kamu buat kepada putri kita Mischa!" Ucap Theresia, wanita itu sangat kecewa dengan tindakan ceroboh suaminya.


" Seharusnya putri kita sedang berbahagia hari ini !" Lanjut nya sambil menangis. Jenna berusaha untuk menenangkan wanita itu, khawatir penyakitnya akan kambuh.


" Maafkan aku Theresia, aku tidak tahu...." Mischa tidak kuasa melanjutkan kata-katanya, terlebih sang istri menolak untuk dia dekati.


" Kau dan pemikiran kolotmu itu! Keras kepala! Jangan sentuh aku!" Ucap Theresia sambil menghempaskan tangan sang suami.


" Nyonya, sebaiknya kita beristirahat diruangan sana " Ajak Jenna, lalu menuntun Theresia menuju ruangan tunggu khusus disamping ruangan dimana mereka berada saat ini.


Sementara Aiden tengah menemani Philip di depan pintu keluar ruangan operasi, Philip terlihat sangat gusar. Sesekali dia melihat isi kotak kecil yang ada ditangannya, satu buah cincin bertahtakan berlian yang seharusnya dia sematkan dijari manis gadis kesayangannya.


" Kenapa mereka lama sekali Aiden..." Keluh Philip, sambil memandangi pintu yang ada di depannya.


" Sabar Philip, biarkan mereka melakukan tugasnya dengan baik " Jawa Aiden sambil mengelus punggung Philip.


Mischa hanya menatap keduanya dari ujung sudut ruangan, tanpa berani mendekati mereka. Dia diliputi rasa bersalah sekaligus malu kepada Philip, tindakannya begitu ceroboh karena tidak mengindahkan perkataan Rubby saat gadis itu menolak untuk mendatangi kediaman orang tua Shawn.


Rubby sempat memberi tahunya tentang perilaku kasar bocah itu terhadap nya, tetapi Mischa tidak mempercayainya saat itu. Mana mungkin anak seorang keluarga terhormat berperilaku seperti itu pikirnya, yang Mischa tahu Shawn adalah anak yang baik selama ini. Pria tua itu mengira jika putrinya hanya mengada-ada, karena tidak mau dijodohkan dengan Shawn.


" Bagaimana kondisi Rubby dokter?" Tanya Philip, sebelum sang dokter sempat memanggil keluarga gadis itu.


" Kondisi nona Rubby sudah stabil tuan, beruntung luka sayatan dilehernya tidak sampai ke arterinya...Nona Rubby hanya akan mengalami gangguan bicara, itupun hanya sementara hingga luka di lehernya sembuh " Ujar dokter yang telah menangani operasi gadisnya itu.


" Syukurlah...Apa kami sudah bisa menemuinya?" Tanya Aiden.


Sengaja Aiden menempatkan Rubby di ruang rawat inap VIP agar mereka bisa bebas masuk untuk menjenguknya.


" Sudah tuan...Silahkan mengikuti perawat ini " Pinta sang dokter, saat seorang perawat berjalan menghampiri mereka.


" Hallo baby..." Sapa Philip, saat pria itu memasuki ruangan dan melihat Rubby mengulurkan tangannya.

__ADS_1


" Dokter melarangmu untuk berbicara sementara ini sayang..." Lanjutnya, sambil memeluk Rubby dengan hati-hati.


Rubby hanya bisa menangis saat melihat ibunya pun berada disana bersama dengan Jenna dan Aiden.


" Maafkan ibu sayang..." Ucap Theresia sambil menangis karena tidak tega melihat kondisi putrinya yang sementara ini tidak bisa berbicara kepadanya. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, lalu memeluk erat tubuh sang ibu seakan berkata bahwa hal itu bukan kesalahannya dan dia baik-baik saja.


Jenna pun sama, memeluk Rubby saat sang ibu sudah mengurai pelukannya.


" Kamu pasti cepat sembuh, kamu adalah kuda poni yang kuat " Ucap Jenna sambil mengelus punggung gadis yang sudah dia anggap sebagai adik itu.


Hanya satu orang yang tidak berada bersama dengan mereka saat ini, yakni Mischa ayah dari Rubby. Pria paruh baya ini memutuskan untuk pergi ke taman, dia belum berani bertemu dengan putri sulungnya itu. Dia masih merasa bersalah kepadanya.


Aiden yang mengetahui hal ini memutuskan untuk menghampiri pria paruh baya yang segera akan menjadi besannya itu ke taman dan mengajaknya bicara.


" Anda disini rupanya tuan Mischa " Ucap Aiden lalu menyerahkan satu cangkir kopi panas kepadanya dan duduk disampingnya.


" Terimakasih nak " Ucapnya.


" Anda tahu, kakak ku itu bukan kakak kandungku...Dia adalah anak yang diadopsi oleh ayahku dari sebuah panti asuhan dulu " Ujat Aiden, dia sengaja membuka pembicaraan dengan sedikit membahas tentang siapa sebenarnya Philip.


Mischa hanya menghela nafasnya, tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.


" Jika ada didunia ini seorang pria yang sangat baik dan bertanggung jawab, itu adalah kakakku Philip...Semenjak kematian orang tua kami, Philip berjanji akan selalu menjagaku, hingga hari ini pria dingin dan kaku itu bahkan tidak punya waktu untuk mengurusi dirinya sendiri...Sampai dia bertemu dengan anak gadismu tuan Mischa " Aiden beranjak dari tempat duduknya.


" Cinta tidak mengenal kasta tuan, cinta adalah masalah hati....Jika anda masih berpikir kami memilih pendamping hidup kami berdasarkan hal bodoh itu, anda salah besar " Lanjut nya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan pria tua yang semakin merasa bersalah itu.


" Ya Tuhan....Maafkan aku..." Batin Mischa.


" Sebaiknya kita tinggalkan mereka sayang " Ucap Aiden setelah dia memasuki ruangan dimana Rubby dan sang istri juga calon besannya berada.


" Aiden aku sudah meminta ijin kepada nyonya Theresia agar kita membawa Rubby ke XXX besok, aku tidak bisa meninggalkan nya disini " Ucap Philip yang langsung di iyakan oleh wanita itu.

__ADS_1


" Itu ide bagus Phil, kau tak perlu khawatir meninggalkan dia saat kamu kembali bekerja nanti " Ucap Aiden, sambil mencium puncak kepala Jenna.


Theresia yang melihat pemandangan itu semakin yakin jika keputusannya tepat dengan mengijinkan Rubby untuk dibawa oleh mereka ke negara XXX besok pagi.


" Tidak apa-apa nak, ibu dan ayah akan baik-baik saja disini " Ucapnya kepada Rubby, saat gadis itu menatapnya haru.


" Nyonya Theresia, bolehkan aku meminta bantuan dari anda? " Tanya Aiden, sebenarnya sudah cukup lama pria ini memikirkan hal yang akan dia sampaikan kepada wanita itu saat ini.


" Bisakah anda menjaga toko coklat milik istriku bersama dengan suami anda?" Lanjutnya.


Selama ini Aiden memutar otaknya bagaimana menemukan seseorang yang bisa membuat permen coklat lezat itu, menggantikan posisi sang istri maupun Rubby agar toko coklat legendaris itu bisa tetap berjalan tanpa mereka disana.


Aiden pun harus menarik Paloma dan yang lainnya kembali ke mansionnya, dirinya yakin jika keputusannya untuk menyerahkan kembali toko coklat itu kepada orang tua Rubby adalah keputusan yang tepat.


Toh saat ini toko itu sudah berjalan semakin baik, penambahan karyawan pun sudah cukup banyak.


" Iya nyonya Theresia, Aiden benar " Sambung Jenna.


" Anda jangan khawatir, ini tidak gratis...Kita akan menjalankan usaha ini bersama " Kekeh Jenna, wanita ini yakin jika Aiden memberikan toko itu secara cuma-cuma maka Theresia akan langsung menolaknya.


" Baiklah Jenna, jika seperti itu maka aku akan menyetujui nya " Ucap Theresia lega.


" Satu hal lagi nyonya, tolong jaga villa kami selama kami di XXX, dan...anda boleh menempati nya untuk memudahkan anda merawat villa itu " Kilah Aiden


.


.


.


To be continue

__ADS_1


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah...


Happy reading πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜


__ADS_2